Jumat, 03 Juli 2009

Bantulah Anak-Anak Anda Mengatasi Stres

”Banyak anak mendapati tak seorang pun ada di rumah—secara fisik ataupun emosi—sewaktu mereka perlu mengutarakan sesuatu.”—Depression—What Families Should Know.

KELUARGA tepat bila disebut sebuah laboratorium emosi. Keluarga adalah pusat riset tempat seorang anak menguji kepercayaannya, mengamati hasilnya, dan mulai merumuskan kesimpulan tertentu berkenaan kehidupan. Bagaimana orang-tua dapat memastikan bahwa anak-anak mereka mengadakan pengujian yang penting demikian dalam suatu lingkungan yang sehat dan bukannya menegangkan?


Dengarkan
Buku The Child in Crisis mendesak orang-tua, ”Teruslah berdialog.” Sebagai jalur utama antara orang-tua dan anak, dialog khususnya penting manakala telah timbul peristiwa-peristiwa yang mengguncangkan di dalam keluarga. Jangan menyangka bahwa karena sang anak diam saja, ia tidak mengalami guncangan atau telah menyesuaikan diri. Ia mungkin memendam perasaan khawatir dan penderitaan secara diam-diam, sebagaimana yang terjadi atas seorang anak perempuan berusia tujuh tahun yang berat badannya naik 15 kilogram dalam enam bulan setelah orang-tuanya berpisah.

Kata ”dialog” menunjukkan bahwa dua atau lebih pembicara terlibat. Maka, orang-tua hendaknya tidak memborong seluruh percakapan. Rick dan Sue mencari bimbingan sewaktu putra mereka yang berusia enam tahun mengembangkan perilaku kasar yang tak terkendali di rumah. Setelah berjumpa dengan seluruh keluarga, sang penasihat mengamati sesuatu. ”Orang-tua terlalu menganalisa sesuatu secara intelektual, dengan penjelasan yang panjang dan sering kali berlebihan,” katanya. ”Lagi pula, orang-tua cenderung memonopoli percakapan dan saya dapat melihat anak-anak menjadi tidak sabar.” Merupakan hal yang bermanfaat untuk membiarkan anak-anak menyatakan dirinya. (Bandingkan Ayub 32:20.) Jika ia tidak dapat mengutarakan problemnya sewaktu hal itu berkembang, ia mungkin akan menyatakan problem itu melalui tingkah lakunya kelak.—Bandingkan Amsal 18:1.

Dialog penting bila disiplin dibutuhkan. Bagaimana perasaan sang anak berkenaan koreksi itu? Apakah ia mengerti mengapa itu diberikan? Sebaliknya daripada sekadar memberi tahu sang anak bagaimana seharusnya perasaannya, cari tahu apa yang ada di dalam hatinya. Menalarlah bersama sang anak sehingga ia dapat dibimbing kepada kesimpulan yang sepatutnya. ”Berikan makanan kepada pikirannya,” tulis Elaine Fantle Shimberg, ”tetapi biarkan anak Anda mengunyahnya sendiri.”

Menanggapi Perasaan
Beberapa orang-tua memotong dialog dengan pernyataan seperti, ”Jangan menangis.” ”Kau tidak seharusnya merasa seperti itu.” ”Hal itu tidak terlalu buruk.” Adalah jauh lebih baik untuk menanggapi perasaan sang anak. ”Saya mengerti, pasti ada yang telah membuatmu sedih.” ”Kau kelihatannya benar-benar bingung.” ”Saya tahu kau pasti kecewa.” Ini akan membuat dialog tetap lancar.

Buku How to Talk so Kids Will Listen & Listen so Kids Will Talk membuat pengamatan yang kuat dalam hal ini, ”Semakin Anda berupaya mengusir perasaan tidak senang sang anak, semakin ia tidak dapat mengenyahkan perasaan itu. Semakin Anda dapat menerima perasaan-perasaan negatif dengan baik, semakin mudah bagi sang anak untuk mengenyahkan perasaan demikian. Saya rasa Anda dapat mengatakan bahwa jika Anda ingin memiliki keluarga yang bahagia, Anda sebaiknya bersiap-siap untuk mendengarkan penyataan ketidakbahagiaan.”—Bandingkan Pengkhotbah 7:3.

Empati
”Karena kebanyakan orang dewasa memandang dunia seorang anak dari kacamata mereka sendiri,” tulis Mary Susan Miller, ”sulit bagi mereka untuk membayangkan ketegangan pada kehidupan orang lain selain kehidupan mereka sendiri.”

Ya, orang-tua dengan mudah melupakan penderitaan dan kekhawatiran yang mereka sendiri alami semasa mereka bertumbuh. Oleh karena itu, mereka sering meremehkan stres yang dirasakan anak-anak mereka. Orang-tua hendaknya ingat bagaimana rasanya menghadapi kematian binatang peliharaan, kematian seorang teman, pindah ke lingkungan yang baru. Mereka hendaknya mengenang kembali ketakutan mereka semasa kanak-kanak, bahkan yang tidak masuk akal. Mengingat adalah kunci untuk berempati.

Memberikan Teladan yang Benar
Bagaimana anak Anda menangani stres bergantung sejauh mana Anda sebagai orang-tua menangani itu. Apakah Anda berupaya mengurangi stres dengan melakukan kekerasan? Maka, jangan heran bila anak Anda melampiaskan kekhawatirannya dengan cara serupa. Apakah Anda memendam penderitaan Anda sewaktu Anda merasa sangat terganggu? Maka, bagaimana Anda dapat menuntut anak Anda bersikap terbuka dan mempercayai Anda? Apakah perasaan-perasaan tertekan begitu tersembunyi di rumah tangga Anda sehingga perasaan tersebut disangkal sebaliknya daripada ditanggapi dan diatasi? Maka jangan terkejut oleh dampak fisik dan emosi yang ditimbulkannya atas anak Anda, karena upaya apa pun untuk mengubur kekhawatiran biasanya hanya akan meningkatkan parahnya pelampiasan perasaan itu.

Membesarkan anak-anak di dunia yang sarat dengan stres ini menimbulkan tantangan khusus bagi orang-tua. Pengajaran Alkitab telah membantu banyak orang untuk mengatasi tantangan ini. Inilah apa yang seharusnya kita harapkan, karena Pengarang Alkitab juga adalah Pencipta kehidupan keluarga. ”Hikmat Allah dibenarkan oleh perbuatannya,” kata Yesus Kristus. (Matius 11:19) Dengan mempraktekkan prinsip-prinsip Alkitab, orang-tua akan mendapati bahwa Alkitab ”bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran”.—2 Timotius 3:16
____________________________________________________________________________________
Bila sang Anak Berupaya Mengakhiri Segalanya
”Apa yang akan terjadi jika saya tidur selama seratus tahun?” tanya Lettie kepada ayahnya. Pertanyaan yang kekanak-kanakan, pikir sang ayah. Tetapi Lettie tidak main-main. Beberapa hari kemudian, ia masuk rumah sakit karena telah menelan obat tidur sebotol penuh sekaligus.

Apa yang hendaknya Anda lakukan jika anak Anda berpikir tentang atau sudah melakukan upaya bunuh diri? ”Cari bantuan profesional segera,” desak buku Depression—What Families Should Know. ”Mengurus seseorang yang mencoba bunuh diri bukan pekerjaan para amatir, meskipun mereka sangat sayang pada orang yang depresi tersebut. Anda mungkin menyangka bahwa Anda telah berhasil berbicara dengan anggota keluarga Anda untuk tidak bunuh diri padahal selama ini yang dilakukannya hanyalah menutupi diri dan menyimpan perasaan itu dalam hatinya sampai perasaan itu akhirnya meledak dengan akibat-akibat yang mengerikan.”

Dengan perawatan yang sepatutnya, ada harapan bagi anak yang berupaya mengakhiri segalanya. ”Kebanyakan orang yang mencoba bunuh diri sebenarnya tidak ingin bunuh diri,” kata buku yang dikutip di atas. ”Mereka hanya ingin berhenti menderita. Upaya mereka merupakan seruan minta tolong.” Di sidang Kristen, orang-tua yang kehabisan akal dalam menangani kecenderungan untuk bunuh diri ini dapat menerima bantuan yang pengasih dan nasihat Alkitab yang baik dari para penatua.
____________________________________________________________________________________

[Tentang Child Abuse]

Jadikan Keluarga Anda Tempat yang Aman

TIDAK memiliki kasih sayang alami.” Dengan kata-kata yang menyedihkan itu, Alkitab melukiskan sifat banyak orang pada zaman kita, masa yang disebut ”hari-hari terakhir”. (2 Timotius 3:1, 3, 4) Epidemi pelecehan anak dalam keluarga memberikan bukti yang sangat jelas tentang kebenaran nubuat itu. Malah, kata Yunani asli a′stor gos, yang diterjemahkan ”tidak memiliki kasih sayang alami”, menyiratkan tidak adanya kasih yang semestinya ada di antara anggota-anggota keluarga, khususnya antara orang tua dan anak-anak.* Dan, sering kali pelecehan anak terjadi justru di dalam keluarga.

Beberapa peneliti mengatakan bahwa pelaku pelecehan seksual yang paling umum adalah bapak, kandung atau tiri. Kerabat lelaki lainnya juga sering menjadi pelaku. Meskipun kebanyakan korbannya adalah anak perempuan, banyak anak lelaki juga dicabuli. Pelakunya bisa juga wanita, yang jumlahnya mungkin lebih banyak daripada yang Anda duga. Bentuk pelecehan yang mungkin paling jarang dilaporkan adalah inses antara kakak adik, yaitu anak yang lebih tua atau lebih kuat memaksa atau merayu yang lebih muda atau lebih lemah untuk melakukan perbuatan seksual. Sebagai orang tua, Anda pasti merasa jijik dengan semua perbuatan tersebut.

Apa yang dapat Anda lakukan agar problem ini tidak sampai terjadi dalam keluarga Anda? Jelaslah, setiap anggota dari setiap keluarga perlu belajar dan menghargai prinsip-prinsip yang melarangkan perilaku bejat. Bimbingan terbaik semacam itu tersedia dalam Firman Allah, Alkitab.

Firman Allah dan Hubungan Badan
Agar sejahtera, setiap keluarga perlu mengikuti standar moral Alkitab. Alkitab tidak menabukan topik seks. Alkitab membahasnya secara bermartabat, terus terang, dan tidak bertele-tele. Diperlihatkan bahwa Allah merancang keintiman seksual sebagai kesenangan bagi suami dan istri. (Amsal 5:15-20) Akan tetapi, hubungan seksual di luar penyelenggaraan itu dikutuk. Misalnya, Alkitab berbicara secara terang-terangan tentang inses. Di Imamat pasal 18, berbagai jenis hubungan inses dilarang. Perhatikan khususnya kata-kata berikut, ”Kamu sekalian, siapa pun dari antara kamu, jangan mendekati kerabat dekatnya untuk menyingkapkan auratnya [untuk berhubungan seks]. Akulah Yehuwa.”—Imamat 18:6.

Yehuwa menyebutkan perbuatan inses di antara ’perkara memuakkan’ dengan sanksi hukuman mati. (Imamat 18:26, 29) Jelaslah, sang Pencipta mempunyai standar yang sangat tinggi mengenai hal ini. Dewasa ini, banyak pemerintah mempunyai pandangan yang sama, melarangkan pelecehan seksual anak dalam keluarga. Hukum sering menetapkan bahwa seorang anak yang disuruh melakukan hubungan seks oleh orang dewasa dianggap telah diperkosa. Mengapa digunakan kata yang keras demikian jika tidak terjadi pemaksaan secara fisik?

Banyak pakar mulai memahami apa yang sudah lama dikatakan Alkitab tentang anak-anak—bahwa mereka cenderung tidak bisa bernalar seperti cara orang dewasa. Misalnya, Amsal 22:15 mengatakan, ”Kebodohan terikat pada hati anak laki-laki.” Dan, rasul Paulus diilhami untuk menulis, ”Sewaktu aku kanak-kanak, aku . . . berpikir seperti kanak-kanak, bernalar seperti kanak-kanak; namun setelah aku menjadi pria dewasa aku membuang sifat kanak-kanak.”—1 Korintus 13:11.

Seorang anak tidak bisa memahami sepenuhnya makna perbuatan seksual, ia pun tidak bisa membayangkan akibat-akibatnya pada tahun-tahun mendatang. Karena itu, umum diterima bahwa anak-anak tidak bisa benar-benar setuju untuk melakukan hubungan seks. Dengan kata lain, jika seorang dewasa (atau anak muda yang jauh lebih tua) melakukan hubungan dengan seorang anak, orang yang lebih tua tersebut tidak bisa berdalih dengan mengatakan bahwa si anak tidak berkeberatan atau bahwa si anak yang memintanya. Orang dewasa itu bersalah melakukan pemerkosaan. Ini adalah tindak kejahatan, sering kali dengan ancaman hukuman penjara. Yang bertanggung jawab atas pemerkosaan itu adalah si pemerkosa, bukan korbannya.

Namun menyedihkan, dewasa ini kebanyakan pelaku kejahatan demikian luput dari hukuman kalangan berwenang. Di Australia, misalnya, diperkirakan bahwa hanya 10 persen pelanggarnya yang dituntut, dan hanya beberapa yang dinyatakan bersalah. Di negeri-negeri lain, sama saja. Meskipun pemerintah mungkin tidak bisa berbuat banyak untuk melindungi keluarga Kristen, penerapan prinsip-prinsip Alkitab dapat menjadi perlindungan yang jauh lebih ampuh.

Orang Kristen sejati menyadari bahwa Allah, yang menyuruh agar prinsip-prinsip tersebut dicatat dalam Firman-Nya, tidak berubah. Ia melihat setiap perbuatan yang kita lakukan, bahkan yang tersembunyi dari kebanyakan orang. Alkitab mengatakan, ”Segala sesuatu telanjang dan terbuka di mata dia yang kepadanya kita memberikan pertanggungjawaban.”—Ibrani 4:13.
Allah meminta pertanggungjawaban kita jika kita melanggar perintah-perintah-Nya dan menyakiti orang lain. Sebaliknya, Ia memberkati kita karena berpaut pada perintah-perintah-Nya yang positif mengenai kehidupan keluarga. Apa beberapa di antaranya?

Keluarga yang Dipersatukan oleh Kasih
”Kasih,” Alkitab memberi tahu kita, ”adalah ikatan pemersatu yang sempurna.” (Kolose 3:14) Sebagaimana diuraikan dalam Alkitab, kasih bukan sekadar perasaan. Kasih dicirikan oleh caranya ia memotivasi—untuk mempraktekkan tingkah laku yang dianjurkan dan menghindari perbuatan yang dilarangkan. (1 Korintus 13:4-8) Dalam lingkungan keluarga, memperlihatkan kasih berarti memperlakukan setiap anggota dengan bermartabat, penuh respek, dan baik hati. Itu berarti hidup selaras dengan cara Allah memandang setiap anggota keluarga. Allah memberi setiap anggota peranan yang terhormat dan penting.

Sebagai kepala keluarga, ayah harus mengambil inisiatif untuk memperlihatkan kasih. Ia tahu bahwa seorang ayah Kristen tidak dibenarkan menjadi diktator, menyalahgunakan kekuasaannya atas istri atau anak-anaknya. Sebaliknya, ia menganggap Kristus sebagai contoh dalam menjalankan kekepalaan. (Efesus 5:23, 25) Jadi, ia lembut dan penuh kasih terhadap istrinya serta sabar dan baik hati terhadap anak-anaknya. Dengan loyal ia melindungi mereka dan berbuat sebisa-bisanya agar tidak terjadi apa pun atas diri mereka yang bisa merampas kedamaian, kepolosan, atau rasa percaya serta keamanan mereka.

Demikian pula, istri dan ibu memiliki peranan yang sangat penting serta bermartabat. Alkitab menggunakan naluri induk binatang yang protektif untuk menggambarkan betapa protektifnya Yehuwa dan Yesus. (Matius 23:37) Demikian pula, seorang ibu harus gigih melindungi anak-anaknya. Dengan penuh kasih, ia cepat mendahulukan keamanan dan kesejahteraan mereka. Orang tua tidak akan menyalahgunakan kuasa, menganiaya, atau mengintimidasi sewaktu berurusan dengan satu sama lain atau dengan anak-anak mereka; mereka juga tidak membiarkan anak-anak mereka menggunakan cara-cara demikian terhadap satu sama lain.

Seraya setiap anggota keluarga memperlakukan anggota lainnya dengan respek serta bermartabat, komunikasi yang baik pun berkembang. Pengarang William Prendergast mengatakan, ”Semua orang tua harus berkomunikasi dengan anak-anak yang masih kecil atau sudah remaja dengan akrab dan teratur setiap hari.” Ia menambahkan, ”Hal ini tampaknya merupakan solusi terbaik mengatasi problem pelecehan seksual.” Sesungguhnya, Alkitab justru menyarankan komunikasi yang teratur dan pengasih demikian. (Ulangan 6:6, 7) Apabila petunjuk tersebut diterapkan, rumah adalah tempat setiap anggota keluarga dapat mengutarakan isi hati dengan leluasa dan aman.

Memang, kita hidup dalam dunia yang jahat dan tidak semua pelecehan dapat dicegah. Meskipun begitu, rumah yang aman dapat sangat membantu. Jika ada anggota keluarga terluka di luar rumah, ia tahu ke mana harus lari mencari penghiburan dan simpati. Rumah demikian benar-benar tempat berlindung yang aman dalam dunia yang kacau. Semoga Allah memberkati upaya Anda untuk membuat keluarga Anda menjadi tempat seperti itu!

_______________________________________________________________________________________
TIPS UNTUK RUMAH YANG AMAN
Internet: Jika anak-anak Anda bisa mengakses Internet, mereka perlu diberi petunjuk tentang cara penggunaan yang aman. Ada tak terhitung banyaknya situs pornografis serta chat room dan jaringan sosial lain yang digunakan para pelaku pedofilia untuk mencari dan merayu anak-anak. Komputer sebaiknya ditaruh di ruangan terbuka agar orang tua lebih mudah memonitor penggunaannya. Tanpa pengawasan orang tua, anak-anak tidak boleh sekali-kali memberikan data pribadi atau mengatur pertemuan dengan siapa pun yang mereka jumpai melalui Internet.—Mazmur 26:4.

Minuman Beralkohol: Kasus pelecehan seksual pada anak sering kali berkaitan dengan penggunaan alkohol. Pengalaman memperlihatkan bahwa orang dewasa yang minum berlebihan cenderung mengendurkan pengekangan diri; ada yang menyerah kepada nafsu yang bisa mereka tekan kalau tidak dipengaruhi alkohol. Bagaimanapun, bahaya ini menjadi alasan tambahan untuk mengindahkan nasihat Alkitab untuk menghindari pemabukan dan minum berlebihan.—Amsal 20:1; 23:20, 31-33; 1 Petrus 4:3.

Privasi: Seorang wanita mengenang, ”Setelah Ibu meninggal, hanya kamar tidur ayah saja yang jendelanya bergorden dan pintunya bisa dikunci. Kami tidak punya privasi—bahkan di kamar mandi.” Pria ini memperkosa semua anak perempuannya. Setiap anggota keluarga perlu mengerti pentingnya privasi. Sebagaimana orang tua adakalanya membutuhkan privasi dari anak-anak, mereka pun perlu memberi anak-anak privasi yang cocok seraya mereka bertambah besar. Orang tua yang bijaksana memperlakukan orang lain sebagaimana mereka sendiri ingin diperlakukan.—Matius 7:12.
_______________________________________________________________________________________




[Catatan Kaki]
• Kata Yunani kuno ini didefinisikan sebagai ”tidak berperasaan terhadap anggota keluarga”. Karena itu, sebuah terjemahan Alkitab mengalihbahasakan ayat ini, ”Mereka . . . tidak memiliki kasih sayang yang normal terhadap keluarga mereka.



Arsip Blog