Jumat, 05 Juni 2009

AYAH SEPERTI APA YANG DIBUTUHKAN ANAK-ANAK

Anak-anak membutuhkan ayah yang menyayangi mereka, yang bisa mereka andalkan, dan yang melakukan sebisa-bisanya guna membantu mereka bertumbuh menjadi orang dewasa yang bertanggung jawab dan dapat dipercaya. Tidak semua orang menyadari bahwa anak-anak membutuhkan ayah seperti itu.

Memang, ibulah yang melahirkan anak ke dunia, dan peran ibu yang baik sama sekali tidak dapat diabaikan. Tetapi jurnal The Wilson Quarterly memperlihatkan bahwa ayah memiliki peran yang sama pentingnya, dengan mengatakan, "Merosotnya peran ayah merupakan alasan utama di balik sebagian besar problem yang paling meresahkan yang merongrong masyarakat Amerika"—dan, boleh kita tambahkan, problem sedunia.

Surat kabar Brasil, Jornal da Tarde, melaporkan tentang sebuah penelitian yang menyimpulkan bahwa banyak problem perilaku remaja—seperti keagresifan, ketidakpatuhan, kesanggupan yang buruk di sekolah, dan apatis—sering kali adalah "akibat tidak adanya peran ayah". Dan, buku Italia, Gli imperfetti genitori (Orang Tua yang Tidak Sempurna), karya Marcello Bernardi, menandaskan bahwa untuk berkembang dengan baik, idealnya anak membutuhkan kedua orang tua.

Kehidupan Keluarga Dapat Diperbaiki
Bahkan seandainya seorang ayah yang bersikap masa bodoh telah turut menyebabkan masalah dalam keluarga atau sangat bertanggung jawab atas sebagian besar masalah, tidak berarti masalahnya tidak dapat dikoreksi agar kehidupan keluarga menjadi lebih baik. Bagaimana caranya? Apa yang perlu dilakukan sang ayah?

Jelaslah, anak membutuhkan keluarga yang utuh, yang dikepalai oleh seseorang yang peduli akan kesejahteraan mereka. Apabila kebutuhan ini tidak dipenuhi, seperti yang sering terjadi dewasa ini, pengaruhnya sangat merugikan kehidupan anak. Namun, selalu ada harapan, tidak soal ada ayah atau tidak. "Bapak bagi anak-anak lelaki yatim," kata (buku panduan kehidupan) di Mazmur 68:5 ialah,..*



Cara memperoleh Bantuan
Bukti bahwa bantuan [Pencipta] sangat penting untuk berhasil dan bahwa bantuan itu dapat diperoleh diperlihatkan dalam situasi Lidia, gadis asal Polandia yang disebutkan dalam artikel sebelumnya. Seperti apakah bantuan keluarga dirumahnya? Bagaimana keluarga itu menerima bantuan Allah [Pencipta]?# (lihat catatan kaki pengalaman mereka)

Keputusan Pejabat Jawatan Kereta Api
Jelaslah, anak membutuhkan ayah yang selalu memikirkan kesejahteraan mereka sewaktu mengambil keputusan. Putra dari Takeshi Tamura, pejabat di Jepang yang disebutkan di artikel awal, pernah bergaul dengan teman-teman yang amoral dan tampaknya bakal mengalami problem yang serius. Pada tahun 1986, Takeshi memutuskan untuk meletakan jabatannya yang penting di Jawatan Kereta Api Jepang. Sekarang, lebih dari 18 tahun, bagaimana perasaan Takeshi mengenai keputusannya?

"Tampaknya, itulah keputusan yang terabaik yang pernah saya ambil," katanya belum lama ini, "Menggunakan banyak waktu bersama putra saya dan melakukan banyak hal bersama-sama, termasuk mempelajari Alkitab bersamanya, memang luar biasa pengaruhnya. Kami menjadi sahabat, dan ia menghentikan pergaulan buruknya dan perilakunya yang tidak pantas."% (catatan kaki)

Para Ayah Butuh Bantuan
Banyak ayah, meskipun menyadari bahwa mereka menelantarkan anak mereka, tidak tahu harus berbuat apa. Surat kabar Spanyol, La Vanguardia, menyajikan berita utama, "42 Persen Orang Tua [Spanyol] Mengakui Bahwa Mereka tidak Tahu Caranya Membesarkan Anak-Anak Remaja Mereka". Tetapi, hal itu juga berlaku atas para ayah yang anaknya masih belasan tahun serta masih balita. Bertentangan dengan apa yang dipikirkan banyak orang, anak-anak ini pun membutuhkan kehadiran dan perhatian dari seseorang ayah yang penuh perhatian.
Apa lagi yang dapat di pelajari untuk menjadi ayah yang baik? Siapa saja teladan yang terbaik bagi para ayah, dan apa yang dapat dipelajari dari mereka? Artikel penutup ..... akan mengulas pertanyaan ini.




Caranya Menjadi Ayah yang Baik
SEBUAH artikel mengenai kemerosotan kehidupan keluarga di majalah Economist diawali dengan pernyataan yang menarik, ”Menghasilkan anak itu mudah, menjadi ayah yang baik itu tidak.”
Meskipun dalam hidup ini ada banyak hal yang sulit dilakukan, salah satu yang tersulit—sekaligus yang terpenting—ialah menjadi ayah yang baik. Semua ayah seyogianya ingin menjadi ayah yang baik, karena kesejahteraan dan kebahagiaan keluarganya dipertaruhkan.

Kendati dalam penjara, Viktor
Gutschmidt berhasil menjadi
ayah yang baik


Putri-putri Viktor pada tahun 1965 Sewaktu dipenjarakan karena imannya,
Viktor membuat gambar-gambar (postcard)
ini untuk mengajar anak-anaknya





Mengapa Tidak Mudah
Singkatnya, alasan utama mengapa tidak mudah untuk menjadi ayah yang baik ialah ketidaksempurnaan warisan—baik di pihak orang tua maupun di pihak anak mereka. ”Kecenderungan hati manusia itu jahat sejak masa mudanya,” kata Alkitab. (Kejadian 8:21) Oleh karena itu, seorang penulis Alkitab mengakui, ”Dalam dosa aku dikandung ibuku.” (Mazmur 51:5; Roma 5:12) Kecenderungan melakukan apa yang jahat karena dosa warisan hanyalah satu rintangan yang mempersulit seseorang untuk menjadi ayah yang baik.

Dunia, atau sistem, ini juga merupakan rintangan yang sangat besar. Mengapa demikian? Karena, sebagaimana yang Alkitab jelaskan, ”seluruh dunia berada dalam kuasa si fasik”, yakni pribadi ”yang disebut Iblis dan Setan”. Alkitab juga menyebut Setan ”allah sistem ini”. Tidak heran, Yesus mengatakan bahwa seperti dirinya, para pengikutnya hendaknya ”bukan bagian dari dunia”!—1 Yohanes 5:19; Penyingkapan (Wahyu) 12:9; 2 Korintus 4:4; Yohanes 17:16.

Guna menjadi ayah yang baik, sangat penting untuk selalu menyadari adanya ketidaksempurnaan yang kita warisi, Setan si Iblis, dan dunia yang dikendalikannya. Rintangan ini bukan khayalan. Semuanya nyata! Tetapi, di mana seorang pria dapat mengetahui cara melawannya dan cara menjadi ayah yang baik?

Teladan Allah
Bantuan untuk mengatasi rintangan-rintangan tersebut dapat ditemukan dalam Alkitab. Di dalamnya ada berbagai contoh yang sangat bagus. Yesus menunjukkan teladan yang terbaik sewaktu ia mengajar para pengikutnya untuk berdoa, ”Bapak Kami yang di surga.” Mengenai Bapak surgawi kita, Alkitab mengatakan dengan gamblang, ”Allah adalah kasih.” Bagaimana seharusnya reaksi seorang ayah manusia terhadap teladan yang pengasih ini? ”Jadilah peniru Allah,” desak rasul Paulus, ”dan teruslah berjalan dengan kasih.”—Matius 6:9, 10; 1 Yohanes 4:8; Efesus 5:1, 2.

Jika Anda seorang ayah, perhatikanlah apa yang dapat Anda pelajari dari satu contoh saja ketika Allah berurusan dengan Yesus, Putra-Nya. Matius 3:17 memberi tahu kita bahwa sewaktu Yesus dibaptis dalam air, suara Allah terdengar dari surga, katanya, ”Inilah Putraku, yang kukasihi, kepadanyalah aku berkenan.” Apa yang dapat kita pelajari dari contoh ini?

Pertama-tama, pikirkan apa pengaruhnya atas seorang anak ketika ayahnya dengan bangga mengatakan kepada orang lain, ’Ini putraku’ atau ’Ini putriku’. Anak-anak tumbuh dengan baik apabila mendapat perhatian orang tua, terutama pujian dan pengakuan mereka. Seorang anak kemungkinan besar akan tergugah untuk lebih berupaya membuktikan bahwa ia layak dipuji dan diakui.

Kedua, Allah menyatakan perasaan-Nya mengenai Yesus dengan menyebutnya sebagai ”yang kukasihi”. Pernyataan kasih sayang dari Bapaknya pasti menghangatkan hati Yesus. Anak Anda pun akan mendapat semangat jika Anda memperlihatkan dengan kata-kata—disertai waktu, perhatian, dan kepedulian Anda—bahwa Anda sangat menyayangi mereka.

Ketiga, Allah memberi tahu Putra-Nya, ”Aku berkenan kepadamu.” (Markus 1:11) Hal ini juga sangat penting untuk dilakukan seorang ayah, yakni memberi tahu anaknya bahwa ia senang dengan mereka. Memang, seorang anak akan sering membuat kesalahan. Kita semua pun begitu. Tetapi, sebagai seorang ayah, apakah Anda selalu berupaya untuk menyatakan perkenan atas hal-hal baik yang dilakukan atau dikatakan anak Anda?

Yesus meniru Bapak surgawinya dengan baik. Sewaktu berada di bumi, ia mempertunjukkan dengan perkataan dan teladan bagaimana sebenarnya perasaan Bapaknya terhadap anak-anak-Nya di bumi. (Yohanes 14:9) Bahkan ketika sedang sibuk dan tertekan, Yesus meluangkan waktu untuk duduk dan bercakap-cakap dengan anak-anak. ”Biarkan anak-anak kecil itu datang kepadaku,” kata Yesus kepada murid-muridnya, ”jangan mencoba menghentikan mereka.” (Markus 10:14) Para ayah, dapatkah kalian mengikuti teladan Allah Yehuwa dan Putra-Nya dengan lebih sepenuhnya?

Teladan Itu Sangat Penting
Pentingnya menjadi teladan yang baik bagi anak-anak tidak dapat disepelekan. Upaya Anda untuk ’terus membesarkan mereka dengan disiplin dan pengaturan-mental dari Yehuwa’ kemungkinan besar tidak banyak pengaruhnya jika Anda sendiri tidak tunduk kepada disiplin dari Yehuwa dan membiarkan kehidupan Anda tidak diatur oleh disiplin itu. (Efesus 6:4) Namun, dengan bantuan Allah, Anda dapat mengatasi rintangan apa pun dalam memenuhi perintah-Nya untuk mengurus anak Anda.

Perhatikan teladan Viktor Gutschmidt, salah seorang Saksi-Saksi Yehuwa di bekas Uni Soviet. Pada bulan Oktober 1957, ia divonis sepuluh tahun hukuman penjara karena membicarakan kepercayaannya. Ia harus meninggalkan kedua putrinya dan juga istrinya, Polina. Selama di penjara, ia diizinkan menulis surat kepada keluarganya tetapi ia dilarang bercerita tentang Allah atau soal religius apa pun. Sekalipun menghadapi kesukaran ini, Viktor bertekad untuk menjadi ayah yang baik, dan ia tahu bahwa mengajar anak-anaknya tentang Allah adalah hal yang sangat penting. Jadi, apa yang ia lakukan?

”Saya menemukan bahan di majalah Kaum Muda Pencinta Alam dan Alam yang berbahasa Soviet,” kata Viktor. ”Di kartu-kartu pos, saya menggambar berbagai binatang serta orang dan menyertakan sebuah cerita atau pengalaman tentang alam.”

”Segera setelah kami menerima kartu-kartu pos ini,” kata Polina, ”kami langsung mengaitkannya dengan topik-topik Alkitab. Misalnya, ketika kartu itu memuat keindahan alam, hutan, atau sungai, saya langsung membaca Yesaya pasal 65,” yang menceritakan tentang janji-janji Allah untuk membuat bumi menjadi firdaus.

Putri Viktor, Yulia, menceritakan, ”Kemudian, Mama akan berdoa bersama kami, dan kami pun menangis. Kartu-kartu ini sangat berperan dalam pertumbuhan kami.” Polina mengatakan tentang hasilnya, ”Sejak masa kanak-kanak, putri-putri kami sangat mengasihi Allah.” Bagaimana keadaan keluarga ini sekarang?

Viktor menjelaskan, ”Sekarang, kedua putri saya masing-masing telah menikah dengan penatua Kristen, dan keduanya memiliki keluarga yang kuat secara rohani dengan anak-anak yang dengan setia melayani Yehuwa.”

Sering kali, untuk menjadi teladan, dibutuhkan tidak hanya ketulusan tetapi juga upaya yang besar. Hati anak kemungkinan besar akan tersentuh apabila mereka melihat ayah mereka berupaya keras memberikan teladan. Seorang putra yang telah bertahun-tahun melayani dalam dinas sepenuh waktu bercerita tentang ayahnya dengan penuh penghargaan, ”Kadang-kadang, Papa pulang kerja dalam keadaan sangat lelah dan mengantuk, tetapi kami tetap mengadakan pelajaran Alkitab, dan hal ini membantu kami menghargai seriusnya hal itu.”

Jelaslah, memberikan teladan—dalam perkataan maupun tindakan—sangat penting untuk menjadi ayah yang baik. Anda perlu melakukannya jika Anda ingin mengalami kebenaran kata-kata amsal Alkitab ini, ”Latihlah anak laki-laki menurut jalan untuknya; bahkan pada waktu ia tua, ia tidak akan menyimpang darinya.”—Amsal 22:6.

Jadi, ingatlah, yang terpenting bukan hanya apa yang Anda katakan, melainkan apa yang Anda lakukan—teladan Anda sendiri. Seorang pakar pendidikan anak-anak dari Kanada menulis, ”Cara terbaik membuat anak kita berperilaku baik [seperti yang kita kehendaki] ialah dengan memperlihatkannya melalui perilaku kita sendiri.” Ya, jika Anda ingin anak Anda menghargai hal-hal rohani, sangat penting agar Anda sendiri juga menghargainya.

Sediakan Waktu untuk Mereka!
Anak Anda perlu melihat teladan Anda. Artinya, Anda perlu meluangkan banyak waktu dengan mereka, bukan hanya kalau sempat. Langkah yang bijaksana ialah menaati nasihat Alkitab untuk ”membeli semua waktu yang ada”, yakni, mengesampingkan hal-hal yang kurang penting agar dapat bersama mereka. (Efesus 5:15, 16) Sebenarnya, apakah ada yang lebih penting daripada anak Anda? Televisi layar lebar, tamasya, rumah bagus, pekerjaan Anda?

Ada ungkapan yang kerap terdengar, ’Bayar sekarang, atau bayar belakangan’. Para ayah yang anak-anaknya terjerumus ke dalam perbuatan yang amoral atau bahkan gaya hidup yang tidak rohani sering kali merasa sangat menyesal. Mereka menyesal tidak menyisihkan waktu bersama anak-anak justru di saat mereka sangat membutuhkan seorang ayah.

Ingatlah, saat anak Anda masih kecil adalah saatnya Anda memikirkan konsekuensi pilihan Anda. Alkitab menyebut anak Anda ”milik pusaka dari Yehuwa”, sesuatu yang Allah sendiri percayakan kepada Anda. (Mazmur 127:3) Maka, jangan pernah lupa bahwa Anda bertanggung jawab kepada Allah sehubungan dengan mereka!


Bantuan Tersedia
Seorang ayah yang baik berminat untuk menerima bantuan yang akan bermanfaat bagi anaknya. Setelah seorang malaikat memberi tahu istri Manoah bahwa ia akan melahirkan seorang anak, Manoah berdoa kepada Allah, ”Biarlah kiranya ia datang lagi kepada kami dan mengajar kami mengenai apa yang harus kami lakukan kepada anak yang akan lahir itu.” (Hakim 13:8, 9) Seperti orang tua dewasa ini, bantuan macam apa yang Manoah butuhkan? Mari kita lihat.

Brent Burgoyne, seorang dosen di Universitas Cape Town, Afrika Selatan, menyatakan, ”Salah satu hadiah terbesar yang dapat diberikan kepada seorang anak ialah mengajarinya seperangkat nilai.” Fakta bahwa anak-anak perlu diajari nilai-nilai itu terlihat dari sebuah laporan dari surat kabar Daily Yomiuri di Jepang, yang menyatakan, ”[Suatu] survei memperlihatkan bahwa 71 persen anak di Jepang tidak pernah diberi tahu ayah mereka bahwa mereka tidak boleh berdusta.” Komentar yang menyedihkan, bukan?

Siapa yang dapat menyediakan seperangkat nilai yang dapat diandalkan? Pribadi yang juga memberikan bimbingan kepada Manoah—Allah sendiri! Untuk menyediakan bantuan, Allah mengirim Putra yang ia kasihi, Yesus, sebagai Guru—sebutannya yang umum. Kini, buku Belajarlah dari sang Guru Agung, yang didasarkan pada pengajaran Yesus, tersedia dalam banyak bahasa untuk Anda gunakan sewaktu mengajar anak-anak. [pesan buku Belajarlah dari sang Guru Agung -click link ini]

salah satu ilustrasi didalam buku
Belajarlah dari sang Guru Agung



Buku Belajarlah dari sang Guru Agung tidak hanya menjelaskan nilai-nilai yang didasarkan pada Firman Allah tetapi juga mengilustrasikan teks tercetaknya dengan lebih dari 160 gambar disertai pertanyaan yang jitu. Contohnya, pasal 22, yang berjudul ”Alasan Kita Tidak Boleh Berdusta”, memuat gambar yang diperlihatkan di halaman 32 dalam majalah ini. Bahan pelajaran di halaman yang ada gambar itu mengatakan, ”Mungkin seorang anak laki-laki berkata kepada ayahnya, ’Tidak, saya tidak menendang bola di dalam rumah.’ Tetapi, bagaimana jika ia benar-benar melakukannya? Apakah salah untuk mengatakan bahwa ia tidak melakukannya?”

Pelajaran yang jitu juga terdapat dalam pasal-pasal yang berjudul, ”Ketaatan Akan Melindungimu”, ”Kita Perlu Melawan Godaan”, ”Pelajaran mengenai Kebaikan Hati”, ”Jangan Sekali-kali Menjadi Pencuri!”, ”Apakah Semua Pesta Menyenangkan Allah?”, ”Cara Menyenangkan Allah”, dan ”Mengapa Kita Perlu Bekerja?”, yang hanyalah sebagian kecil dari 48 pasal dalam buku ini.

Kata pengantar buku ini menyimpulkan, ”Anak-anak teristimewa perlu diarahkan kepada Sumber segala hikmat, Bapak surgawi kita, Allah Yehuwa. Hal itulah yang selalu dilakukan oleh Yesus, sang Guru Agung. Kami dengan tulus berharap bahwa buku ini akan membantu Saudara dan keluarga Saudara untuk membentuk kehidupan kalian agar dapat menyenangkan Yehuwa, sehingga kalian memperoleh berkat kekal.”

Jelaslah, menjadi ayah yang baik mencakup memberikan teladan kepada anak Anda, meluangkan banyak waktu bersama mereka, dan membantu mereka untuk hidup selaras dengan standar-standar Allah sebagaimana yang telah Ia singkapkan dalam Alkitab.
Appeared in Awake! by Official Web Site of Jehovah’s Witnesses August 22, 2004 & Di sadur kembali melalui iblogronnp.com edit entry by Ronald Nicolasp




TIPS MENJADI AYAH YANG BAIK

”Hai, bapak-bapak, janganlah membuat anak-anakmu kesal, agar mereka tidak patah semangat.”—Kolose 3:21.

BAGAIMANA seorang ayah dapat bertindak agar tidak sampai membuat anak-anaknya kesal? Sangat penting bahwa ia menyadari betapa berharganya peran sebagai ayah. ”Menjadi seorang ayah ternyata merupakan fenomena yang rumit dan unik disertai konsekuensi yang besar akan pertumbuhan emosi dan intelek anak-anak,” kata sebuah jurnal kesehatan mental.

Apa peranan seorang ayah? Dalam banyak keluarga, ayah terutama dianggap sebagai orang yang menegakkan disiplin. Banyak ibu berkata kepada anak yang nakal, ’Tunggu saja nanti kalau ayahmu sudah pulang!’ Memang, anak-anak membutuhkan disiplin yang seimbang dan cukup tegas jika mereka ingin bertumbuh menjadi orang dewasa yang baik. Namun, banyak hal yang tersangkut untuk menjadi ayah yang baik.

Sungguh menyedihkan, tidak setiap ayah mempunyai anutan yang dapat membantu mereka. Beberapa pria dibesarkan tanpa kehadiran ayah di rumah. Namun dalam kasus lain, ada pria yang karena dibesarkan oleh ayah yang keras dan kaku mungkin cenderung memperlakukan anak-anak mereka dengan cara yang serupa. Bagaimana seorang ayah menghentikan pola tersebut dan meningkatkan keterampilannya dalam mengasuh anak-anak?

Ada sumber nasihat yang praktis dan dapat dipercaya tentang caranya menjadi ayah yang baik. Alkitab memuat nasihat paling ampuh mengenai kehidupan keluarga. Nasihatnya bukan sekadar teori; dan pedoman yang diberikan tidak akan mencelakakan kita. Nasihat Alkitab mencerminkan hikmat dari Pengarangnya, Allah Yehuwa, yang adalah Pemrakarsa kehidupan keluarga. (Efesus 3:14, 15) Jika Anda seorang ayah, ada baiknya Anda memperhatikan apa yang dikatakan Alkitab tentang pengasuhan anak.

Menjadi ayah yang baik tidak hanya penting bagi kesejahteraan fisik dan emosi anak-anak Anda tetapi juga bagi kesejahteraan rohani mereka. Seorang anak yang mempunyai hubungan yang akrab dengan ayahnya akan memudahkannya untuk membina hubungan yang dekat dan akrab dengan Allah. Lagi pula, Alkitab memperlihatkan bahwa dalam arti tertentu, Yehuwa, Pencipta kita, adalah Bapak bagi kita. (Yesaya 64:8) Sekarang mari kita bahas enam hal yang dibutuhkan anak-anak dari ayah mereka. Dalam setiap kasus, kita akan memeriksa bagaimana prinsip-prinsip Alkitab dapat membantu seorang ayah memenuhi kebutuhan tersebut.

1 Anak-Anak Membutuhkan Kasih Bapak Mereka

Yehuwa memberikan teladan yang sempurna sebagai seorang Bapak. Sewaktu menggambarkan bagaimana perasaan Allah tentang Yesus, Putra sulung-Nya, Alkitab mengatakan, ”Bapak mengasihi Putra.” (Yohanes 3:35; Kolose 1:15) Lebih dari satu kali, Yehuwa mengungkapkan kasih dan perkenan-Nya terhadap Putra-Nya. Sewaktu Yesus dibaptis, Yehuwa berbicara dari surga, dengan mengatakan, ”Engkaulah Putraku, yang kukasihi; aku berkenan kepadamu.” (Lukas 3:22) Yesus tidak pernah meragukan kasih Bapaknya terhadapnya. Apa yang dapat dipelajari seorang bapak manusia dari teladan Allah?

Jangan pernah merasa enggan memberi tahu anak-anak Anda bahwa Anda mengasihi mereka. Kelvin, ayah lima orang anak, mengatakan, ”Saya selalu berupaya menyatakan kasih saya terhadap anak-anak saya tidak hanya dengan mengatakan bahwa saya mengasihi mereka tetapi juga dengan memperlihatkan minat pribadi kepada mereka masing-masing. Saya turut mengganti popok mereka dan memandikan mereka.” Selain itu, anak-anak perlu mengetahui bahwa mereka mendapatkan perkenan Anda. Karena itu jangan terlalu kritis, atau terus-menerus mengoreksi mereka. Sebaliknya, bermurah hatilah dalam memberikan pujian. Donizete, ayah dari dua remaja putri, menyarankan, ”Seorang ayah hendaknya bersungguh-sungguh mencari kesempatan untuk memuji anak-anaknya.” Jika mereka mengetahui bahwa mereka mendapatkan perkenan Anda, hal itu akan membantu mereka memiliki harga diri yang sehat. Selanjutnya, hal itu dapat membantu mereka mendekat kepada Allah.

2 Anak-Anak Membutuhkan Teladan

Yesus ”hanya melakukan apa yang ia lihat dilakukan oleh Bapak”, kata Yohanes 5:19. Perhatikan ayat itu mengatakan bahwa Yesus melihat dan mempraktekkan apa yang ”dilakukan” oleh Bapaknya. Anak-anak sering kali berbuat hal yang sama. Misalnya, jika sang ayah memperlakukan istrinya dengan penuh respek dan bermartabat, putranya akan bertumbuh dewasa dengan memperlakukan kaum wanita dengan bermartabat dan penuh respek. Bukan sikap anak laki-laki saja yang dipengaruhi oleh teladan ayah mereka melainkan juga pandangan anak-anak perempuan terhadap pria dapat dipengaruhi oleh teladan yang diberikan ayah mereka.

Apakah anak-anak Anda sukar untuk mengampuni? Sekali lagi, teladan sangat penting. Kelvin mengingat suatu peristiwa sewaktu dua putranya merusakkan sebuah kamera yang mahal. Ia begitu marah sampai-sampai ia memukul sebuah meja kayu hingga terbelah dua. Kelvin merasa kurang enak setelah itu karena tidak dapat mengendalikan emosinya dan meminta maaf kepada semua, termasuk kepada istrinya. Ia merasa permintaan maafnya berpengaruh positif terhadap anak-anaknya; mereka tidak merasa sulit untuk mengaku salah dan meminta maaf.

3 Anak-Anak Membutuhkan Suasana yang Bahagia

Yehuwa adalah ”Allah yang bahagia”. (1 Timotius 1:11) Tidaklah mengherankan, Putra-Nya, Yesus, sangat bersukacita bersama Bapaknya. Amsal 8:30 membantu kita memahami hubungan antara Yesus dan Bapaknya, ”Aku ada di sisinya [Bapak] sebagai pekerja ahli, . . . karena aku bergembira di hadapannya pada segala waktu.” Alangkah hangatnya hubungan antara Bapak dan Putra itu!

Anak-anak Anda membutuhkan suasana yang bahagia. Menyisihkan waktu untuk bermain dengan anak-anak Anda dapat membantu menciptakan suasana demikian. Bermain bersama-sama menjalin hubungan yang akrab antara orang tua dan anak. Felix, ayah dari seorang remaja putra, setuju dengan hal itu dan berkata, ”Menyisihkan waktu untuk berekreasi dengan putra saya sangat penting untuk hubungan kami. Kami melakukan permainan bersama-sama, bergaul dengan teman-teman, dan mengunjungi tempat-tempat yang menarik. Hal ini telah memperkuat ikatan yang hangat dan kebersamaan dalam keluarga kami.”

4 Anak-Anak Perlu Diajar Nilai-Nilai Rohani

Yesus diajar oleh Bapaknya. Karena itu, Yesus dapat mengatakan, ”Hal-hal yang aku dengar dari dia [Bapak], aku bicarakan dalam dunia.” (Yohanes 8:26) Di mata Allah, seorang ayah bertanggung jawab untuk mendidik anak-anak secara moral dan rohani. Salah satu tanggung jawab Anda sebagai seorang ayah ialah untuk menanamkan prinsip-prinsip yang adil-benar ke dalam hati anak-anak Anda. Pelatihan demikian harus dimulai sejak bayi. (2 Timotius 3:14, 15) Felix mulai membacakan cerita Alkitab kepada putranya sewaktu masih kecil. Ia menggunakan cerita-cerita yang menarik dengan gambar beraneka warna, termasuk yang terdapat dalam Buku Cerita Alkitab. Seraya putranya semakin dewasa, Felix memilih publikasi berdasarkan Alkitab lainnya yang cocok dengan usia putranya.

Donizete mengatakan, ”Merupakan tantangan untuk menjadikan pelajaran Alkitab keluarga menyenangkan. Penting agar orang tua memperlihatkan bahwa mereka menghargai hal-hal rohani, karena anak-anak cepat melihat jika orang tua tidak konsisten antara perkataan mereka kepada anak-anak dan tindakan mereka.” Carlos, yang mempunyai tiga putra, berkomentar, ”Kami mengadakan pertemuan mingguan untuk membahas kebutuhan keluarga. Setiap anggota keluarga mendapat kesempatan untuk memilih masalah yang akan dibahas.” Kelvin selalu mencari kesempatan untuk berbicara kepada anak-anaknya tentang Allah di mana pun mereka berada dan apa pun yang sedang mereka lakukan. Hal itu mengingatkan kita akan kata-kata Musa, ”Perkataan ini yang kuperintahkan kepadamu hari ini harus ada di dalam hatimu; dan engkau harus menanamkan semua itu dalam diri putramu dan membicarakannya apabila engkau duduk di rumahmu dan apabila engkau sedang dalam perjalanan dan apabila engkau berbaring dan apabila engkau bangun.”—Ulangan 6:6, 7.

5 Anak-Anak Membutuhkan Disiplin

Anak-anak membutuhkan disiplin agar mereka dapat bertumbuh menjadi orang dewasa yang produktif dan bertanggung jawab. Ada orang tua yang beranggapan bahwa untuk mendisiplin anak-anak perlu sikap yang keras, termasuk memberi ancaman atau hukuman. Namun, Alkitab tidak mengaitkan disiplin orang tua dengan sikap yang keras. Sebaliknya, orang tua harus mendisiplin dalam kasih, seperti yang Yehuwa lakukan. (Ibrani 12:4-11) Alkitab mengatakan, ”Bapak-bapak, janganlah membuat anak-anakmu kesal, tetapi teruslah besarkan mereka dengan disiplin dan pengaturan-mental dari Yehuwa.”—Efesus 6:4.

Kadang-kadang, hukuman mungkin diperlukan. Namun, seorang anak perlu memahami mengapa ia dihukum. Disiplin orang tua hendaknya tidak membuat seorang anak merasa ditolak. Alkitab tidak menyetujui pemukulan yang keras, yang bisa melukai seorang anak. (Amsal 16:32) Kelvin mengomentari, ”Sewaktu saya merasa perlu mengoreksi anak-anak tentang hal-hal yang serius, saya selalu memastikan bahwa motif saya dalam mengoreksi mereka ialah kasih saya terhadap mereka.”

6 Anak-Anak Perlu Dilindungi

Anak-anak perlu dilindungi dari pengaruh-pengaruh yang tidak sehat dan teman-teman bergaul yang bisa mencelakakan. Sungguh menyedihkan, ada ”orang-orang fasik” dalam dunia ini yang memang berupaya memangsa anak-anak yang polos. (2 Timotius 3:1-5, 13) Bagaimana Anda dapat melindungi anak-anak Anda? Alkitab memberikan nasihat yang bijak ini, ”Cerdiklah orang yang melihat malapetaka kemudian menyembunyikan diri, tetapi orang yang kurang berpengalaman berjalan terus dan pasti menderita hukuman.” (Amsal 22:3) Untuk melindungi anak-anak dari malapetaka, Anda harus waspada terhadap bahaya. Antisipasilah situasi-situasi yang dapat menimbulkan masalah, dan ambillah tindakan pencegahan yang perlu. Sebagai contoh, jika Anda mengizinkan anak-anak menggunakan Internet, pastikan bahwa mereka tahu bagaimana menggunakannya dengan aman. Adalah baik untuk menaruh komputer di tempat terbuka sehingga dengan mudah Anda dapat memantau penggunaannya.

Seorang ayah perlu mempersiapkan dan melatih anak-anaknya menghadapi bahaya yang mungkin timbul dalam dunia yang penuh pelecehan ini. Tahukah anak-anak Anda apa yang harus mereka lakukan andaikan ada orang yang mencoba melecehkan mereka sewaktu Anda tidak ada? Anak-anak Anda perlu mengetahui penggunaan yang patut dan tidak patut dari anggota-anggota tubuh mereka yang bersifat pribadi. Kelvin berkomentar, ”Saya tidak pernah mempercayakan pelatihan ini kepada orang lain, bahkan kepada guru-guru mereka sekalipun. Saya merasa bahwa merupakan tanggung jawab pribadi saya untuk mengajar anak-anak saya tentang seks dan bahaya pelecehan seksual.” Semua anaknya aman sampai mencapai umur dewasa dan sekarang mempunyai perkawinan yang bahagia.

Mencari Bantuan Allah

Hadiah terbesar yang dapat diberikan seorang ayah kepada anak-anaknya ialah bantuan untuk mengembangkan hubungan pribadi yang kuat dengan Allah. Teladan sang ayah mutlak diperlukan. Donizete mengatakan, ”Para ayah perlu memperlihatkan betapa besarnya nilai hubungan pribadi mereka dengan Allah. Hal ini khususnya harus nyata pada waktu menghadapi masalah atau kesulitan pribadi. Dalam situasi seperti itu, sang ayah memperlihatkan betapa kuat keyakinannya terhadap Yehuwa. Doa keluarga, yang sering mengungkapkan penghargaan kepada Allah atas kebaikan-Nya, akan mengajar anak-anak pentingnya memiliki Allah sebagai Sahabat mereka.”

Kalau begitu, apa kuncinya untuk menjadi seorang ayah yang baik? Carilah nasihat dari pribadi yang paling tahu cara membesarkan anak—Allah Yehuwa. Jika Anda melatih anak-anak Anda mengikuti bimbingan Firman Allah, boleh jadi Anda akan melihat hasil seperti yang digambarkan di Amsal 22:6, ”Bahkan pada waktu ia tua, ia tidak akan menyimpang darinya.”

[Catatan Kaki]

Meskipun nasihat Alkitab yang dibahas dalam artikel ini terutama menyoroti peranan ayah, banyak dari prinsipnya dapat juga diterapkan oleh para ibu.

Diterbitkan oleh Saksi-Saksi Yehuwa.

















_______________
[Catatan Kaki]
* "Allah di tempat tinggalnya yang kudus." Silahkan lihat pasal "Keluarga dengan Orang Tua Tunggal Dapat Berhasil!" dalam buku Rahasia Kebahagiaan Keluarga, yang diterbitkan oleh Saksi-Saksi Yehuwa.

# Franciszek, ayah Lidia, mengakui bahwa sewaktu anak-anaknya masih kecil, ia mengabaikan keluarganya, sebagaimana dilaporkan putrinya. Ia mengatakan, "Saya tidak peduli dengan apa yang dilakukan anak-anak kami. Saya tidak memperlihatkan kasih sayang, dan tidak ada ikatan apa pun di antara kami. Itu sebabnya, ia tidak tahu bahwa Lidia, sewaktu berusia 14 tahun, dan adik laki-laki bungsunya telah terlibat dalam pesta liar, merokok, minum-minum, dan perkelahian.

Akhirnya, Franciszek mulai manyadari masalah yang dihadapi anak-anaknya, dan ia begitu kecewa sehingga memutuskan untuk bertindak. "Saya berdoa kepada Allah meminta bantua,n" katanya. Sungguh mengherankan, tak lama kemudian Saksi-Saksi Yehuwa berkunjung kerumahnya, dan ia serta istrinya setuju untuk belajar Alkitab. Belakangan, kedua orang tua ini menerapkan apa yang telah dipelajari dalam kehidupan mereka. Apa pengaruhnya atas anak-anak?

Franciszek menjelaskan, "Mereka mulai memperhatikan bahwa saya telah berhenti merokok dan menjadi ayah yang lebih baik. Mereka ingin lebih mengenal Saksi-Saksi Yehuwa. Mereka juga mulai belajar Alkitab dan tidak lagi terlibat dalam pergaulan yang buruk." Sang puta, Rafal, berkomentar tentang ayahnya, "Saya mulai mengasihinya sebagai sahabat." Ia menambahkan, Geng jalanan tidak menarik lagi. Kami sibuk dengan kegiatan rohani."

Fanciszek sekarang adalah penatua Kristen di sebuah sidang Saksi-Saksi Yehuwa, dan ia masih memperhatikan keluarganya serta pertumbuhan rohani mereka masing-masing. Istrinya dan Lidia adalah perintis, penginjil sepenuh waktu. Rafal dan adik perempuannya, Sylwia, dengan sepenuh jiwa ambil bagian dalam mengajarkan Alkitab, memberikan komentar di perhimpunan Kristen, dan memceritakan iman mereka kepada orang-orang lain.

Ia Menerapkan Apa yang Ia Ajarkan
Perhatikan juga apa yang terjadi dengan Luis, ayah Macarena. Ingatlah bahwa Macarena adalah gadis berusia 21 tahun di Spanyol yang dikutip di artikel awal. Kehidupan Luis meniru kehidupan ayahnya sendiri yang pemabuk. Sebagaimana yang dikatakan Macarena, ayahnya sering menghilang bersama teman-temannya selama berhari-hari. Selain itu, ia memperlakukan istrinya seperti babu bukannya sebagai mitra yang berharga. Perkawinan mereka di ambang kehancuran, dan Macarena serta adik-adiknya tertekan secara emosi.

Akan tetapi, belakangan Luis bersedia belajar Alkitab dengan Saksi-Saksi Yehuwa. Ia menjelaskan, "Saya mulai meluangkan waktu bersama istri dan anak-anak saya. Kami mengobrol bersama, makan bersama, dan belajar Alkitab bersama. Kami juga bersama-sama mengerjakan tugas rumah tangga dan berekreasi." Macarena mengatakan, "Saya mulai merasakan kehadiran seoramg ayah yang baik dan benar-benar memedulikan keluarganya."

Sungguh menarik, Luis tidak sekadar menganjurkan keluarganya untuk melayani Allah [Pencipta], tetapi ia sendiri mempraktekkan apa yang ia ajarkan. Ia meninggalkan "bisnis yang sedang maju pesat", jelas Macarena, "sebab bisnis itu menguras terlalu banyak waktu dan ia mau memberikan labih banyak perhatian kepada urusan keluarga". Pengaruhnya mengagumkan. "Teladannya telah mengajar kami caranya menjaga mata tetap sederhana dan mengutatamakan hal-hal rohani," kata Macarena. Sekarang Macarena melayani sebagai perintis, dan ibunya-serta adik-adiknya adalah anggota aktif di sidang Kristen.

% (Memang) Istri Takeshi telah menjadi salah seorang Saksi-Saksi Yehuwa beberapa tahun sebelumnya, dan teladannya dalam tingkah laku telah menggerakan seuaminya untuk mempelajari Alkitab dan lebih memperhatikan keluarganya. Akhirnya sang suami, putranya, dan putrinya semuanya menjadi Saksi. Takeshi dan putranya kini melayani sebagai Penatua di sidang mereka masing-masing, dan istri serta putrinya adalah perintis.