Selasa, 19 Mei 2009

Menghadapi Tantangan Menjadi Ibu Remaja

    Jika kamu menjadi ibu remaja yang sedang hamil, kamu mungkin merasa seperti itu (yang jelaskan di artikel sebelumnya). Namun, tidak ada gunanya membiarkan dirimu dilumpuhkan oleh perasaan negatif. "Ia yang memperhatikan angin tidak akan menabur benih." kata (buku Panduan Kehidupan), "dan ia yang memandang awan tidak akan menuai." (Penghotbah 7:8; 11:4) Seorang petani yang berhenti bekerja karena takut cuaca akan gagal mengambil tindakan yang diperlukan. Kamu sendiri jangan sampai begitu. Cepat atau lambat, kamu harus meneruskan kehidupan seperti biasa dan memikul tanggung jawabmu.—Galatian 6:5

   Apa pilihanmu?  Ada yang mungkin menyuruhmu untuk menggugurkan kandungan. Namun hal ini bukanlah pilihan bagi orang-orang yang ingin menyenangkan (Pencipta Kehidupan), karena (buku panduan kehidupan atau Alkitab dengan jelas mengatakan bahwa aborsi bertentangan dengan hukum Allah. (Keluaran 20:13; 21:22, 23; Mazmur 139: 14-16) Di mata Allah, kehidupan janin—termasuk yang dikandung di luar nikah—sangat berharga.

    Bagaimana kalau kamu menikahi saja ayah si jabang bayi dan membesarkan anak itu bersamanya? Setidak-tidaknya, perkawinan mungkin dapat menghindari aib. Namun, meskipun seorang ayah muda merasa bertanggung jawab secara moral untuk membantu mengasuh si anak, perkawinan tidak selalu menjadi pilihan yang bijaksana.

   Fakta bahwa seorang pemuda bisa menghasilkan keturunan sama sekali tidak berarti bahwa ia memiliki kesanggupan emosi dan mental yang dibutuhkan untuk menjadi suami dan ayah yang baik. Hal itu tidak juga tidak berarti bahwa ia dapat menafkahi istri dan anaknya.
Pengalaman memperlihatkan bahwa tergesa-gesa memasuki perkawinan dini—dan mungkin berumur pendek—malah mungkin menambah kepedihan dan penderitaan.

  Bagaimana dengan menyerahkan si bayi untuk di adopsi? Meskipun hal ini jelas lebih baik dibanding aborsi, kamu hendaknya mempertimbangkan fakta bahwa sekalipun menghadapi keadaan yang sulit, kamu punya kesempatan untuk mengasuh dan membesarkan anakmu sendiri.

Menghadapi Tantangan
Memang, membesarkan anak tanpa teman hidup tidak mudah. Oleh karena itu, dengan mengikuti prisip-prinsip (dalam buku panduan kehidupan) sebisa mungkin dan dengan mengandalkan kekuatan dan bimbingan dari Pencipta, kamu dapat berhasil menghadapi banyak tantangan. Berikut ini adalah beberapa langkah yang dapat kamu ambil yang akan membantumu menghadapinya.
● Perbaiki hubunganmu dengan Allah. Sadarilah bahwa seks pranikah adalah dosa terhadap Allah—pelanggaran terhadap standar moral-Nya yang luhur. (Galatia 5:19-21; 1 Tesalonika 4:3, 4) Oleh karena itu, langkah pertama yang penting adalah bertobat dan memohon pengampunan Allah. (Mazmur 32:5; 1 Yohanes 2:1, 2) Memang, kamu mungkin merasa tidak layak mendapatkan bantuan-Nya. Namun, Yehuwa berjanji untuk mengampuni, dan Ia membantu orang-orang yang bertobat. (Yesaya 55:6, 7) Di Yesaya 1:18, Yehuwa berkata, ”Walaupun dosa-dosamu seperti bahan berwarna merah marak [berat, serius], itu akan dibuat putih seperti salju [dibersihkan sepenuhnya].” Alkitab juga menganjurkan para pelaku kesalahan untuk memanfaatkan bantuan rohani yang diulurkan oleh para penatua sidang yang terlantik.—Yakobus 5:14, 15.
● Jangan terlibat lagi dalam seks pranikah. Itu agaknya berarti kamu harus memutuskan hubunganmu dengan ayah si anak. Melanjutkan hubungan di luar nikah hanya akan membuatmu berada di bawah tekanan untuk terus melakukan perbuatan yang tidak menyenangkan Allah. Jangan pernah lupa bahwa hukum-hukum Allah, meskipun ketat, dimaksudkan untuk melindungi kita. Nicole, yang dikutip sebelumnya dalam seri ini, mengenang, ”Saya sekarang sadar bahwa Allah benar. Ia ingin memberikan hal-hal yang bermanfaat kepada kita.”—Yesaya 48:17, 18.
● Beri tahukanlah orang tuamu. Sepantasnyalah kamu merasa takut bahwa orang tuamu akan memarahimu. Memang, mereka akan marah dan khawatir sewaktu mereka mendengar bahwa kamu hamil. Mereka bahkan mungkin merasa telah gagal sebagai orang tua dan mempersalahkan diri atas perbuatanmu yang tercela. Namun, jika orang tuamu takut akan Allah, perasaan pedih dan terluka pada akhirnya akan sembuh oleh waktu. Mereka adalah orang tuamu, dan meskipun kamu bersalah, mereka menyayangimu. Melihat pertobatanmu, mereka pastilah akan tergerak untuk meniru ayah dalam perumpamaan Yesus tentang anak yang boros dan mengulurkan pengampunan yang pengasih.—Lukas 15:11-32.
● Perlihatkan penghargaan. Orang tua, sanak saudara, kerabat, dan sahabat sering kali menjadi sumber bantuan dan dukungan yang besar. Misalnya, orang tuamu mungkin mengatur agar kamu mendapatkan perawatan medis. Setelah bayimu lahir, mereka mungkin membantu kamu mengajarkan hal-hal dasar untuk merawat bayi; mereka mungkin menawarkan diri menjadi pengasuh bayi. Nicole berkata tentang ibunya, ”Meskipun sayalah ibu si bayi, Mama banyak membantu saya.” Teman-teman juga mungkin membantu, barangkali dengan memberikan pakaian bayi dan barang-barang lain yang berguna tanpa menarik perhatian orang lain. (Amsal 17:17) Sewaktu kamu menerima kebaikan hati, ikutilah nasihat Alkitab dan ”nyatakanlah rasa syukurmu”. (Kolose 3:15) Pernyataan terima kasihmu dapat membuat mereka tidak merasa bahwa tindakan pengasih mereka dianggap remeh.
● Pelajarilah keterampilan mengasuh anak. Tentu saja, kamu tidak ingin bergantung pada keluargamu dan teman-temanmu untuk seterusnya. Jadi, mulailah perkembangkan keterampilan yang akan membantumu memiliki cukup kemampuan untuk mengurus anakmu dan mengatur rumah tangga. Belajar mengurus seorang anak dapat menjadi tantangan. Ada banyak hal yang kamu harus pelajari tentang gizi, kesehatan, dan aspek-aspek lain dalam merawat anak. Yang menarik ialah Alkitab menganjurkan para wanita Kristen yang lebih tua untuk mendesak wanita yang lebih muda agar ”giat melakukan pekerjaan rumah tangga”. (Titus 2:5) Pasti ibumu—dan mungkin anggota-anggota lain yang lebih tua dalam sidang Kristen—dapat memberimu pelatihan yang berharga dalam hal ini.
● Gunakan uang dengan bijaksana. Alkitab mengatakan bahwa ”uang adalah untuk perlindungan”. (Pengkhotbah 7:12) Kehadiran seorang bayi akan menuntut banyak sekali pengeluaran.
Kamu mungkin pertama-tama sebaiknya mencoba mendapatkan bantuan pemerintah, karena kamu memenuhi syarat untuk mendapatkannya. Namun, sering kali, seorang gadis masih harus dinafkahi orang tuanya. Jika itu keadaanmu, sebaiknya kamu bertimbang rasa dengan berhemat sebisa mungkin. Meskipun kamu tentu ingin membeli barang-barang baru untuk bayimu, barangkali kamu dapat menabung dengan berbelanja di toko-toko yang menawarkan potongan harga.
● Cobalah untuk mendapatkan pendidikan. ”Orang-orang berhikmat menyimpan pengetahuan bagaikan harta,” kata Amsal 10:14. Meskipun hal ini khususnya benar sehubungan dengan pengetahuan Alkitab, hal ini juga berlaku untuk pendidikan duniawi. Kamu perlu mengembangkan keterampilan yang dibutuhkan untuk mencari nafkah.

   Memang, sulit untuk bersekolah sambil mengurus bayi. Namun, kurangnya pendidikan dasar dapat membuat kamu dan anakmu miskin, selalu bergantung pada bantuan pemerintah, bergaji minim, tinggal di daerah kumuh, atau kurang gizi. Jadi, jika bisa, teruslah bersekolah. Ibu Nicole berkeras agar Nicole menamatkan sekolah, dan sebagai hasilnya, Nicole belakangan dapat memperoleh pelatihan untuk menafkahi dirinya sebagai seorang asisten pengacara.
Bagaimana jika kamu melakukan riset sehubungan dengan pendidikan yang tersedia? Jika menghadiri kelas terlalu sulit, kamu mungkin dapat mencari tahu apakah kamu dapat belajar di rumah. Misalnya, belajar melalui surat-menyurat mungkin praktis untuk keadaanmu.

Kamu Dapat Berhasil
   Membesarkan anak di luar nikah sangat tidak mudah bagi seorang gadis muda. Namun, kamu dapat berhasil! Dengan kesabaran, tekad, dan bantuan Allah Yehuwa, kamu dapat menjadi orang tua yang penuh kasih, cakap, dan kompeten. Dan, anak-anak dari ibu yang tidak menikah dapat bertumbuh menjadi orang dewasa yang stabil. Malah, anakmu mungkin akan menyambut pembentukan dan pelatihan yang kamu berikan dan akhirnya menjadi orang yang mengasihi Allah.—Efesus 6:4.

   Nicole menyatakannya begini, ”Dengan bantuan Allah—dan meskipun kelihatannya mustahil—saya senang bisa membantu gadis kecil saya menjadi remaja yang baik hati, penuh respek, dan bertanggung jawab. Sewaktu melihat dia, saya teringat dengan saat-saat ketika saya tidak dapat tidur pada malam hari, tetapi pada saat yang sama saya juga bahagia.”
Namun, bagaimana orang-orang dewasa hendaknya memperlakukan para ibu remaja dan anak-anak mereka? Adakah cara untuk membantu para remaja menghindari kepedihan akibat kehamilan remaja?

Bantuan dan Perlindungan bagi Kaum Remaja
   REMUK rasanya sewaktu seorang gadis—masih anak-anak—hamil tetapi belum menikah. Namun, kehamilan remaja terjadi di seluruh dunia, dan itu mempengaruhi setiap orang dengan satu atau lain cara. Tragedi kehamilan remaja hanyalah salah satu bukti dari betapa tepatnya perintah Allah, ”Larilah dari percabulan!”—1 Korintus 6:18.

    Meskipun demikian, ada kalanya seorang gadis remaja yang telah mempelajari jalan-jalan Allah memilih untuk mengabaikan atau menolak apa yang telah ia ketahui. Ia terlibat dalam perbuatan seks yang amoral dan menjadi hamil. Bagaimana reaksi orang-orang Kristen sejati? Sewaktu remaja yang bersalah tersebut memperlihatkan bukti-bukti pertobatan, orang tuanya dan anggota-anggota lain dalam sidang Kristen hendaknya dengan pengasih mengulurkan bantuan dan dukungan.

   Perhatikanlah lagi Nicole. Orang tuanya membesarkannya untuk menjadi salah seorang Saksi-Saksi Yehuwa. Jadi, sangatlah menyedihkan sewaktu ia hamil di luar nikah. Namun, Nicole mengenang, ”Rekan-rekan Kristen datang ke rumah saya dan mencoba menganjurkan saya untuk mempelajari Alkitab dan tetap dekat dengan Yehuwa.”

   Memang, Saksi-Saksi Yehuwa tidak menyetujui perbuatan seks yang tercela. Namun, mereka menyadari bahwa dengan menerapkan prinsip-prinsip Alkitab, para pelaku kesalahan dapat ’diubah’. (Roma 12:2) Mereka memiliki iman yang teguh bahwa Allah akan mengampuni pelaku kesalahan yang bertobat. (Efesus 1:7) Mereka juga tahu bahwa meskipun seorang anak dikandung di luar nikah, ia tidak bersalah. Jadi, ketimbang mencapnya sebagai anak haram, para anggota sidang Kristen memperlihatkan kasih sayang yang lembut, keibaan hati, dan kebaikan hati yang sama dengan yang mereka tunjukkan kepada anak-anak lain di sidang.—Kolose 3:12.
Seorang ibu tunggal mulai mempelajari Alkitab bersama Saksi-Saksi Yehuwa. Ia segera menyambut berita Alkitab dan membuat perubahan besar dalam kehidupannya. Ia berkata tentang Saksi-Saksi, ”Mereka semua memperlihatkan minat yang tulus kepada saya dan anak-anak saya. Mereka menyumbang makanan, pakaian, dan uang jika saya membutuhkannya. Sewaktu saya memenuhi syarat untuk ambil bagian dalam dinas pengabaran bersama Saksi-Saksi Yehuwa, mereka menjaga bayi saya. Mereka sebisa mungkin membantu saya mengembangkan kasih yang sejati kepada Yehuwa.”

Pencegahan
   Meskipun demikian, jauh lebih baik membantu orang muda menghindari problem seperti itu sejak awal. Oleh karena itu, Saksi-Saksi Yehuwa berupaya menyediakan lingkungan keluarga yang penuh kasih bagi anak-anak mereka. Ketimbang hanya menakut-nakuti—dengan ancaman AIDS atau hamil—Saksi-Saksi berupaya menanamkan dalam diri remaja suatu kasih yang nyata kepada Allah Yehuwa dan hukum-hukum-Nya. (Mazmur 119:97) Mereka percaya bahwa anak-anak perlu diberi keterangan yang akurat tentang seks. Lebih penting lagi, mereka percaya bahwa sejak bayi, anak-anak perlu diajar prinsip-prinsip moral dari Alkitab. (2 Timotius 3:15) Pengajaran formal disediakan di banyak Balai Kerajaan Saksi-Saksi Yehuwa setempat. Akan tetapi, orang tua Saksi juga dianjurkan untuk mempelajari Alkitab bersama anak-anak mereka secara pribadi. Buku-buku, seperti Pertanyaan Kaum Muda—Jawaban yang Praktis, telah dirancang untuk membantu orang tua memberikan bimbingan moral kepada anak-anak mereka.
Menaati standar moral Alkitab yang tegas memang bertentangan dengan gaya hidup amoral yang meluas di dunia ini. Namun, hal ini adalah jalan hidup yang dapat melindungi ribuan gadis muda dari tragedi kehamilan remaja. Appeared in Awake! October 2004 edit in iblogronnp.com

Artikel Terkait:
Pertanyaan Kaum Muda/Remaja . . . Menghamili Anak Gadis—Ciri Pria Sejati? click disini



Pandangan Allah
   Tapi, apakah menghamili seseorang benar-benar ciri pria sejati? Apakah seks hanyalah permainan? Tidak demikian menurut Pencipta kita, Allah Yehuwa. Dalam Firman-Nya, Alkitab, Allah dengan jelas menyatakan bahwa seks memiliki tujuan yang mulia. Setelah menceritakan penciptaan pria dan wanita pertama, Alkitab berkata, ”Allah memberkati mereka dan Allah berfirman kepada mereka, ’Beranakcuculah dan bertambah banyak dan penuhilah bumi.’” (Kejadian 1:27, 28) Allah tidak pernah bermaksud agar anak-anak diabaikan ayahnya. Ia menyatukan pria dan wanita pertama dalam ikatan perkawinan yang permanen. (Kejadian 2:24) Dengan demikian, maksud-tujuan Allah adalah agar setiap anak memiliki ibu dan ayah.

    Namun, tidak lama kemudian, pria-pria mulai mengawini banyak istri. (Kejadian 4:19) Kejadian 6:2 memberi tahu kita bahwa bahkan beberapa malaikat ”mulai memperhatikan bahwa anak-anak perempuan manusia itu elok parasnya”. Setelah menjelma menjadi manusia, malaikat-malaikat ini ”mengambil istri-istri”, dengan tamak mengambil ”semua yang mereka pilih”. Air Bah Zaman Nuh memaksa hantu-hantu ini kembali ke alam roh. Tetapi, Alkitab memperlihatkan bahwa sekarang mereka dikeram di sekitar bumi. (Penyingkapan 12:9-12) Jadi, Setan dan hantu-hantunya sekarang sedang mengerahkan pengaruh yang sangat kuat terhadap orang-orang. (Efesus 2:2) Seorang pemuda dapat dikatakan takluk pada pengaruh-pengaruh jahat tersebut sewaktu ia menghamili seseorang, kemudian tidak menginginkan apalagi mengasihi buah hubungan mereka.

   Oleh karena itu, sungguh beralasan kalau Alkitab berkata, ”Inilah yang Allah kehendaki, yaitu agar kamu menjadi suci, menjauhkan diri dari percabulan; agar kamu masing-masing mengetahui bagaimana mengendalikan bejananya sendiri dengan mengingat kesucian dan kehormatan, dengan tidak melampiaskan nafsu seksual yang tamak seperti halnya bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah; agar tidak seorang pun melakukan tindakan yang dapat mencelakakan dan melanggar hak-hak saudaranya dalam perkara ini, karena Yehuwa adalah pribadi yang melaksanakan hukuman untuk semua perkara ini.”—1 Tesalonika 4:3-6.

   ”Menjauhkan diri dari percabulan”? Banyak pemuda menertawakan gagasan ini. Bagaimanapun, mereka masih muda, dan nafsu mereka kuat! Namun, perhatikan bahwa percabulan mencakup ’mencelakakan dan melanggar hak-hak’ orang lain. Apakah bukan mencelakakan namanya kalau seorang wanita muda dan bayinya ditinggalkan tanpa dukungan seorang suami? Lalu, bagaimana kalau sang gadis tertular penyakit hubungan seksual, seperti herpes kelamin, sifilis, gonore, atau AIDS? Memang, kadang-kadang konsekuensi demikian dapat dihindari. Meskipun demikian, seks pranikah jelas-jelas melanggar hak sang gadis untuk memelihara nama baik dan untuk tetap perawan sewaktu memasuki jenjang perkawinan. Jadi, menjauhkan diri dari percabulan merupakan tindakan yang masuk akal dan menunjukkan kematangan. Benar, seseorang membutuhkan pengendalian diri dan tekad untuk ”mengendalikan bejananya sendiri” dan menjauhkan diri dari seks pranikah. Tetapi, sebagaimana Yesaya 48:17, 18 memberi tahu kita, melalui hukum-hukum-Nya, Allah ’mengajarkan hal-hal yang bermanfaat bagi kita sendiri’.

”Teruslah Bertindak Sebagai Laki-Laki”
   kan tetapi, bagaimana caranya seorang pria muda dapat membuktikan diri sebagai pria sejati? Yang pasti, bukan dengan menjadi ayah dari anak yang tidak sah. Alkitab mendesak, ”Tetaplah sadar, berdirilah teguh dalam iman, teruslah bertindak sebagai laki-laki, jadilah perkasa. Hendaklah semua urusanmu berlangsung dengan kasih.”—1 Korintus 16:13, 14.
Perhatikan bahwa ’terus bertindak sebagai laki-laki’ mencakup waspada, teguh dalam iman, berani, dan pengasih. Tentu saja, prinsip-prinsip ini berlaku sama tegasnya bagi pria maupun wanita. Namun, jika kalian mengembangkan sifat-sifat rohani seperti ini, orang-orang punya alasan untuk merespek dan mengagumi kalian sebagai pria sejati! Ambillah pelajaran dari pria paling sejati sepanjang masa—Yesus Kristus. Perhatikan sikapnya yang jantan dan berani sewaktu berhadapan dengan penyiksaan dan bahkan kematian. Tetapi, bagaimana Yesus memperlakukan wanita?
 
    Pastilah, Yesus memiliki kesempatan untuk menikmati pergaulan dengan wanita. Ia memiliki banyak pengikut wanita, dan beberapa dari antaranya ”dengan harta miliknya melayani [Yesus dan rasul-rasulnya]”. (Lukas 8:3) Ia khususnya dekat dengan dua saudara perempuan Lazarus. Malah, Alkitab mengatakan bahwa ”Yesus mengasihi Marta dan saudara perempuannya”. (Yohanes 11:5) Apakah Yesus menggunakan kepintaran, pesona, atau penampilan fisiknya yang menarik, yang tentu saja ia miliki sebagai manusia sempurna, untuk menggoda wanita-wanita itu agar mau melakukan tindakan amoral? Sebaliknya, Alkitab mengatakan bahwa Yesus ”tidak berbuat dosa”. (1 Petrus 2:22) Ia tidak berperilaku tidak pantas bahkan ketika seorang wanita yang terkenal sebagai pedosa, kemungkinan seorang pelacur, ”menangis dan mulai membasahi kaki dia dengan air matanya dan ia menyekanya dengan rambut kepalanya”. (Lukas 7:37, 38) Malah, tidak pernah terlintas dalam benak Yesus untuk memanfaatkan wanita yang tidak berdaya ini! Ia mempertunjukkan kemampuannya dalam mengendalikan perasaan—ciri seorang pria sejati. Ia memperlakukan wanita, bukan sebagai objek seks, namun sebagai pribadi yang layak dikasihi dan direspek.

   Bila kalian adalah remaja Kristen, mengikuti teladan Kristus—bukan teladan beberapa teman kalian—akan menghindarkan kalian dari ’mencelakakan dan melanggar hak-hak’ seseorang. Hal ini juga akan melindungi kalian dari tragedi yang menyedihkan, yaitu menjadi ayah dari anak yang tidak sah. Memang, orang lain mungkin mengejek karena kalian menjauhi percabulan. Namun, untuk jangka panjang, memperoleh perkenan Allah akan mendatangkan manfaat lebih daripada memperoleh perkenan teman-teman yang hanya bersifat sementara.—Amsal 27:11.
Akan tetapi, bagaimana jika seorang remaja yang menempuh kehidupan amoral di masa lalu sudah berpaling dari haluan bejatnya dan benar-benar bertobat? Jika demikian, seperti halnya Raja Daud yang bertobat, yang juga melakukan perbuatan seksual yang tercela, ia dapat yakin akan pengampunan Allah. (2 Samuel 11:2-5; 12:13; Mazmur 51:1, 2) Tetapi, apabila kehamilan di luar nikah sudah terjadi, seorang pemuda masih menghadapi beberapa keputusan serius. Haruskah ia menikahi sang gadis? Haruskah ia bertanggung jawab terhadap anaknya? Artikel mendatang akan menjawab pertanyaan-pertanyaan ini.
Appeared in Awake! April 2000 edit in iblogronnp.com

Yang Perlu disadari Pria yang seharusnya menjadi Ayah
     Bagaimana dengan berbagi hak untuk mengasuh anak? Ini pun ternyata tidak mudah. Kadang-kadang, pihak orang-tua pemuda dan pemudi ini cemas jangan-jangan akan ada keterlibatan seksual lebih lanjut sehingga mereka tidak menganjurkan—atau bahkan melarang—pasangan ini untuk bertemu. Sang gadis sendiri mungkin memutuskan bahwa ia tidak ingin ada ”ikatan” apa pun antara anaknya dengan pria yang bukan suaminya. Bagaimanapun, jika sang ayah diizinkan untuk secara teratur menjumpai anaknya, keluarga sebaiknya memastikan bahwa pasangan ini tidak dibiarkan berdua-duaan, demi mencegah perbuatan tercela lebih jauh.

    Karena ingin dekat dengan anak mereka, beberapa pria yang punya anak di luar nikah mempelajari beberapa tugas dasar orang-tua, seperti memandikan, menyuapi, atau membacakan cerita untuk anak-anak mereka. Seorang pemuda yang menghargai standar-standar Alkitab bahkan mungkin berupaya mengajari anaknya beberapa prinsip Firman Allah. (Efesus 6:4) Namun, meskipun sedikit perhatian pengasih dari sang ayah kepada anaknya sudah pasti lebih baik daripada tidak sama sekali, hal itu tidak dapat menggantikan kehadiran seorang ayah setiap hari. Dan, jika ibu sang anak menikah dengan pria lain, mungkin tidak banyak lagi yang dapat diperbuat ayah muda ini karena pria itulah yang sekarang bertugas mengasuh anaknya.

    Jadi, jelaslah bahwa punya anak di luar nikah mendatangkan banyak sengsara—bagi orang-tua maupun anak. Selain menghadapi problem sehari-hari, ada risiko kehilangan perkenan Allah Yehuwa, yang mengutuk hubungan seks yang tidak sah. (1 Tesalonika 4:3) Meskipun masalah kehamilan remaja ini bisa dihadapi dengan arif, kita hendaknya mencamkan baik-baik bahwa haluan terbaik adalah menghindari perbuatan amoral sejak awal. Seorang ayah muda mengakui, ”Begitu kita punya anak di luar nikah, kehidupan kita akan berubah selamanya.” Memang, seorang ayah muda mungkin harus menanggung konsekuensi kesalahannya seumur hidup. (Galatia 6:8) Sekali lagi, nasihat Alkitab untuk ’lari dari percabulan’ telah terbukti bijaksana.—1 Korintus 6:18. Appeared in Awake! May 2000 edit in iblogronnp.com



Arsip Blog