Selasa, 01 November 2011

Kemakmuran Sejati dalam Dunia Baru Allah

A scale balancing a Bible and money

Money and Morals—Can You Have Both?

True Prosperity
in God’s New World

DAVID,*  seorang suami dan ayah Kristen, pindah ke Amerika Serikat, dengan keyakinan bahwa dia melakukan hal yang benar. Meskipun tidak suka meninggalkan istri dan anak-anaknya, dia merasa yakin bahwa dia dapat membuat keluarganya menikmati kehidupan yang lebih baik jika saja dia memiliki lebih banyak uang. Maka, dia menerima undangan dari kerabatnya di New York dan kemudian mendapatkan pekerjaan di sana.

Seraya waktu berlalu, pandangan David yang optimistis itu mulai pudar. Semakin sedikit waktu digunakan untuk kegiatan rohani. Pada suatu ketika, dia hampir kehilangan iman akan Allah. Setelah terjerumus ke dalam godaan moral, barulah dia sadar akan keadaannya yang sesungguhnya. Karena terfokus pada kemakmuran materi, dia secara perlahan menjauh dari hal-hal yang paling penting baginya. Dia harus membuat perubahan.

Seperti David, setiap tahun banyak orang pindah dari negeri asal mereka yang miskin, dengan harapan akan memperbaiki keadaan ekonomi mereka. Namun, sering kali mereka justru menderita kerugian rohani yang parah. Beberapa orang mulai berpikir, ’Bisakah seorang hamba Allah menjadi kaya secara materi dan sekaligus juga kaya secara rohani? Para penulis dan penginjil yang populer mengatakan bahwa hal itu mungkin. Tetapi, seperti yang dialami David dan orang-orang lain, tidaklah mudah untuk memperoleh yang satu tanpa kehilangan yang lainnya.—Lukas 18:24.


Uang Itu Sendiri tidak Buruk

Memang, uang adalah temuan manusia. Seperti temuan lainnya, uang itu sendiri tidak buruk atau salah. Sebenarnya, uang tidak lebih dari sekadar alat tukar. Jadi, jika digunakan dengan sepatutnya, uang bisa bermanfaat. Misalnya, Alkitab mengakui bahwa ”uang adalah untuk perlindungan”, khususnya terhadap masalah yang terkait dengan kemiskinan. (Pengkhotbah 7:12) Tampaknya, setidaknya bagi beberapa orang, ”uang adalah jawaban untuk segala-galanya”.—Pengkhotbah 10:19, New International Version.

Alkitab mengecam kemalasan dan menganjurkan kerja keras. Kita harus memenuhi kebutuhan keluarga kita sendiri, dan jika ada sedikit kelebihan, kita memiliki ”sesuatu untuk dibagikan kepada orang yang membutuhkan”. (Efesus 4:28; 1 Timotius 5:8) Selain itu, Alkitab tidak menganjurkan penyangkalan diri, tetapi menganjurkan agar kita menikmati harta milik kita. Kita diberi tahu untuk ”mengambil bagian [kita]” dan menikmati hasil kerja kita. (Pengkhotbah 5:18-20) Sebenarnya, ada contoh-contoh dalam Alkitab tentang pria dan wanita setia yang kaya.


Orang yang Setia dan Kaya

Abraham, seorang hamba Allah yang setia, memiliki banyak sekali ternak, banyak perak dan emas, dan ratusan hamba. (Kejadian 12:5; 13:2, 6, 7) Ayub, orang yang adil-benar, juga memiliki banyak kekayaan—ternak, hamba, emas, dan perak. (Ayub 1:3; 42:11, 12) Orang-orang ini kaya bahkan menurut standar modern, namun mereka juga kaya terhadap Allah.

Job trusted in God,
not in his riches
Job and his family
Rasul Paulus menyebut Abraham sebagai ”bapak dari semua orang yang memiliki iman”. Abraham tidak pernah pelit ataupun terlalu terikat dengan apa yang dimilikinya. (Roma 4:11; Kejadian 13:9; 18:1-8) Demikian juga halnya dengan Ayub, yang Allah sendiri sebut ”tidak bercela dan lurus hati”. (Ayub 1:8) Dia selalu siap membantu orang yang miskin dan menderita. (Ayub 29:12-16) Baik Abraham maupun Ayub mengandalkan Allah, bukannya kekayaan mereka.—Kejadian 14:22-24; Ayub 1:21, 22; Roma 4:9-12.

Contoh lain lagi adalah Raja Salomo. Sebagai ahli waris takhta Allah di Yerusalem, Salomo diberkati bukan hanya dengan hikmat ilahi, melainkan juga dengan kekayaan dan kemuliaan yang limpah. (1 Raja 3:4-14) Dia setia hampir sepanjang hidupnya. Tetapi, pada usia tuanya ”hati [Salomo] tidak sepenuhnya terhadap Yehuwa”. (1 Raja 11:1-8) Sebenarnya, pengalamannya yang menyedihkan menggambarkan beberapa jerat yang umum dari kemakmuran materi. Pertimbangkan contoh-contoh berikut.


Jerat-Jerat Kemakmuran

Bahaya yang paling serius adalah cinta akan uang dan akan apa yang dapat dibelinya. Kekayaan menimbulkan dalam diri beberapa orang hasrat yang tidak terpuaskan. Pada awal pemerintahannya, Salomo mengamati kecenderungan ini dalam diri orang-orang. Ia menulis, ”Orang yang mencintai perak tidak akan dipuaskan dengan perak, demikian pula orang yang mencintai kekayaan tidak akan dipuaskan dengan penghasilan. Ini pun kesia-siaan.” (Pengkhotbah 5:10) Belakangan, baik Yesus maupun Paulus memperingatkan orang-orang Kristen terhadap jenis cinta yang memperdayakan ini.—Markus 4:18, 19; 2 Timotius 3:2.

Jika kita mengasihi uang lebih dari sekadar sarana untuk mendapatkan sesuatu, kita menjadi rentan terhadap segala macam godaan moral, termasuk dusta, pencurian, dan penipuan. Yudas Iskariot, seorang rasul Kristus, mengkhianati tuannya hanya untuk 30 keping perak. (Markus 14:11; Yohanes 12:6) Apabila cinta akan uang sudah keterlaluan, beberapa orang bahkan mengganti Allah dengan uang sebagai objek pengabdian mereka. (1 Timotius 6:10) Oleh karena itu, orang-orang Kristen harus selalu berupaya untuk jujur berkenaan dengan motif mereka yang sesungguhnya dalam memperoleh lebih banyak uang.—Ibrani 13:5.

Pengejaran kekayaan juga mendatangkan bahaya yang lebih halus. Pertama-tama, karena punya banyak kekayaan, orang cenderung mengandalkan diri sendiri. Inilah salah satu yang Yesus maksudkan pada waktu dia menyebut tentang ”tipu daya kekayaan”. (Matius 13:22) Penulis Alkitab Yakobus dengan cara yang sama juga mengingatkan orang-orang Kristen agar tidak melupakan Allah pada waktu membuat rencana-rencana bisnis. (Yakobus 4:13-16) Karena uang dapat memberi kita perasaan mandiri, orang yang memilikinya selalu berada dalam bahaya untuk mengandalkan uang mereka dan bukannya mengandalkan Allah.—Amsal 30:7-9; Kisah 8:18-24.

Kedua, sebagaimana dialami David yang disebutkan di awal, pengejaran kekayaan sering kali menguras begitu banyak waktu dan tenaga seseorang sehingga secara perlahan ia menjauh dari pengejaran rohani. (Lukas 12:13-21) Orang kaya juga terus ada dalam godaan untuk menggunakan apa yang mereka miliki terutama demi kesenangan atau kepentingan pribadi.

Dapatkah kejatuhan rohani Salomo sampai taraf tertentu disebabkan karena dia membiarkan kehidupan yang mewah menumpulkan perasaannya? (Lukas 21:34) Dia tahu bahwa Allah dengan tegas melarang ikatan pernikahan dengan bangsa asing. Namun, dia malah mengumpulkan kira-kira seribu wanita sebagai istri dan gundiknya. (Ulangan 7:3) Karena ingin menyenangkan istri-istri asingnya, dia berupaya mempraktekkan semacam agama paduan demi kepentingan mereka. Seperti sudah disebutkan sebelumnya, hati Salomo perlahan-lahan disimpangkan dari Yehuwa.

Contoh-contoh ini dengan jelas memperlihatkan kebenaran nasihat Yesus, ”Kamu tidak dapat bekerja bagaikan budak bagi Allah dan bagi Kekayaan.” (Matius 6:24) Kalau begitu, bagaimana seorang Kristen dapat berhasil mengatasi kesulitan ekonomi yang sedang dihadapi oleh kebanyakan orang dewasa ini? Yang lebih penting lagi, adakah harapan untuk kehidupan yang lebih baik di masa depan?


Kemakmuran Sejati di Masa Depan

Tidak seperti patriark Abraham dan Ayub serta bangsa Israel, para pengikut Yesus ditugasi untuk membuat ”orang-orang dari segala bangsa menjadi murid”. (Matius 28:19, 20) Guna melaksanakan tugas ini diperlukan waktu dan upaya yang sebenarnya bisa saja digunakan untuk pengejaran duniawi. Oleh karena itu, kunci keberhasilan bergantung pada melakukan apa yang diperintahkan Yesus, ”Maka, teruslah cari dahulu kerajaan dan keadilbenarannya, dan semua perkara itu akan ditambahkan kepadamu.”—Matius 6:33.

Setelah hampir kehilangan keluarga dan kerohaniannya, akhirnya David dapat kembali ke jalur yang benar. Seperti yang dijanjikan Yesus, pada waktu David kembali memprioritaskan pelajaran Alkitab, doa, dan pelayanan dalam hidupnya, hal-hal lain pun mulai berjalan dengan baik. Hubungannya dengan istri dan anak-anaknya secara perlahan pulih kembali. Dia merasakan lagi sukacita dan kepuasan. Dia masih bekerja keras. Kisah hidupnya bukanlah seperti kisah orang miskin yang menjadi kaya. Namun, dari pengalaman pahitnya dia mendapat pelajaran yang sangat berharga.

Kini, David memiliki pandangan lain tentang tujuan pindah ke Amerika Serikat, dan dia bertekad untuk tidak lagi membiarkan uang mempengaruhi keputusan-keputusannya. Sekarang, dia tahu bahwa hal yang paling berharga dalam kehidupannya—keluarga yang pengasih, sahabat-sahabat yang baik, dan hubungan yang baik dengan Allah—tidak dapat dibeli dengan uang. (Amsal 17:17; 24:27; Yesaya 55:1, 2) Sesungguhnya, integritas moral jauh lebih berharga daripada kekayaan materi. (Amsal 19:1; 22:1) Bersama keluarganya, David bertekad untuk memprioritaskan hal yang terpenting.—Filipi 1:10.

Upaya manusia untuk menciptakan masyarakat yang benar-benar makmur namun bermoral telah berulang kali gagal. Namun, Allah berjanji bahwa Kerajaan-Nya akan menyediakan kelimpahan materi dan rohani yang kita butuhkan agar dapat hidup bahagia. (Mazmur 72:16; Yesaya 65:21-23) Yesus mengajarkan bahwa kemakmuran sejati dimulai dengan kerohanian. (Matius 5:3) Jadi, tidak soal kita kaya atau miskin secara materi, memprioritaskan hal-hal rohani sekarang merupakan cara yang terbaik bagi kita masing-masing untuk bersiap-siap memasuki dunia baru Allah yang sudah dekat. (1 Timotius 6:17-19) Dunia baru tersebut akan benar-benar merupakan masyarakat yang makmur baik secara materi maupun rohani.
nlike the patriarchs Abraham and Job and the nation of Israel, the followers of Jesus have the commission to “make disciples of people of all the nations.” (Matthew 28:19, 20) Fulfilling that commission requires time and effort that might otherwise be used in secular pursuits. The key to success, therefore, lies in doing what Jesus told us to do: “Keep on, then, seeking first [God’s] kingdom and his righteousness, and all these other things will be added to you.”—Matthew 6:33.
After nearly losing his family and his spirituality, David finally got his life back on track. As Jesus promised, when David again started to give Bible study, prayer, and the ministry priority in his life, other things began to fall into place. His relationship with his wife and children was gradually restored. His joy and contentment returned. He still works hard. His is no rags to riches story. Still, from his painful experience, he learned some valuable lessons.
David has had second thoughts about the wisdom of moving to the United States, and he has resolved never again to let money dominate his decisions. He now knows that the most valuable things in life—a loving family, good friends, and a relationship with God—cannot be obtained with money. (Proverbs 17:1724:27Isaiah 55:1, 2) Indeed, moral integrity is far more valuable than material riches. (Proverbs 19:122:1) Together with his family, David is determined to keep first things first.—Philippians 1:10.
Human efforts to build a truly prosperous yet moral society have repeatedly failed. However, God has promised that his Kingdom will provide an abundance of the material and spiritual things that we need in order to live well. (Psalm 72:16Isaiah 65:21-23) Jesus taught that true prosperity begins with spirituality. (Matthew 5:3) So whether we are materially rich or poor, giving priority to spiritual things now is the best way any of us can prepare for God’s new world just ahead. (1 Timothy 6:17-19) That world will be a truly prosperous society both materially and spiritually.

*  The name has been changed.
The most valuable things in life cannot be obtained with money
1. Friends enjoying a social gathering; 2. A father reading Bible stories to his young daughter
Appeared in The Watchtower  February 1, 2006

Rabu, 01 Juni 2011

Alasan Mengapa Begitu Mudah untuk Berdusta

Dusta dimulai ketika malaikat yang memberontak berdusta kepada wanita pertama, mengatakan kepadanya bahwa ia tidak akan mati jika ia tidak menaati Penciptanya. Hal itu mengakibatkan kerugian yang tak ternilai bagi segenap umat manusia, membawa ketidaksempurnaan, penyakit dan kematian bagi semua orang.—Kejadian 3:1-4; Roma 5:12.

Sejak Adam dan Hawa tidak taat, pengaruh buruk dari bapa segala dusta ini telah menciptakan suatu suasana dalam dunia umat manusia yang menganjurkan dusta. (Yohanes 8:44) Itu merupakan suatu dunia yang bobrok, tempat kebenaran hanya menjadi sesuatu yang sifatnya relatif. The Saturday Evening Post bulan September 1986 mengamati bahwa masalah berdusta telah ”mempengaruhi bisnis, pemerintahan, pendidikan, hiburan, dan hubungan antara sesama warga negara dan tetangga dalam kehidupan sehari-hari. . . . Kita telah menerima teori relativisme, suatu dusta tunggal yang besar yang mengatakan bahwa tidak ada kebenaran mutlak”.


Demikianlah pandangan orang-orang yang mempunyai kebiasaan berdusta, yang tidak memiliki empati terhadap orang-orang yang mereka tipu. Berdusta begitu mudah bagi mereka. Itu menjadi cara hidup mereka. Tetapi orang-orang lain yang tidak memiliki kebiasaan berdusta mungkin akan berdusta tanpa ragu-ragu karena takut—takut ketahuan, takut dihukum, dan seterusnya. Itu merupakan kelemahan dari tubuh yang tidak sempurna. Bagaimana kecenderungan ini dapat diganti dengan tekad untuk mengatakan kebenaran?
 

Mengapa Berlaku Jujur?
Kejujuran merupakan standar yang telah ditetapkan oleh Pencipta agung kita bagi semua. Firman-Nya yang tertulis, Alkitab, menyatakan di Ibrani 6:18 bahwa ”Allah tidak mungkin berdusta”. Standar yang sama ini dijunjung tinggi oleh Putra-Nya, Kristus Yesus, yang adalah wakil pribadi Allah di bumi. Kepada para pemimpin agama Yahudi yang ingin membunuhnya, Yesus berkata, ”Yang kamu kerjakan ialah berusaha membunuh Aku; Aku, seorang yang mengatakan kebenaran kepadamu, yaitu kebenaran yang Kudengar dari Allah; . . . Dan jika Aku berkata: Aku tidak mengenal Dia, maka Aku adalah pendusta, sama seperti kamu.” (Yohanes 8:40, 55) Ia menjadi contoh bagi kita dalam hal ”Ia tidak berbuat dosa, dan tipu tidak ada dalam mulutNya.”—1 Petrus 2:21, 22.
 

Pencipta kita, yang bernama Yehuwa, membenci dusta, sebagaimana Amsal 6:16-19 dengan jelas menyatakan, ”Enam perkara ini yang dibenci [Yehuwa], bahkan, tujuh perkara yang menjadi kekejian bagi hatiNya: mata sombong, lidah dusta, tangan yang menumpahkan darah orang yang tidak bersalah, hati yang membuat rencana-rencana yang jahat, kaki yang segera lari menuju kejahatan, seorang saksi dusta yang menyembur-nyemburkan kebohongan dan yang menimbulkan pertengkaran saudara.”

Allah yang jujur ini menuntut kita untuk hidup menurut standar-standar-Nya agar dapat memperoleh perkenan-Nya. Firman-Nya yang terilham memerintahkan kita, ”Jangan lagi kamu saling mendustai, karena kamu telah menanggalkan manusia lama serta kelakuannya.” (Kolose 3:9) Orang-orang yang tidak mau menghentikan praktik berdusta tidak akan diperkenan oleh-Nya; mereka tidak akan menerima karunia kehidupan dari-Nya. Malahan, Mazmur 5:7 berkata sesungguhnya bahwa Allah akan ”membinasakan orang-orang yang berkata bohong”. Wahyu 21:8 selanjutnya berkata bahwa bagian dari ”semua pendusta” adalah ’kematian kedua’, yaitu kematian kekal. Maka, menerima pandangan Allah tentang berdusta memberi kita alasan yang kuat untuk berbicara kebenaran.


Tetapi apa yang harus dilakukan dalam suatu keadaan apabila berkata kebenaran mungkin akan menimbulkan situasi yang memalukan atau perasaan tidak enak? Berdusta tidak pernah merupakan jalan keluarnya, tetapi berdiam diri kadang-kadang dapat. Untuk apa berkata dusta yang hanya dapat merusak nama baik saudara dan membuat saudara tidak memperoleh perkenan ilahi?


Karena perasaan takut dan karena kelemahan manusia, seseorang mungkin akan tergoda untuk mencari perlindungan dengan berdusta. Itu merupakan haluan yang paling mudah diambil atau merupakan kebaikan yang salah tempat. Rasul Petrus menyerah ke dalam godaan demikian ketika ia tiga kali menyangkal bahwa ia mengenal Kristus Yesus. Setelah itu, ia merasa sangat sedih karena telah berdusta. (Lukas 22:54-62) Pertobatannya yang tulus menggerakkan Allah untuk mengampuninya, yang dibuktikan dengan berkat yang kelak diterimanya berupa berbagai hak istimewa dalam dinas. Pertobatan dengan tekad untuk berhenti berdusta merupakan haluan yang membawa pengampunan ilahi karena melakukan apa yang Allah benci.
 

Tetapi, daripada meminta pengampunan setelah berdusta, peliharalah hubungan yang baik dengan Pencipta saudara dan pertahankan nama baik saudara dengan orang-orang lain dengan mengatakan kebenaran. Ingat apa yang Mazmur 15:1, 2 katakan, ”[Yehuwa], siapa yang boleh menumpang dalam kemahMu? Siapa yang boleh diam di gunungMu yang kudus? Yaitu dia yang berlaku tidak bercela, yang melakukan apa yang adil dan yang mengatakan kebenaran dengan segenap hatinya.”
Nara sumber parafrase w92 15/12

Sabtu, 16 April 2011

Sejarah Panjang Kekerasan

Topik Sebelumnya.

Kekerasan memiliki sejarah yang panjang. Tindak kekerasan fisik pertama oleh manusia yang dicatat dalam Alkitab diuraikan di Kejadian 4:2-15. Kain, putra sulung Adam dan Hawa, menjadi cemburu kepada saudaranya, Habel, dan membunuhnya dengan darah dingin. Bagaimana reaksi Allah? Alkitab menjelaskan bahwa Allah Yehuwa menghukum Kain dengan berat karena merenggut nyawa adiknya.

Di Kejadian 6:11, kita membaca bahwa lebih dari 1.500 tahun setelah insiden itu, ”bumi penuh dengan kekerasan”. Sekali lagi, apa reaksi Allah? Ia memerintahi Nuh yang adil-benar untuk membangun sebuah bahtera yang akan menyelamatkan dia dan keluarganya sementara Yehuwa mendatangkan air bah ke atas bumi, dengan demikian ”membinasakan” masyarakat yang penuh dengan kekerasan itu. (Kejadian 6:12-14, 17) Tetapi, apa yang menyebabkan masyarakat tersebut sangat cenderung kepada kekerasan?

Pengaruh Hantu-Hantu

Kisah dalam buku Kejadian menyingkapkan bahwa putra-putra Allah, para malaikat yang tidak taat, menjelma menjadi manusia, menikahi para wanita, dan menghasilkan keturunan. (Kejadian 6:1-4) Keturunan mereka, yang dikenal sebagai kaum Nefilim, adalah pria-pria yang berperawakan luar biasa besar dan termasyhur. Di bawah pengaruh bapak-bapak hantu mereka, mereka menjadi penindas yang bengis. Sewaktu luapan air meninggi dan menutupi bumi, para penindas yang fasik ini pun binasa. Tetapi, para hantu tampaknya berubah ke bentuk semula dan kembali ke alam roh.

Alkitab membuat jelas bahwa sejak saat itu, para malaikat yang memberontak itu melancarkan suatu pengaruh kuat atas umat manusia. (Efesus 6:12) Pemimpin mereka, Setan, disebut ”pembunuh manusia” sejak semula. (Yohanes 8:44) Oleh karena itu, kekerasan yang terjadi di atas bumi dapat dengan tepat disebut bersifat hantu-hantu, atau bersifat setan.

Alkitab memperingatkan tentang daya pikat kekerasan. Di Amsal 16:29, dinyatakan, ”Orang yang menyukai kekerasan akan membujuk kawannya, dan pasti menyebabkan dia pergi ke jalan yang tidak baik.” Banyak orang dewasa ini telah terpikat untuk menyetujui, mendukung, atau melakukan tindak kekerasan. Jutaan orang juga telah dipikat untuk menikmati hiburan yang mengagung-agungkan kekerasan. Kata-kata di Mazmur 73:6 dapat secara akurat digunakan untuk menggambarkan generasi dewasa ini. Sang pemazmur mengatakan, ”Keangkuhan menjadi seperti kalung bagi mereka; tindak kekerasan menyelimuti mereka seperti pakaian.”

Allah Membenci Kekerasan

Bagaimana seharusnya orang Kristen membawakan diri mereka dalam dunia yang penuh dengan kekerasan ini? Kisah Alkitab tentang putra-putra Yakub, Simeon dan Lewi, memberi kita bimbingan yang masuk akal. Saudara perempuan mereka, Dina, bergaul dengan orang-orang Syikhem yang amoral. Hal ini mengakibatkan dia dinodai secara seksual oleh seorang Syikhem. Dalam pembalasan dendam, Simeon dan Lewi tanpa belas kasihan membantai semua pria Syikhem. Belakangan, di bawah ilham ilahi, Yakub mengutuk kemarahan putra-putranya yang tidak terkendali dengan kata-kata, ”Simeon dan Lewi bersaudara. Alat kekerasan adalah senjata pembantai mereka. Jangan datang kepada kelompok mereka yang akrab, oh, jiwaku. Jangan bersatu dengan kumpulan mereka.”—Kejadian 49:5, 6.

Selaras dengan kata-kata ini, orang Kristen menghindari pergaulan dengan orang-orang yang menganjurkan atau melakukan tindak kekerasan. Jelaslah, Allah membenci orang-orang yang menganjurkan kekerasan. Alkitab menyatakan, ”Yehuwa memeriksa orang adil-benar maupun orang fasik, dan jiwa-Nya pasti membenci siapa pun yang mengasihi kekerasan.” (Mazmur 11:5) Orang Kristen dinasihati agar menghindari semua bentuk kemarahan yang tak terkendali, bahkan caci maki.—Galatia 5:19-21; Efesus 4:31.

Apakah Kekerasan Akan Berakhir?

Dahulu, nabi Habakuk bertanya kepada Allah Yehuwa, ”Berapa lama aku harus berseru meminta bantuan kepadamu untuk menghadapi kekerasan.” (Habakuk 1:2) Mungkin Anda punya pertanyaan serupa. Allah menjawab Habakuk, berjanji untuk menyingkirkan ”orang fasik”. (Habakuk 3:13) Buku Yesaya yang bersifat nubuat juga menyediakan harapan. Di sana Allah berjanji, ”Tidak akan terdengar lagi tentang kekerasan, penjarahan atau kehancuran dalam batas-batas daerahmu.”—Yesaya 60:18.

Saksi-Saksi Yehuwa yakin bahwa Allah sesegera mungkin akan menyingkirkan dari bumi semua bentuk tindak kekerasan dan orang-orang yang mendukungnya. Pada saat itu, sebaliknya daripada dipenuhi dengan kekerasan, ”bumi akan dipenuhi dengan pengetahuan akan kemuliaan Yehuwa seperti air menutupi laut”.—Habakuk 2:14. Parafrasa untuk personal blog e-library © 2011 g 8/8 2002


Sabtu, 05 Maret 2011

Ketika Kuman Tidak Akan Membahayakan Siapa Pun


KUMAN, atau mikroorganisme, sangat penting untuk kehidupan. Kuman membentuk sebagian besar tanah bumi dan tubuh kita. Sebagaimana yang dinyatakan di kotak ”Jenis Kuman” pada halaman 7, ”ada triliunan bakteri yang mendiami tubuh kita”. Sebagian besar kuman itu bermanfaat—bahkan vital—untuk kesehatan. Kendati hanya relatif sedikit kuman yang menyebabkan penyakit, kita dapat yakin bahwa, pada waktunya, tidak ada kuman yang akan membahayakan siapa pun.

Sebelum kita mengulas sarana yang akan melenyapkan semua pengaruh yang membahayakan dari kuman, mari kita perhatikan upaya-upaya terkini untuk memerangi kuman penyebab penyakit. Selain memeriksa kotak sisipan ”Apa yang Dapat Anda Lakukan”, perhatikan upaya para pakar kesehatan untuk memerangi kuman-kuman kebal.

Strategi Global

Dokter Gro Harlem Brundtland, mantan direktur jenderal Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), menguraikan upaya yang sedang dibuat. Dalam Report on Infectious Diseases 2000 di bawah judul ”Menanggulangi Kekebalan terhadap Antimikroba”, ia menunjukkan perlunya mengembangkan ”suatu strategi global untuk mengendalikan kekebalan” kuman. Ia juga membahas tentang pembentukan ”aliansi yang melibatkan semua penyedia jasa kesehatan”, dan menandaskan, ”Kita punya kesempatan untuk melancarkan upaya besar-besaran melawan penyakit menular.”

Pada tahun 2001, WHO mengusulkan ”Strategi Global untuk Pengendalian Kekebalan terhadap Antimikroba”. Dokumen ini menyajikan suatu rencana yang ditujukan kepada para penyedia jasa kesehatan dan masyarakat luas sehubungan dengan ”apa yang hendak dilakukan dan bagaimana melakukannya”. Strategi itu mencakup mendidik masyarakat tentang bagaimana menghindari penyakit, termasuk menyediakan instruksi kepada mereka tentang cara menggunakan antibiotik dan antimikroba lainnya apabila mereka sampai terinfeksi.

Selain itu, para pekerja kesehatan—dokter dan perawat serta orang-orang lain yang bekerja di rumah sakit dan panti werda—didesak untuk mengambil tindakan pencegahan guna menghindari penyebaran infeksi. Sayangnya, penelitian telah mengungkapkan bahwa banyak pakar kesehatan masih lalai mencuci tangan mereka atau mengganti sarung tangan sewaktu berganti pasien.

Survei juga telah memperlihatkan bahwa para dokter meresepkan antibiotik yang seharusnya tidak diperlukan. Salah satu alasannya ialah orang-orang mendesak dokter mereka untuk memberikan antibiotik agar cepat sembuh. Maka, dokter menurut saja, sekadar untuk menyenangkan pasien. Sering kali, dokter tidak meluangkan waktu untuk mendidik pasien mereka atau tidak mempunyai sarana untuk mengidentifikasi kuman yang menginfeksi. Selain itu, mereka mungkin meresepkan antibiotik berspektrum luas yang lebih baru, tetapi lebih mahal. Dan, hal ini juga turut menyebabkan problem kebal obat.

Bidang lain yang disoroti dalam Strategi Global WHO adalah rumah sakit, sistem kesehatan nasional, produsen makanan, perusahaan farmasi, dan badan legislatif. Laporan itu menganjurkan kerja sama di antara mereka semua guna memerangi ancaman global berupa kuman-kuman kebal obat. Tetapi, apakah program demikian akan berhasil?

Kendala Terhadap Keberhasilan

Strategi Global WHO menyinggung kendala utama untuk memecahkan problem kesehatan. Kendalanya ialah motif keuntungan—uang. Alkitab mengatakan bahwa cinta akan uang bertanggung jawab terhadap ”segala macam perkara yang mencelakakan”. (1 Timotius 6:9, 10) WHO mendesak, ”Interaksi dengan industri farmasi harus diperhatikan juga, termasuk kontrol yang sepatutnya terhadap akses wakil penjualan kepada pegawai klinik dan memonitor program pendidikan untuk para penyedia jasa kesehatan yang disponsori industri farmasi.”

Perusahaan obat telah secara agresif menyajikan produk mereka kepada para dokter. Sekarang, mereka melakukannya langsung kepada publik melalui iklan TV. Tampaknya, hal ini turut menyebabkan penggunaan obat secara berlebihan, yang selanjutnya menjadi faktor utama maraknya kuman yang kebal obat.

Dalam bab tentang penggunaan antimikroba pada hewan potong, Strategi Global WHO menyatakan, ”Para dokter hewan di beberapa negeri meraup sampai 40% atau lebih dari pendapatan mereka melalui penjualan obat, maka ada hambatan untuk membatasi penggunaan antimikroba.” Sebagaimana yang terdokumentasikan, kuman-kuman kebal telah muncul dan tumbuh subur karena penggunaan antibiotik yang berlebihan.

Sebenarnya, produksi antibiotik memperangahkan. Di Amerika Serikat saja, kira-kira 20 juta kilogram antibiotik diproduksi setiap tahun! Dari total produksi dunia, hanya sekitar setengahnya yang digunakan manusia. Sisanya disemprotkan pada tanaman atau dijadikan pakan hewan. Antibiotik biasanya dicampur dengan pakan untuk hewan potong guna mempercepat pertumbuhan mereka.

Peranan Pemerintah

Sungguh menarik, Ringkasan Eksekutif Strategi Global WHO menyatakan, ”Sebagian besar tanggung jawab untuk mengimplementasi strategi ini akan diemban oleh tiap-tiap negeri. Pemerintah memiliki peranan penting untuk dijalankan.”

Sesungguhnya, sejumlah pemerintah telah mengembangkan program-program untuk mengendalikan kekebalan terhadap antimikroba, dengan menandaskan kolaborasi di dalam dan di luar batas-batas nasional mereka. Program itu mencakup pemantauan yang lebih baik atas penggunaan antimikroba dan mikroba kebal, pengendalian infeksi yang lebih baik, penggunaan antimikroba secara tepat dalam obat-obatan dan pertanian, penelitian untuk memahami kekebalan, dan pengembangan obat-obatan baru. Report on Infectious Diseases 2000 dari WHO tidak bernada optimis. Mengapa?

Laporan itu menyebutkan ”kurangnya kemauan politis di pihak pemerintah yang prioritasnya mungkin bukan pada kesehatan masyarakat”. Laporan itu menambahkan, ”Penyakit—demikian pula kekebalan—juga tumbuh subur dalam kondisi pergolakan sipil, kemiskinan, migrasi massal, dan degradasi lingkungan tempat sejumlah besar orang terancam penyakit menular.” Sayang sekali, semua ini adalah problem yang tidak pernah sanggup dituntaskan oleh pemerintahan manusia.

Akan tetapi, Alkitab memberi tahu tentang sebuah pemerintahan yang tidak hanya akan menuntaskan problem penyebab penyakit tetapi juga melenyapkan penyakit secara keseluruhan. Anda mungkin berpikir bahwa beberapa kuman akan selalu membahayakan, tetapi ada alasan bagus untuk percaya bahwa keadaannya akan jauh lebih baik di masa depan.



Appeared in Awake! October 22, 2003


Selasa, 22 Februari 2011

Caranya Menemukan Kasih Sejati

What Has Happened to Love?

A bouquet of flowers
A bouquet of flowers

Caranya Menemukan Kasih Sejati

A bouquet of flowers

Apa yang dapat Anda lakukan agar dikasihi dan menjadi lebih mudah dikasihi, dan bukan hanya dalam hubungan romantis? Apakah dengan menjadi kaya? Memperbaiki penampilan?

BAIK pria maupun wanita, karena termakan iklan dan terpengaruh media, sering menganggap bahwa hal-hal itulah jalan keluarnya. Tentu, wajar-wajar saja apabila kita memperhatikan penampilan, tetapi kecantikan—yang paling-paling hanya sementara—bukan pengikat untuk hubungan yang langgeng. Kekayaan pun bukan. Yang benar-benar membantu adalah memperlihatkan kasih yang tidak mementingkan diri. ”Praktekkanlah hal memberi, dan kamu akan diberi,” demikian ajaran Yesus. (Lukas 6:38) Singkatnya: Jika ingin dikasihi, perlihatkanlah kasih.

Bagaimana caranya? Di bawah bimbingan roh kudus Allah, rasul Paulus menulis jawaban pertanyaan tersebut. Ia menyingkapkan bahwa kasih itu dinamis, tidak ditentukan oleh emosi, tetapi khususnya oleh apa yang dilakukan dan tidak dilakukan bagi orang lain. Perhatikan kata-kata Paulus, ”Kasih itu panjang sabar dan baik hati. Kasih tidak cemburu, tidak membual, tidak menjadi besar kepala, tidak berlaku tidak sopan, tidak memperhatikan kepentingan diri sendiri, tidak terpancing menjadi marah. Kasih tidak mencatat kerugian. Kasih tidak bersukacita karena ketidakadilbenaran, tetapi bersukacita karena kebenaran. Kasih menanggung segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mempunyai harapan akan segala sesuatu, bertekun menanggung segala sesuatu.”—1 Korintus 13:4-7.

Bagaimana perasaan Anda apabila ada orang yang ramah kepada Anda atau apabila ia menerima Anda meskipun Anda mungkin mengatakan atau melakukan hal-hal kecil yang menjengkelkan? Tidakkah Anda tertarik kepada orang yang dengan tulus memedulikan Anda, yang tidak gampang marah, mudah mengampuni dan selalu berkata benar sekalipun dalam situasi ketika pengampunan dan kejujuran tidaklah mudah?

“Lebih bahagia memberi daripada menerima.”—Acts 20:35

Maka, berbuatlah demikian terhadap orang lain. Yesus mengatakan, ”Karena itu, segala sesuatu yang kamu ingin orang lakukan kepadamu, demikian juga harus kamu lakukan kepada mereka.” (Matius 7:12) Tidaklah selalu mudah untuk memperlihatkan kasih, tetapi upaya Anda tidak akan sia-sia. Salah satu manfaatnya, Anda akan lebih dikasihi oleh keluarga, sahabat, teman hidup, atau calon teman hidup. Selain itu, Anda akan merasa bahagia karena melakukan hal yang benar, karena memberi diri Anda untuk orang lain. Ya, ”lebih bahagia memberi daripada menerima”.—Kisah 20:35.

A young woman showing kindness to an older couple

Jika ingin dikasihi, perlihatkanlah kasih

Belajar Kasih dari Pribadi yang Paling Tahu

Yehuwa adalah Allah kasih, pribadi yang paling tahu soal kasih. (1 Yohanes 4:8) Kasih-Nya menggerakkan Dia untuk mengajarkan sifat ini kepada semua yang mau belajar. Perhatikan beberapa contoh prinsip Alkitab yang akan membantu kita mengasihi dan dikasihi.

”Cepat mendengar, lambat berbicara.” (Yakobus 1:19) Menurut sebuah survei atas lebih dari 20.000 pasangan, orang yang paling bahagia adalah orang yang teman hidupnya adalah pendengar yang baik. Komunikasi yang baik sangat penting dalam suatu hubungan. Seorang profesor di bidang sosiologi menulis, ”Anda akan merasa kesepian dalam suatu hubungan jika Anda ditemani seseorang yang sama sekali tidak tahu apa yang sedang Anda alami. Atau lebih parah lagi, seseorang yang tahu apa yang Anda alami tetapi yang tidak dapat memahami mengapa kesedihan Anda itu merupakan masalah serius bagi Anda.” Ia menambahkan bahwa sekalipun dua orang memiliki berbagai perbedaan, ”jika salah satu pihak peka terhadap cara pandang Anda dan cara Anda dipengaruhi oleh berbagai pengalaman dalam hidup, maka perbedaan-perbedaan itu pun menjadi tidak penting”.

”Hanya ada tempat yang sempit dalam diri kamu sehubungan dengan kasih sayang yang lembut. . . . Bukalah dirimu lebar-lebar.” (2 Korintus 6:12, 13) Banyak manfaatnya apabila kita membuka diri lebar-lebar untuk mengasihi orang lain. Sebuah publikasi dari Fakultas Kedokteran Harvard menyatakan, ”Banyak penelitian telah membuktikan bahwa orang yang menikmati dukungan sosial—yakni hubungan yang menyenangkan bersama keluarga, teman, dan masyarakat—akan lebih bahagia, lebih sehat, dan lebih panjang umur.”

”Biarlah kita memperhatikan satu sama lain untuk saling menggerakkan kepada kasih dan perbuatan yang baik.” (Ibrani 10:24, 25) Kita dipengaruhi oleh teman-teman kita. Dengan bergaul bersama orang-orang yang memperlihatkan kasih Kristen yang tulus, Anda bisa secara langsung merasakan sifat ini dan belajar caranya memperlihatkan kasih dalam kehidupan Anda. Saksi-Saksi Yehuwa berupaya memperlihatkan kasih demikian di antara mereka, karena tahu bahwa itulah tanda pengenal murid-murid Yesus yang sejati. (Yohanes 13:35) Anda dengan hangat diundang untuk menghadiri pertemuan Kristen mereka.

Jika Anda merasa tidak dikasihi, jangan berkecil hati atau terlalu keras menyalahkan diri. Ingatlah bahwa Yehuwa memperhatikan keadaan Anda. Apakah Anda ingat Lea, yang disebutkan dalam artikel pertama dalam seri ini? Yehuwa memperhatikan keadaannya, dan dia pun dikaruniai enam putra dan satu putri—suatu berkat limpah pada zaman ketika anak-anak dianggap sebagai aset yang sangat berharga! Selain itu, semua putra Lea menjadi leluhur suku-suku di Israel. (Kejadian 29:30-35; 30:16-21) Lea tentu merasa amat terhibur karena perhatian Allah yang pengasih!

Dalam dunia baru yang dijanjikan Alkitab, tak seorang pun akan merasa tidak dikasihi. Sebaliknya, kasih sejati akan meliputi seluruh masyarakat manusia. (Yesaya 11:9; 1 Yohanes 4:7-12) Maka, mari kita sekarang menunjukkan bahwa kita ingin berada di sana dengan mengembangkan kasih yang diajarkan dalam Alkitab dan yang telah dipertunjukkan oleh Pengarangnya. Ya, kita menikmati sukacita sejati bukan hanya karena dikasihi, melainkan juga karena memperlihatkan kasih yang tidak mementingkan diri kepada orang lain.—Matius 5:46-48; 1 Petrus 1:22.

Appeared in Awake! March 2006


Selasa, 15 Februari 2011

Bantulah Anak-Anak Anda Bertumbuh Sejahtera

Artikel dan Format; Ilustrasi dari Situs Web Resmi Saksi-Saksi Yehuwa

AWAL ARTIKEL

Penemuan ini hanyalah sedikit gambaran akan kebenaran yang ditulis hampir 2.000 tahun yang lalu, ”Kamu bapak-bapak, janganlah membuat anak-anakmu kesal, agar mereka tidak menjadi patah semangat.” (Kolose 3:21) Pastilah, penganiayaan secara lisan dan emosi dari orang-tua mengesalkan anak-anak dan benar-benar dapat mengakibatkan mereka patah semangat.

Menurut buku Growing Up Sad, belum lama berselang para dokter berpendapat bahwa yang namanya depresi masa kanak-kanak itu tidak ada. Tetapi waktu dan pengalaman membuktikan sebaliknya. Dewasa ini, sumber-sumber menegaskan, depresi masa kanak-kanak diakui keberadaannya dan sama sekali bukan sesuatu yang ganjil. Penyebabnya antara lain adalah penolakan dan perlakuan yang buruk dari orang-tua. Sumber-sumber menjelaskan, ”Dalam beberapa kasus, orang-tua terus-menerus mengkritik dan merendahkan sang anak. Dalam kasus lain, ini hanyalah kekosongan hubungan antara orang-tua dan anak; kasih orang-tua akan si anak tidak pernah dinyatakan. . . . Akibatnya adalah teristimewa tragis pada anak-anak dari orang-tua semacam itu karena bagi seorang anak—dan juga bagi orang dewasa—kasih bagaikan sinar matahari dan air bagi suatu tanaman.”

Melalui kasih orang-tua, jika dinyatakan dengan jelas dan terbuka, anak-anak mempelajari kebenaran yang penting: Anak-anak pantas dikasihi; mereka punya martabat. Banyak orang secara keliru memandang konsep tersebut sebagai bentuk kesombongan, kasih akan diri sendiri melebihi orang lain. Tetapi dalam konteks ini, bukan itu maksudnya. Seorang penulis mengatakan dalam bukunya yang mengulas subjek ini, ”Opini anak Anda akan dirinya sendiri mempengaruhi cara ia memilih teman, cara ia bergaul dengan orang lain, orang macam apa yang ia nika

hi, dan seberapa produktif jadinya ia.” Alkitab mengakui betapa pentingnya memiliki pandangan yang seimbang dan tidak mementingkan diri sewaktu ia menyebutkan perintah terbesar yang kedua, ”Engkau harus mengasihi sesamamu seperti dirimu sendiri.”Matius 22:38, 39.

Sulit dibayangkan bila orang-tua yang normal hendak menghancurkan sesuatu yang sedemikian penting dan rentan seperti harga diri seorang anak. Jadi, mengapa hal itu sering kali terjadi? Dan bagaimana itu dapat dicegah?


Orang-tua di Bawah Tekanan

ORANG-TUA yang baru mendapat anak sering kali tampak sangat antusias. Mereka sangat berminat akan hampir segala sesuatu yang berhubungan dengan bayi mereka. Senyuman pertama, kata pertama, dan langkah pertama sang bayi dianggap peristiwa yang penting. Dengan bersemangat mereka menghujani teman dan sanak saudara dengan cerita dan foto. Tidak diragukan, mereka mengasihi anak mereka.

Namun, dalam beberapa keluarga, tragedi berkembang seraya tahun-tahun berlalu. Kata-kata yang pengasih dari orang-tua berganti dengan kata-kata yang kasar dan kejam; dekapan yang penuh kasih sayang berganti dengan pukulan kemarahan atau tidak ada sentuhan sama sekali; rasa bangga orang-tua berganti dengan kepahitan. ”Seharusnya saya tidak usah punya anak,” kata banyak orang-tua. Dalam keluarga lain, problemnya bahkan lebih buruk—orang-tua tidak memperlihatkan kasih bahkan sewaktu si anak masih bayi! Apa pun kasusnya, apa yang terjadi? Mengapa tidak ada kasih?

Tentu saja, anak-anak tidak dapat menemukan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan semacam ini. Tetapi itu tidak akan menghentikan mereka dari membuat kesimpulan sendiri. Jauh di lubuk hati, seorang anak mungkin menyimpulkan, ’Jika Mama atau Papa tidak mengasihi saya, pasti ada yang tidak beres dengan saya.

Pasti saya sangat nakal.’ Ini dapat menjadi keyakinan yang berurat-berakar—yang dapat menyebabkan segala jenis kerusakan sepanjang hidupnya.

Namun, kenyataannya adalah bahwa orang-tua boleh jadi gagal untuk memperlihatkan kepada anak-anak, kasih yang mereka butuhkan karena beraneka ragam alasan. Harus diakui bahwa orang-tua dewasa ini menghadapi tekanan yang luar biasa besar, beberapa dari antaranya dalam skala yang tidak pernah terjadi sebelumnya. Bagi orang-tua yang tidak siap menghadapinya dengan tepat, tekanan ini dapat membawa dampak buruk atas kesanggupan mereka sebagai orang-tua.

Sebuah pepatah kuno yang berhikmat menyatakan, ”Pemerasan [”penindasan”, NW] membodohkan orang berhikmat.”—Pengkhotbah 7:7.

Masa Kritis yang Sulit Dihadapi”

Era Utopia. Itulah yang diharapkan orang-orang untuk berkembang dalam abad ini. Bayangkan—tidak ada lagi tekanan ekonomi, kelaparan, kemarau, peperangan! Tetapi harapan semacam itu tak kunjung tergenap. Sebaliknya, dunia dewasa ini malah menjadi sebagaimana yang dinubuatkan oleh seorang penulis Alkitab pada abad pertama Masehi. Ia menulis bahwa pada zaman kita, kita akan menghadapi ”masa kritis yang sulit dihadapi”. (2 Timotius 3:1-5) Kebanyakan orang-tua pasti setuju akan kata-kata itu.

Banyak orang-tua yang baru mendapat anak sering kali terperangah melihat betapa tingginya biaya membesarkan anak dalam dunia dewasa ini. Sering kali, kedua orang-tua harus bekerja di luar rumah hanya untuk mencukupi kebutuhan pokok. Biaya pengobatan, sandang, sekolah, perawatan sehari-hari, dan bahkan pangan serta papan semuanya turut menyumbang pada gelombang tagihan setiap bulan yang mengakibatkan banyak orang-tua merasa kewalahan. Situasi ekonomi ini mengingatkan para pelajar Alkitab akan nubuat dalam Penyingkapan yang memberitahukan di muka akan saat manakala orang-orang akan menghabiskan upah sehari penuh hanya untuk membeli kebutuhan hidup satu hari saja!—Penyingkapan (Wahyu) 6:6.

Anak-anak tidak dapat diharapkan untuk memahami semua tekanan yang dihadapi orang-tua mereka. Tidak, karena pada dasarnya, anak-anak selalu berkekurangan, lapar akan kasih dan perhatian. Dan tekanan yang diserap oleh mereka dari media massa serta teman-teman sekolah yang memiliki mainan, pakaian, dan barang elektronik paling mutakhir sering kali menyebabkan mereka menekan orang-tua untuk menyediakan apa yang mereka inginkan, dan ini terus bertambah.

Tekanan lain atas orang-tua, yang tampaknya semakin memburuk dewasa ini, adalah sikap memberontak. Menarik, Alkitab menubuatkan meluasnya ketidaktaatan anak-anak terhadap orang-tua sebagai indikasi lain akan zaman kita yang menggelisahkan. (2 Timotius 3:2) Memang, problem disiplin anak bukan sesuatu yang baru. Dan tidak ada orang-tua yang dibenarkan karena menjadikan kenakalan sang anak sebagai dalih untuk memperlakukan dia secara sewenang-wenang. Tetapi tidakkah Anda setuju bahwa orang-tua dewasa ini harus berjuang membesarkan anak dalam sebuah kebudayaan yang seluruhnya benar-benar bersikap

memberontak? Musik populer yang memupuk perasaan marah, memberontak, dan putus asa; acara TV yang melukiskan orang-tua sebagai orang bodoh yang tidak becus dan anak-anak sebagai pahlawan yang cerdas; film yang memuja perilaku yang didorong oleh kekerasan—anak-anak dewasa ini benar-benar dibombardir oleh peng

aruh semacam itu. Anak-anak yang menyerap dan meniru kebudayaan yang memberontak ini dapat menyebabkan ketegangan yang luar biasa atas orang-tua mereka.

Tidak Memiliki Kasih Sayang Alami”

Namun, ada aspek lain dari nubuat klasik yang sama ini yang mengindikasikan masalah yang lebih besar atas keluarga dewasa ini. Nubuat ini mengindikasikan bahwa akan ada banyak orang yang ”tidak memiliki kasih sayang alami”. (2 Timotius 3:3) Kasih sayang alami adalah tali pengikat yang mempersatukan keluarga. Dan bahkan orang-orang yang paling skeptis akan nubuat Alkitab mau tidak mau mengakui bahwa pada masa kita terdapat perpecahan yang mengejutkan dalam kehidupan keluarga. Di seluruh dunia, tingkat perceraian membubung. Dalam banyak masyarakat, keluarga dengan orang-tua tunggal dan orang-tua tiri semakin umum dibandingkan dengan keluarga tradisional.

Orang-tua tunggal dan orang-tua tiri kadang-kadang menghadapi tantangan dan tekanan khusus yang menyulitkan mereka untuk memperlihatkan kepada anak-anak kasih yang mereka butuhkan.

Namun, ada dampak yang lebih dalam. Banyak orang-tua zaman sekarang yang dibesarkan dalam rumah tangga yang memiliki sedikit ”kasih sayang alami” atau bahkan tidak ada sama sekali—rumah tangga yang terpecah oleh perzinaan dan perceraian; rumah tangga yang hancur oleh sikap dingin dan kebencian; bahkan barangkali rumah tangga yang sarat dengan penganiayaan lisan, emosi, fisik, atau seksual. Dibesarkan dalam rumah semacam itu tidak hanya berpengaruh pada masa kanak-kanak mereka, tetapi hingga mereka dewasa nantinya. Statistik memberikan gambaran yang suram—orang-tua yang dianiaya semasa kanak-kanak lebih cenderung menganiaya anak-anak mereka sendiri. Pada zaman Alkitab, di antara orang-orang Yahudi terdapat pepatah, ”Ayah-ayah makan buah mentah dan gigi anak-anaknya menjadi ngilu.”—Yehezkiel 18:2.

Akan tetapi, Allah memberi tahu umat-Nya bahwa mereka sebenarnya tidak perlu mengalami hal-hal seperti itu. (Yehezkiel 18:3) Ada satu hal penting yang harus ditandaskan. Apakah segala tekanan atas orang-tua ini secara otomatis menjadikan mereka tidak sanggup memperlakukan anak-anak sendiri dengan pengasih? Sama sekali tidak! Jika Anda adalah orang-tua yang sedang berjuang melawan beberapa tekanan yang disebutkan di atas dan Anda merasa khawatir jangan-jangan Anda tidak akan pernah menjadi orang-tua yang baik, tabahlah! Anda bukan sekadar statistik. Masa lalu Anda tidak secara otomatis menentukan masa depan Anda.

Selaras dengan jaminan Alkitab bahwa perbaikan adalah mungkin, buku Healthy Parenting membuat komentar berikut, ”Bila [Anda] tidak mengambil langkah sadar untuk berperilaku lain dari orang-tua Anda sendiri, pola masa kanak-kanak Anda akan terulang tidak soal Anda menginginkannya atau tidak. Untuk memutuskan siklus ini, Anda harus menyadari adanya pola yang tidak sehat yang Anda lestarikan dan mempelajari cara untuk mengubahnya.”

Ya, jika perlu, Anda dapat memutuskan siklus kesewenang-wenangan dalam mengasuh anak! Dan Anda dapat mengatasi tekanan yang sangat menyulitkan Anda dalam mengasuh anak dewasa ini. Tetapi bagaimana caranya? Di mana Anda dapat mempelajari standar mengasuh anak yang paling baik dan paling dapat diandalkan? Artikel kami yang berikutnya akan mengulas perkara ini.


Bantulah Anak-Anak Anda Bertumbuh Sejahtera

SEHUBUNGUkuran hurufAN dengan membesarkan anak, banyak orang-tua mencari di sana-sini jawaban-jawaban yang sebenarnya tersedia di rumah mereka sendiri. Begitu banyak keluarga memiliki Alkitab, tetapi buku itu dibiarkan berdebu di rak buku sebaliknya daripada dimanfaatkan dalam mengasuh anak.

Memang, banyak orang dewasa ini merasa skeptis untuk menggunakan Alkitab sebagai pedoman dalam kehidupan keluarga. Mereka menolak Alkitab karena menganggapnya ketinggalan zaman, kuno, atau terlalu keras. Tetapi pemeriksaan yang jujur akan menyingkapkan bahwa Alkitab adalah buku yang praktis bagi keluarga. Marilah kita perhatikan.

Lingkungan yang Tepat

Alkitab memberi tahu ayah agar memandang anak-anaknya sebagai ”tunas pohon zaitun sekeliling meja[-nya]”. (Mazmur 128:3, 4) Anak pohon yang masih lembut tidak akan tumbuh menjadi pohon yang menghasilkan buah bila tidak digarap dengan saksama, tidak diberi makan, tanah, dan kelembapan yang tepat. Demikian pula, dibutuhkan upaya dan perhatian agar sukses dalam mengasuh anak. Anak-anak membutuhkan lingkungan yang sehat untuk bertumbuh dewasa.

Bahan utama untuk menciptakan lingkungan semacam itu adalah kasih—di antara pasangan menikah dan di antara orang-tua dengan anak-anak. (Efesus 5:33; Titus 2:4) Banyak anggota keluarga mengasihi satu sama lain tetapi tidak merasakan perlunya menyatakan kasih semacam itu. Namun, pikirkanlah: Dapatkah dikatakan bahwa Anda memiliki komunikasi dengan seorang teman jika Anda menulis surat kepadanya tapi surat itu tidak pernah diberi alamat, perangko, atau dikirim? Demikian pula, Alkitab memperlihatkan bahwa kasih sejati jauh melebihi sekadar perasaan yang menghangatkan hati; kasih tercermin dari kata-kata dan tindakan. (Bandingkan Yohanes 14:15 dan 1 Yohanes 5:3.) Allah memberikan teladan dengan menyatakan kasih-Nya kepada Putra-Nya dengan kata-kata, ”Inilah Putraku, yang dikasihi, yang telah aku perkenan.”—Matius 3:17.

Pujian

Bagaimana orang-tua dapat memperlihatkan kasih semacam itu kepada anak-anak mereka? Sebagai langkah awal, carilah hal-hal yang baik. Sangat mudah untuk mendapati kesalahan pada anak-anak. Ketidakmatangan, kurangnya pengalaman, dan sikap mementingkan diri akan terlihat dalam banyak cara, hari demi hari. (Amsal 22:15) Tetapi mereka juga melakukan banyak perkara baik setiap hari. Yang mana yang akan Anda perhatikan? Allah tidak terus memikirkan kesalahan-kesalahan kita tetapi mengingat hal-hal baik yang kita lakukan. (Mazmur 130:3; Ibrani 6:10) Kita seharusnya berurusan dengan anak-anak kita dengan cara yang sama.

Seorang pria muda berkomentar, ”Seumur hidup, saya tidak pernah mengingat adanya pujian dalam bentuk apa pun—baik untuk prestasi di rumah atau di sekolah.” Orang-tua, jangan abaikan kebutuhan vital dari anak-anak Anda ini! Semua anak seharusnya mendapat pujian secara teratur atas perkara-perkara baik yang mereka lakukan. Itu akan mengurangi risiko mereka bertumbuh besar dengan ”patah semangat”, merasa yakin bahwa tidak satu pun yang mereka lakukan yang cukup baik.—Kolose 3:21.

Komunikasi

Cara lain untuk menyatakan kasih kepada anak-anak Anda adalah dengan mengikuti nasihat Yakobus 1:19, ”Cepat mendengar, lambat berbicara, lambat murka.” Apakah Anda membiarkan anak-anak Anda berbicara dengan bebas dan Anda benar-benar mendengarkan apa yang mereka katakan? Jika anak-anak Anda tahu bahwa Anda akan menguliahi mereka bahkan sebelum mereka selesai berbicara atau bahwa Anda akan marah sewaktu mengetahui bagaimana perasaan mereka sebenarnya, maka boleh jadi mereka akan menyimpan perasaan mereka sendiri. Tetapi jika mereka tahu bahwa Anda akan benar-benar mendengarkan, mereka akan lebih leluasa untuk bersikap terbuka dengan Anda.—Bandingkan Amsal 20:5.

Namun, bagaimana jika mereka mengungkapkan perasaan yang Anda tahu adalah salah? Inikah saatnya untuk menanggapi dengan marah, menguliahi, atau memberikan disiplin? Memang, luapan kemarahan yang kekanak-kanakan dapat menyulitkan Anda untuk ”lambat berbicara, lambat murka”. Tetapi perhatikan lagi teladan Allah dengan anak-anak-Nya. Apakah ia menciptakan suasana yang mengerikan, sehingga anak-anak-Nya takut memberi tahu dia bagaimana perasaan mereka sebenarnya? Tidak! Mazmur 62:8 mengatakan, ”Percayalah kepada [Allah] setiap waktu, hai umat, curahkanlah isi hatimu di hadapan-Nya; Allah ialah tempat perlindungan kita.”


Bagaimana Membantu Anak-anak berkembang

  • Sediakan lingkungan yang aman di dalamnya mereka merasa dikasihi dan dibutuhkan
  • Pujilah mereka dengan tarur. Dengan spesifik
  • Jadilah pendengar yang baik
  • Berhentilah sejenak bila amarah meluap
  • Tetapkanlah batas-batas yang jelas, dan konsisten
  • Sesuaikan disiplin dengan kebutuhan setiapanak
  • Jangan mengharapkan hal yang tidak masuk akal dari anak anda
  • Perihalah kebutuhan rohani melalui pelajaran Firman Allah secara teratur

Jadi sewaktu Abraham merasa khawatir akan keputusan Allah untuk membinasakan kota Sodom dan Gomora, ia tidak ragu-ragu untuk mengatakan kepada Bapak surgawinya, ”Jauhlah kiranya dari pada-Mu untuk berbuat demikian . . . Masakan Hakim segenap bumi tidak menghukum dengan adil?” Allah tidak menghardik Abraham; Ia mendengarkannya dan menenteramkan rasa takutnya. (Kejadian 18:20-33) Allah luar biasa sabar dan lembut, bahkan sewaktu anak-anak-Nya mencurahkan perasaan yang benar-benar tidak dapat dibenarkan dan tidak masuk akal.—Yunus 3:10–4:11.

Demikian pula, orang-tua harus menciptakan suasana yang di dalamnya anak-anak merasa aman untuk mengungkapkan perasaan-perasaan mereka yang paling dalam, tidak soal seberapa menggelisahkan perasaan-perasaan ini. Jadi bila anak Anda mengeluarkan luapan perasaan dengan bernafsu, dengarkanlah. Sebaliknya daripada memarahi, kenalilah perasaan sang anak dan timbalah alasannya. Misalnya, Anda mungkin mengatakan, ’Kelihatan kamu sedang marah dengan si Anu. Maukah kamu memberi tahu saya apa yang terjadi?’

Mengendalikan Kemarahan

Tentu saja, tidak ada orang-tua yang sesabar Yehuwa. Dan tentu saja anak-anak dapat menguji seberapa jauh kesabaran orang-tua mereka. Jika sewaktu-waktu Anda merasa marah terhadap anak-anak Anda, jangan khawatir bahwa ini akan menjadikan Anda orang-tua yang buruk. Adakalanya, Anda dapat dibenarkan untuk merasa marah. Allah sendiri dapat dibenarkan sewaktu merasa marah terhadap anak-anak-Nya, bahkan beberapa anak yang sangat dikasihi-Nya. (Keluaran 4:14; Ulangan 34:10) Namun, Firman-Nya mengajar kita untuk mengendalikan kemarahan kita.—Efesus 4:26.

Bagaimana? Kadang-kadang berhenti sejenak dapat membantu meredakan kemarahan Anda. (Amsal 17:14) Dan ingatlah, Anda berurusan dengan seorang anak! Jangan harapkan mereka akan berperilaku dewasa atau berpikir secara matang. (1 Korintus 13:11) Memahami mengapa anak Anda bertindak dengan cara tertentu dapat menyurutkan kemarahan Anda. (Amsal 19:11) Jangan pernah melupakan perbedaan yang sangat besar antara melakukan kenakalan dan berperilaku nakal. Memaki seorang anak dan menjuluki nakal dapat menyebabkan si anak bertanya-tanya, ’Jadi untuk apa mencoba menjadi anak baik?’ Tetapi dengan penuh kasih mengoreksi seorang anak akan membantunya untuk melakukan lebih baik di lain waktu.


Lebih Maju dari Zamannya

PRINSIP-PRINSIP Alkitab membantu bangsa Israel purba menikmati standar kehidupan keluarga yang jauh lebih unggul daripada standar bangsa-bangsa di sekeliling mereka. Sejarawan Alfred Edersheim mengomentari, ”Di luar perbatasan Israel, dapat dikatakan hampir tidak ada yang namanya kehidupan keluarga, atau bahkan keluarga itu sendiri, dalam pengertian kita sekarang.” Misalnya, di antara orang-orang Romawi purba, hukum memberikan kekuasaan absolut dalam keluarga kepada ayah. Ia dapat menjual anak-anaknya ke dalam perbudakan, mempekerjakan mereka sebagai buruh, atau bahkan mengeksekusi mereka—tanpa hukuman apa pun.

Beberapa orang Romawi menganggap orang Yahudi aneh karena memperlakukan anak-anak mereka dengan lembut. Bahkan, sejarawan Romawi pada abad pertama, Tacitus, menulis karangan yang penuh kebencian terhadap orang Yahudi, dengan mengatakan bahwa kebiasaan mereka ”benar-benar sesat dan menjijikkan”. Akan tetapi, ia mengakui, ”Adalah kejahatan di antara mereka untuk membunuh bayi yang baru lahir.”

Alkitab menyediakan standar yang luhur. Alkitab mengajar orang-orang Yahudi bahwa anak-anak itu berharga—bahkan harus dianggap sebagai warisan dari Allah sendiri—dan harus diperlakukan dengan sepatutnya. (Mazmur 127:3) Bukti menunjukkan bahwa banyak orang Yahudi yang hidup menurut nasihat semacam itu. Bahkan bahasa mereka menyingkapkan keterkaitan ini. Edersheim mengamati bahwa selain kata putra dan putri, bahasa Ibrani kuno memiliki sembilan kata yang memaksudkan anak-anak, masing-masing digunakan untuk tahap yang berlainan dalam kehidupannya. Misalnya, ada kata untuk anak yang masih menyusu dan kata untuk anak yang telah disapih. Untuk anak-anak yang lebih tua, ada kata yang menyiratkan bahwa mereka menjadi tegap dan kuat. Dan bagi remaja yang beranjak dewasa, ada kata yang secara harfiah berarti ’membebaskan diri’. Edersheim mengomentari, ”Tidak ada keraguan, orang-orang yang sedemikian serius mengamati kehidupan anak-anak sehingga memberikan istilah yang bersifat melukiskan untuk setiap tahap perkembangan anak, pastilah sangat akrab dan menyukai anak-anak mereka.”


Memelihara Ketertiban dan Respek

Mengajari anak-anak kesadaran akan ketertiban dan respek adalah salah satu tantangan terbesar yang dihadapi orang-tua. Dalam dunia yang serbaboleh dewasa ini, banyak orang bahkan meragukan apakah benar untuk menaruh pembatasan atas anak-anak mereka. Alkitab menjawab, ”Tongkat dan teguran mendatangkan hikmat, tetapi anak yang dibiarkan mempermalukan ibunya.” (Amsal 29:15) Beberapa orang bersikap anti terhadap kata ”tongkat”, berpikir bahwa itu mengartikan semacam bentuk penganiayaan anak. Tetapi sebenarnya bukan demikian halnya. Kata Ibrani untuk ”tongkat” mengacu kepada semacam tongkat penuntun, seperti yang digunakan oleh gembala untuk membimbing—bukan menyerang—domba-dombanya. Jadi tongkat memaksudkan disiplin.

Dalam Alkitab, mendisiplin khususnya berarti mengajar. Itulah sebabnya mengapa buku Amsal mengatakan sebanyak empat kali, ’dengarkanlah didikan [”disiplin”, NW]’. (Amsal 1:8; 4:1; 8:33; 19:27) Anak-anak harus mengetahui bahwa melakukan apa yang benar akan mendatangkan imbalan dan bahwa melakukan apa yang salah mendatangkan konsekuensi yang buruk. Hukuman dapat membantu mencamkan teguran atas perilaku yang salah, demikian pula imbalan—seperti pujian—dapat memperkuat perilaku yang baik. (Bandingkan Ulangan 11:26-28.) Orang-tua sebaiknya meniru teladan Allah dalam hal memberikan hukuman, karena Ia memberi tahu umat-Nya bahwa Ia akan menghajar mereka ”sampai taraf yang patut”. (Yeremia 46:28, NW) Beberapa anak hanya membutuhkan beberapa kata yang keras untuk menegur mereka. Yang lainnya membutuhkan tindakan yang lebih tegas. Tetapi menghajar ”sampai taraf yang patut” tidak akan pernah mencakup hal-hal yang dapat mencelakakan si anak secara emosi atau fisik.

Disiplin yang seimbang hendaknya mencakup mengajar anak-anak tentang batas-batas. Banyak dari batas-batas ini didefinisikan dengan jelas dalam Firman Allah. Alkitab mengajarkan respek akan batas di sekitar tanah milik pribadi. (Ulangan 19:14) Alkitab menetapkan batas-batas fisik, menetapkan bahwa mencintai kekerasan atau dengan sengaja mencelakakan orang lain adalah salah. (Mazmur 11:5; Matius 7:12) Alkitab menetapkan batas-batas seksual, mengutuk inses. (Imamat 18:6-18) Alkitab bahkan mengakui batas-batas pribadi dan emosi, melarang kita memanggil seseorang dengan nama yang menghina atau menggunakan bentuk caci maki yang lain. (Matius 5:22) Mengajarkan tentang batas-batas ini kepada anak-anak—baik melalui kata-kata maupun teladan—adalah penting guna menciptakan lingkungan keluarga yang sehat.

Kunci lain untuk mempertahankan ketertiban dan respek dalam keluarga terletak pada pemahaman akan peranan dalam keluarga. Dalam banyak keluarga dewasa ini, peranan semacam itu kabur atau kacau. Dalam beberapa keluarga, orang-tua mempercayakan masalah yang membebani kepada seorang anak, padahal anak tersebut tidak diperlengkapi untuk menanganinya. Dalam keluarga lain, anak-anak diizinkan menjadi diktator kecil, membuat keputusan untuk seluruh keluarga. Hal-hal semacam itu adalah salah dan mencelakakan. Orang-tua dituntut untuk menyediakan kebutuhan anak-anak kecil mereka—baik secara fisik, emosi, atau rohani—bukan sebaliknya. (2 Korintus 12:14; 1 Timotius 5:8) Pertimbangkan contoh Yakub, yang menyesuaikan kecepatan langkah segenap keluarganya dan sekelilingnya sehingga tidak membebani yang masih kecil. Ia membatasi keterbatasan mereka dan bertindak sesuai dengannya.—Kejadian 33:13, 14.

Memperhatikan Kebutuhan Rohani

Tidak ada yang lebih vital bagi lingkungan keluarga yang sehat selain kerohanian. (Matius 5:3) Anak-anak memiliki kapasitas kerohanian yang besar. Mereka mempunyai segudang pertanyaan: Mengapa kita ada? Siapa yang membuat bumi dan binatang, pohon, serta samudranya? Mengapa orang-orang meninggal? Apa yang terjadi setelah itu? Mengapa perkara-perkara yang buruk menimpa orang-orang yang baik? Pertanyaannya seolah-olah tiada habisnya. Sering kali, orang-tualah yang memilih untuk tidak memikirkan perkara-perkara semacam itu.

Alkitab mendesak orang-tua agar menggunakan waktu untuk memberikan pelatihan rohani kepada anak-anak mereka. Alkitab melukiskan pelatihan semacam ini dengan ungkapan yang hangat yakni percakapan yang berkesinambungan antara orang-tua dan anak-anak. Orang-tua dapat mengajar anak-anak mereka mengenai Allah dan Firman-Nya sewaktu mereka berjalan bersama-sama, duduk di rumah bersama-sama, di tempat tidur—kapan saja mungkin.—Ulangan 6:6, 7; Efesus 6:4.

Alkitab tidak hanya merekomendasikan acara rohani semacam itu. Alkitab juga menyediakan materi-materi yang dibutuhkan. Bagaimanapun juga, bagaimana Anda akan menjawab pertanyaan anak-anak yang disebutkan di atas? Alkitab memuat jawaban-jawabannya. Jawaban-jawaban yang jelas, yang menarik, dan memberikan banyak sekali harapan dalam dunia yang tanpa harapan ini. Lebih baik lagi, berpegang erat pada hikmat Alkitab dapat memberikan jangkar yang paling kokoh kepada anak-anak Anda, bimbingan yang paling dapat diandalkan dalam masa-masa yang membingungkan dewasa ini. Berikanlah itu kepada mereka, dan mereka benar-benar akan bertumbuh sejahtera—sekarang dan menuju masa depan. Sumber: gIN-8/8/97