APA gerangan ”Armagedon” itu? Secara sederhana, istilah itu memaksudkan kondisi atau situasi ketika para penguasa dunia dikumpulkan untuk melawan Allah dan Kerajaan-Nya di tangan Yesus Kristus. Dalam buku Alkitab Penyingkapan (Wahyu), rasul Yohanes mendapat suatu penglihatan tentang para penguasa yang berkumpul dan mengambil sikap menentang Allah di tempat simbolis yang disebut Armagedon.*
Kata ”Armagedon” hanya muncul satu kali dalam Alkitab, namun sekarang ini telah digunakan secara luas sebagai kiasan. Dari genosida nuklir sampai virus komputer, kata tersebut telah digunakan untuk menggambarkan bencana yang besar ataupun kecil. Beberapa buku terlaris telah ditulis berdasarkan apa yang disebut masa akhir, atau periode persis sebelum Armagedon. Sebuah serial novel dengan tema itu telah terjual lebih dari 60 juta eksemplar selama sepuluh tahun terakhir.
Beberapa orang takut pada Armagedon. Mereka merasa bahwa para teroris, bangsa-bangsa penyulut perang, atau malapetaka di luar kendali manusia akan menyebabkan bencana global, sehingga bumi tidak sanggup lagi menunjang kehidupan. Orang-orang lainnya yakin bahwa pada waktu yang ditentukan, Allah sendiri akan dengan murka memusnahkan planet kita dan segala sesuatu yang ada di dalamnya. Hal ini benar-benar akan menjadi peristiwa yang menakutkan! Tetapi, apa pengertian yang tepat tentang ”perang pada hari besar Allah Yang Mahakuasa” di Armagedon?—Penyingkapan 16:14, 16.
Apakah Bumi Akan Binasa?
Tidak semua manusia akan dibinasakan di Armagedon. Bagaimana kita mengetahui hal itu? Alkitab meyakinkan kita bahwa ”Yehuwa tahu bagaimana melepaskan orang-orang yang memiliki pengabdian yang saleh dari cobaan, tetapi menyimpan orang-orang yang tidak adil-benar bagi hari penghakiman untuk dimusnahkan”. (2 Petrus 2:9) Kalau begitu, kita dapat yakin bahwa Allah akan mengendalikan kuasa-Nya yang sangat dahsyat dengan sempurna. Hanya orang-orang yang tidak menaati kedaulatan Allah yang akan menghadapi kemarahan-Nya di Armagedon. Tidak akan ada korban yang terbunuh tanpa sengaja.—Mazmur 2:2, 9; Kejadian 18:23, 25.
Alkitab memberi tahu kita bahwa Allah akan ”membinasakan orang-orang yang sedang membinasakan bumi”. (Penyingkapan 11:18) Maka, jelaslah, maksud-tujuan Allah Yehuwa bukanlah untuk memusnahkan planet kita. Sebaliknya, Ia akan menyingkirkan masyarakat fasik yang menentang pemerintahan-Nya. Hal ini akan terjadi sesuai dengan pola yang Ia tetapkan pada saat Air Bah di zaman Nuh.—Kejadian 6:11-14; 7:1; Matius 24:37-39.
”Hari yang Menakutkan”
Memang, sejumlah nubuat Alkitab tentang pembinasaan yang akan datang sangat menggelisahkan. Misalnya, nabi Yoel menyebutkan ”hari Yehuwa yang hebat dan menakutkan itu”. (Yoel 2:31) Dalam gudang persenjataan Allah terdapat salju, hujan es, gempa bumi, penyakit menular, hujan deras yang membanjir, hujan api dan belerang, kekacauan memautkan, kilat, dan sebuah bala yang menyebabkan daging membusuk. (Ayub 38:22, 23; Yehezkiel 38:14-23; Habakuk 3:10, 11; Zakharia 14:12, 13) Dan, Alkitab secara gamblang melukiskan suatu waktu manakala orang mati akan menutupi permukaan bumi, dan dibiarkan seperti pupuk atau sebagai makanan burung dan hewan lainnya. (Yeremia 25:33, 34; Yehezkiel 39:17-20) Musuh-musuh Allah akan dicekam rasa takut selama perang itu.—Penyingkapan 6:16, 17.
Apakah ini berarti bahwa para penyembah yang taat dari Allah yang benar harus takut pada peristiwa-peristiwa mengejutkan yang akan terjadi di Armagedon? Tentu saja tidak, karena hamba-hamba Allah di bumi tidak akan ikut campur dalam konflik ini. Selain itu, mereka akan dilindungi oleh Yehuwa. Namun, para penganut ibadat sejati akan terkagum-kagum pada pertunjukan kuasa Allah yang menakutkan.—Mazmur 37:34; Amsal 3:25, 26.
Tetapi, menarik sekali, rasul Yohanes diilhami untuk meyakinkan kita, ”Berbahagialah orang yang menjalankan perkataan nubuat yang ada dalam gulungan ini”, dan hal itu mencakup peringatan tentang Armagedon. (Penyingkapan 1:3; 22:7) Dapatkah seseorang merasa bahagia sewaktu merenungkan tentang Armagedon? Bagaimana bisa demikian?
Seruan Allah untuk Bertindak
Sewaktu taifun, atau badai yang hebat, akan melanda, kalangan berwenang setempat memberikan peringatan untuk melindungi kehidupan. Untuk memastikan agar semua orang mendengar peringatan itu, polisi bahkan mungkin diutus dengan perlengkapan sistem peringatan atau dikirim untuk pergi dari rumah ke rumah. Tujuan dari semua ini bukannya untuk menakut-nakuti orang melainkan untuk membantu mereka mengambil tindakan penyelamatan. Orang-orang yang berdaya pengamatan menerima peringatan itu dengan senang hati, dan mereka yang menanggapi dengan positif akan berbahagia karena telah melakukannya.
Demikian pula halnya dengan berita peringatan Allah tentang ”angin badai” Armagedon yang sudah di ambang pintu. (Amsal 10:25) Yehuwa telah memberikan perincian tentang perang-Nya dalam Firman tertulis-Nya. Hasrat-Nya bukanlah untuk menakut-nakuti orang melainkan untuk memberikan peringatan yang memadai dan membimbing mereka agar bertobat dan mengerahkan upaya yang sungguh-sungguh untuk melayani Dia. (Zefanya 2:2, 3; 2 Petrus 3:9) Orang yang mengambil tindakan seperti itu akan menerima berkat berupa keselamatan. Oleh karena itu, kita tidak perlu takut pada perang Allah yang mendekat. Sebaliknya, kita dapat menatap masa depan dengan keyakinan bahwa ”setiap orang yang berseru kepada nama Yehuwa akan selamat”.—Yoel 2:32.
Salinan dari Sedarlah! 8/7/2005
”Perang yang Mengakhiri Segala Perang”
’Saya berjanji bahwa ini akan menjadi perang yang terakhir—perang yang mengakhiri segala perang.’—WOODROW WILSON, PRESIDEN AS (1913-21).
DEMIKIANLAH harapan yang sangat optimistis dari seorang pemimpin dunia pada akhir Perang Dunia I, sekitar 90 tahun yang lampau. Konflik global itu begitu mengerikan sehingga pihak-pihak yang menang tidak saja ingin tetapi juga harus yakin bahwa besarnya pengorbanan mereka akan membuahkan hasil yang langgeng. Namun, peperangan manusia hampir tidak pernah mengatasi problem, apalagi menyingkirkan akar penyebab dari peperangan itu sendiri.
Sekitar 20 tahun setelah Presiden Wilson membuat janji yang terburu-buru itu, pecahlah perang dunia kedua. Perang ini menelan lebih banyak korban dan menimbulkan lebih banyak kehancuran daripada perang sebelumnya. Kemajuan teknologi selama dua dasawarsa telah membuat umat manusia semakin ahli dalam melakukan pembunuhan massal. Seraya perang dunia kedua berakhir, para pemimpin dunia sadar bahwa perang bisa terjadi kapan saja.
Pada tahun 1945, Jenderal Douglas MacArthur dari AS mengumumkan, ”Kesempatan terakhir untuk mengakhiri perang sudah lewat. Jika kita tidak menciptakan sistem yang jauh lebih baik dan lebih adil, Armagedon sudah ada di depan kita.”
Jenderal MacArthur mengetahui akibat yang ditimbulkan dua bom atom atas kota Nagasaki dan Hiroshima menjelang berakhirnya perang dunia kedua. Kehancuran yang mengerikan atas kedua kota di Jepang itu telah membuatnya memberi makna yang baru pada kata ”Armagedon”—malapetaka nuklir yang akan sama sekali mengakhiri peradaban dari planet kita.
Perasaan khawatir akan kemungkinan terjadinya malapetaka nuklir terus menghantui umat manusia. Pada tahun 1960-an, negara-negara adikuasa telah menciptakan sebuah strategi yang disebut ”mutually assured destruction” atau kebinasaan bersama yang pasti. Tujuan mereka adalah untuk memiliki cukup peluru kendali atau sistem peluncuran guna menjamin penghancuran 25 persen penduduk sipil musuh dan 50 persen kapasitas industrinya—tidak soal pihak mana yang memulai konflik. Hanya sedikit yang merasa cukup aman dengan adanya strategi ini untuk menjaga perdamaian dunia.
Kini, senjata nuklir terus menjamur dan perang-perang regional terus menelan korban yang tidak terhitung banyaknya. Kemungkinan terjadinya malapetaka nuklir masih mengancam umat manusia. Meskipun orang-orang rindu melihat akhir peperangan, sedikit yang percaya bahwa perang atau strategi apa pun bisa berhasil mencapai tujuan ini.
Meskipun demikian, dalam Alkitab memang digambarkan adanya suatu perang unik yang akan mengakhiri segala perang. Perang ini disebut ”Armagedon”—istilah yang justru sering dikaitkan dengan bencana nuklir. Bagaimana Armagedon benar-benar akan mengakhiri perang? Artikel berikut akan menjawab pertanyaan ini.
Armagedon—Perang Allah yang Mengakhiri Segala Perang
”Bagi mereka, membunuh sesama manusia adalah perbuatan biadab; karena itu, di mata mereka perang adalah sesuatu yang tidak terbayangkan dan menjijikkan, yang tidak ada dalam kamus mereka.”—GAMBARAN TENTANG ORANG INUIT DI GREENLAND MENURUT FRIDTJOF NANSEN, PENJELAJAH NORWEGIA, PADA TAHUN 1888.
SIAPA yang tidak senang hidup di tengah-tengah masyarakat yang menganggap perang itu ”tidak terbayangkan dan menjijikkan”? Siapa yang tidak merindukan suatu dunia yang bahkan tidak mempunyai kata untuk perang karena peperangan itu sendiri tidak dikenal? Dunia semacam itu mungkin hanyalah impian, apalagi jika kita mengandalkan manusia untuk mewujudkannya.
Namun, dalam nubuat Yesaya, Allah sendiri berjanji akan mewujudkan suatu dunia seperti itu, ”Mereka akan menempa pedang-pedang mereka menjadi mata bajak dan tombak-tombak mereka menjadi pisau pemangkas. Bangsa tidak akan mengangkat pedang melawan bangsa, mereka juga tidak akan belajar perang lagi.”—Yesaya 2:4.
Jelaslah, dunia yang kini memiliki 20 juta prajurit yang aktif bertugas dan sekitar 20 perang yang sedang berkecamuk harus membuat perubahan yang drastis agar janji ini dapat diwujudkan. Maka tidak heran, Allah yang mahakuasa, Yehuwa, akan turun tangan dalam urusan manusia. Intervensi Yehuwa ini akan mencapai puncaknya pada perang yang Alkitab sebut Armagedon.—Penyingkapan (Wahyu) 16:14, 16.
Meskipun kata ”Armagedon” pada tahun-tahun belakangan ini digunakan untuk memaksudkan malapetaka nuklir sedunia, sebuah kamus menguraikan arti utama kata ini sebagai berikut: ”Tempat terjadinya konflik besar dan terakhir antara kuasa kebaikan dan kuasa kejahatan.” Apakah kebaikan akan mengalahkan kejahatan, atau apakah pertempuran demikian hanya suatu fiksi?
Kita dapat berbesar hati dengan memperhatikan bahwa Alkitab berulang kali mengatakan tentang berakhirnya kefasikan. ”Orang-orang berdosa akan dilenyapkan dari bumi,” demikian nubuat sang pemazmur. ”Mengenai orang-orang fasik, mereka tidak akan ada lagi.” (Mazmur 104:35) ”Orang yang lurus hatilah yang akan berdiam di bumi, dan orang yang tidak bercelalah yang akan disisakan di situ,” kata buku Amsal. ”Sedangkan orang fasik, mereka akan dimusnahkan dari bumi; dan mengenai pengkhianat, mereka akan direnggut dari situ.”—Amsal 2:21, 22.
Alkitab juga menunjukkan dengan jelas bahwa orang fasik tidak akan menyerahkan kuasanya dengan baik-baik; karena itu perlu tindakan tegas dari Allah untuk menyingkirkan semua yang jahat, termasuk peperangan yang tercela. (Mazmur 2:2) Nama yang diberikan Alkitab untuk konflik yang unik ini Armagedon, sangatlah penting.
Pertempuran Masa Lampau di Dekat Megido
Kata ”Armagedon” berarti ”Gunung Megido”. Kota kuno Megido, beserta Dataran Yizreel yang ada di sekitarnya, memiliki sejarah panjang sebagai lokasi pertempuran-pertempuran yang menentukan. ”Sepanjang sejarah, Megido dan Lembah Yizreel telah menjadi ajang pertempuran yang menentukan jalannya peradaban,” tulis sejarawan Eric H. Cline dalam bukunya The Battles of Armageddon.
Seperti yang disebutkan oleh Cline, pertempuran yang terjadi dekat Megido sering kali terbukti menentukan. Pasukan Mongol, yang menaklukkan sebagian besar Asia pada abad ke-13, menderita kekalahan mereka yang pertama di lembah ini. Tidak jauh dari Megido, pasukan Inggris yang dipimpin oleh Jenderal Edmund Allenby mengalahkan orang Turki pada waktu perang dunia pertama. Seorang sejarawan militer melukiskan kemenangan Allenby sebagai ”salah satu operasi militer yang paling cepat dipertarungkan dan pertempuran yang paling telak sepanjang sejarah”.
Alkitab juga mencatat beberapa pertempuran yang menentukan di dekat Megido. Di sana, Hakim Barak menaklukkan pasukan Sisera dari Kanaan. (Hakim 4:14-16; 5:19-21) Gideon, dengan pasukan kecil yang terdiri dari 300 orang, mengalahkan bala tentara Midian yang besar di sekitar lokasi itu. (Hakim 7:19-22) Tidak jauh dari situ, Raja Saul dan putranya Yonatan tewas di Gunung Gilboa sewaktu pasukan Filistin mengalahkan pasukan Israel.—1 Samuel 31:1-7.
Karena letak geografisnya yang strategis, Megido dan lembah di sekitarnya telah menjadi saksi bisu dari puluhan pertempuran dalam kurun waktu 4.000 tahun terakhir. Seorang sejarawan menghitung sedikitnya telah terjadi 34 pertempuran!
Tak diragukan lagi, sejarah Megido dan letaknya yang strategis berkaitan dengan penggunaan kata ”Armagedon” secara kiasan. Meskipun kata itu hanya disebutkan satu kali dalam Alkitab, pemunculannya dalam buku Penyingkapan dengan jelas memperlihatkan bahwa Armagedon akan mempengaruhi kehidupan setiap orang di bumi ini.
Armagedon Menurut Alkitab
Meskipun di masa lampau Megido telah menjadi ajang dari banyak pertempuran yang menentukan, tidak satu pun di antaranya yang berhasil menyingkirkan kefasikan. Tidak ada yang benar-benar merupakan pertarungan antara kuasa kebaikan dan kuasa kejahatan, dalam arti mutlak. Logisnya, bentuk konflik seperti ini harus berasal dari Allah. Seperti yang pernah Yesus katakan, ”tidak seorang pun yang baik, kecuali satu, yakni Allah”. (Lukas 18:19) Selain itu, Alkitab secara spesifik menyebut Armagedon sebagai perang Allah.
Dalam Alkitab, buku Penyingkapan mengatakan bahwa ”raja-raja seluruh bumi yang berpenduduk” akan dikumpulkan ”menuju perang pada hari besar Allah Yang Mahakuasa”. (Penyingkapan 16:14) Kemudian, catatan nubuat itu menambahkan, ”Lalu mereka mengumpulkan mereka ke tempat yang dalam bahasa Ibrani disebut Har–Magedon,” atau Armagedon. (Penyingkapan 16:16) Kemudian, Penyingkapan menjelaskan bahwa ”raja-raja di bumi dan bala tentara mereka” akan ”berkumpul untuk berperang melawan pribadi yang duduk di atas kuda itu dan bala tentaranya”. (Penyingkapan 19:19) Penunggang kuda itu tidak lain adalah Yesus Kristus.—1 Timotius 6:14, 15; Penyingkapan 19:11, 12, 16.
Apa yang dapat kita simpulkan dari ayat-ayat di atas? Bahwa Armagedon adalah perang antara Allah dan pasukan manusia yang tidak taat. Mengapa Yehuwa dan putra-Nya, Yesus Kristus, akan melakukan perang seperti itu? Salah satu alasannya, Armagedon akan ”membinasakan orang-orang yang sedang membinasakan bumi”. (Penyingkapan 11:18) Selain itu, perang tersebut akan menghasilkan dunia yang damai, suatu ”bumi baru yang kita nantikan sesuai dengan janji [Allah], tempat ”keadilbenaran akan tinggal”.—2 Petrus 3:13.
Mengapa Armagedon Diperlukan?
Apakah sulit bagi Anda untuk membayangkan bahwa Yehuwa, ”Allah kasih”, akan menugasi Putra-Nya, ”Pangeran Perdamaian”, untuk berperang? (2 Korintus 13:11; Yesaya 9:6) Jika kita memahami motif mereka pastilah masalahnya akan jelas. Buku Mazmur menggambarkan Yesus sebagai pejuang. Mengapa dia berperang? Kristus bertempur, jelas pemazmur, ”demi kebenaran dan kerendahan hati dan keadilbenaran”. Ia berperang karena ia mengasihi keadilbenaran dan membenci kefasikan.—Mazmur 45:4, 7.
Demikian pula, Alkitab melukiskan bagaimana tanggapan Yehuwa terhadap ketidakadilan yang Ia saksikan di dunia dewasa ini. ”TUHAN telah melihatnya, dan Ia tidak senang bahwa tak ada lagi keadilan,” tulis nabi Yesaya. ”Ia memakai keadilan dan keselamatan sebagai baju besi dan topi baja. Ia bertekad untuk memulihkan keadaan dan membalas ketidakadilan.”—Yesaya 59:15, 17, Bahasa Indonesia Masa Kini.
Selama orang fasik berkuasa, orang adil-benar tidak akan menikmati kedamaian dan keamanan. (Amsal 29:2; Pengkhotbah 8:9) Secara realistis, mustahil kita dapat memisahkan kebejatan dan kefasikan dari orang-orang yang mempraktekkannya. Jadi, demi terciptanya perdamaian dan keadilan yang langgeng harus ada harga yang dibayar—disingkirkannya semua orang fasik. ”Orang fasik adalah tebusan bagi orang adil-benar,” tulis Salomo.—Amsal 21:18.
Karena Allah-lah Hakimnya, kita dapat yakin bahwa dalam setiap kasus, penghakiman terhadap orang fasik akan dijalankan dengan adil-benar. ”Apakah Hakim segenap bumi tidak akan melakukan apa yang benar?” tanya Abraham. Akhirnya Abraham mengetahui jawabannya, bahwa Yehuwa selalu benar! (Kejadian 18:25) Selanjutnya, Alkitab meyakinkan kita bahwa Yehuwa tidak senang membinasakan orang fasik; Ia melakukannya hanya sebagai pilihan terakhir.—Yehezkiel 18:32; 2 Petrus 3:9.
Menanggapi Armagedon dengan Serius
Di pihak manakah Anda akan berada dalam konflik yang menentukan ini? Kebanyakan dari kita secara otomatis beranggapan bahwa kita tergabung dengan kuasa kebaikan. Tetapi, bagaimana kita dapat yakin? ”Carilah keadilbenaran, carilah kelembutan hati,” desak nabi Zefanya. (Zefanya 2:3) Menurut rasul Paulus, Allah menghendaki agar ”segala macam orang diselamatkan dan memperoleh pengetahuan yang saksama tentang kebenaran”.—1 Timotius 2:4.
Mempelajari kebenaran tentang Yehuwa dan maksud-tujuan-Nya untuk menyingkirkan kefasikan dari atas bumi ini adalah langkah pertama menuju keselamatan. Mempraktekkan keadilbenaran adalah langkah kedua, yang menghasilkan perkenan dan perlindungan Allah bagi kita.
Jika kita mengambil langkah-langkah yang penting ini, sebenarnya kita tidak perlu takut menghadapi Armagedon, karena itu adalah perang yang akan benar-benar mengakhiri peperangan manusia. Setelah perang itu usai, orang di mana-mana akan memandang perang sebagai sesuatu yang tidak terbayangkan dan menjijikkan. ”Mereka tidak akan lagi belajar perang”.—Yesaya 2:4, Terjemahan Baru.
Armagedon—Akhir yang Tragis?
ARMAGEDON! Apa yang terlintas dalam benak Saudara sewaktu mendengar kata itu? Penghancuran massal atau terbakarnya alam semesta? Tidak banyak ungkapan Alkitab yang begitu sering disebut dalam percakapan sehari-hari di banyak tempat, seperti halnya kata ”Armagedon”. Istilah ini banyak digunakan untuk menggambarkan masa depan suram yang dihadapi manusia. Industri hiburan mencekoki imajinasi orang-orang dengan adegan-adegan yang mengerikan tentang ”Armagedon” yang akan datang. Kata itu penuh misteri dan sering disalah mengerti. Walaupun terdapat banyak sekali gagasan mengenai arti kata Armagedon, kebanyakan tidak selaras dengan apa yang Alkitab—sumber dari ungkapan itu—ajarkan mengenai Armagedon.
Karena Alkitab mengaitkan Armagedon dengan ”kesudahan dunia”, tidakkah Saudara setuju bahwa memiliki pemahaman yang jelas tentang arti kata itu sangat penting? (Matius 24:3, Terjemahan Baru) Dan, bukankah masuk akal untuk berpaling kepada sumber kebenaran utama, Firman Allah, untuk mendapatkan jawaban mengenai apa Armagedon itu dan apa pengaruhnya terhadap Saudara serta keluarga Saudara?
Dari pemeriksaan semacam itu akan terlihat bahwa sebaliknya dari mendatangkan akhir yang tragis, Armagedon akan mendatangkan awal yang membahagiakan bagi orang-orang yang ingin hidup sejahtera dalam dunia baru yang adil-benar. Sewaktu Saudara memperhatikan pembahasan mengenai makna Armagedon yang sesungguhnya pada artikel berikut, Saudara akan memperoleh pemahaman yang jelas tentang kebenaran Alkitab yang sangat penting ini.
Armagedon—Awal yang Membahagiakan
KATA ”Armagedon” berasal dari istilah Ibrani ”Har–Magedon”, atau ”Gunung Megido”. Kata itu terdapat di Penyingkapan (Wahyu) 16:16, yang mengatakan, ”Mereka mengumpulkan mereka ke tempat yang dalam bahasa Ibrani disebut Har–Magedon.” Siapa yang dikumpulkan di Armagedon, dan mengapa? Dua ayat sebelumnya, Penyingkapan 16:14 menyatakan, ”Raja-raja seluruh bumi yang berpenduduk” dikumpulkan ”menuju perang pada hari besar Allah Yang Mahakuasa.” Pernyataan tersebut tentu menimbulkan pertanyaan-pertanyaan lain yang menarik. Di mana ”raja-raja” ini bertempur? Apa yang dipersengketakan, dan siapa lawan mereka? Apakah mereka akan menggunakan senjata penghancur massal, seperti yang dipercayai banyak orang? Apakah akan ada orang yang selamat dari Armagedon? Biarlah Alkitab menjawabnya.
Karena dikaitkan dengan ”Gunung Megido”, apakah itu berarti pertempuran Armagedon akan berlangsung di gunung tertentu di Timur Tengah? Tidak. Pertama-tama, gunung itu tidak benar-benar ada—di lokasi Megido kuno, hanya ada bukit setinggi kira-kira 21 meter dengan dataran lembah di sekitarnya. Selain itu, daerah di sekitar Megido tidak cukup besar untuk menampung semua ”raja-raja di bumi dan bala tentara mereka”. (Penyingkapan 19:19) Namun, beberapa pertempuran yang paling sengit dan menentukan dalam sejarah Timur Tengah berlangsung di Megido. Jadi, nama Armagedon melambangkan konflik yang menentukan, dengan hanya satu pemenang yang pasti.—Lihat kotak ”Megido—Lambang yang Cocok” di halaman 5.
Armagedon tidak mungkin sekadar konflik antarbangsa di bumi, karena Penyingkapan 16:14 menyatakan bahwa ”raja-raja seluruh bumi yang berpenduduk” membentuk front terpadu dalam ”perang pada hari besar Allah Yang Mahakuasa”. Dalam nubuatnya yang terilham, Yeremia mengatakan bahwa ”orang-orang yang dibunuh oleh Yehuwa” akan terserak ”dari ujung bumi sampai ke ujung bumi”. (Yeremia 25:33) Dengan demikian, Armagedon bukanlah perang antarmanusia di lokasi tertentu di Timur Tengah. Ini adalah perang Yehuwa, dan meliputi seluruh bumi.
Akan tetapi, perhatikan bahwa di Penyingkapan 16:16, Armagedon disebutkan sebagai nama suatu ”tempat”. Dalam Alkitab, ”tempat” dapat memaksudkan kondisi atau situasi—dalam hal ini, situasinya adalah seluruh dunia akan bersatu menentang Yehuwa. (Penyingkapan 12:6, 14) Di Armagedon, semua bangsa di bumi bersekutu melawan ”bala tentara yang ada di surga” yang panglimanya adalah ”Raja atas segala raja dan Tuan atas segala tuan”, Yesus Kristus.—Penyingkapan 19:14, 16.
Bagaimana dengan pendapat bahwa Armagedon akan berupa bencana yang melibatkan senjata penghancur massal atau tabrakan dengan benda-benda langit? Apakah Allah yang pengasih akan membiarkan umat manusia dan rumah mereka, bumi, mengalami akhir yang mengerikan itu? Tidak. Allah secara spesifik mengatakan bahwa Ia tidak menciptakan bumi ”dengan percuma” tetapi ”membentuknya untuk didiami”. (Yesaya 45:18; Mazmur 96:10) Di Armagedon, Yehuwa tidak akan membinasakan bola bumi kita dalam suatu bencana api. Tetapi, Ia akan ”membinasakan orang-orang yang sedang membinasakan bumi”.—Penyingkapan 11:18.
Armagedon—Kapan?
Selama berabad-abad, pertanyaan yang selalu muncul dan menimbulkan spekulasi yang tak ada habisnya adalah, Kapan Armagedon akan terjadi? Dengan memeriksa buku Penyingkapan sambil mengacu pada bagian-bagian lain Alkitab, kita dapat dibantu untuk menentukan kapan pertempuran yang sangat penting ini akan berlangsung. Penyingkapan 16:15 mengaitkan Armagedon dengan kedatangan Yesus seperti pencuri. Ilustrasi itu juga Yesus gunakan sewaktu melukiskan kedatangannya untuk menghukum sistem ini.—Matius 24:43, 44; 1 Tesalonika 5:2.
Seperti diperlihatkan oleh penggenapan nubuat-nubuat Alkitab, kita telah hidup pada hari-hari terakhir sistem ini sejak tahun 1914. Bagian akhir dari hari-hari terakhir akan ditandai oleh suatu jangka waktu yang Yesus sebut ”kesengsaraan besar”. Alkitab tidak menyebutkan lamanya jangka waktu itu, tetapi malapetaka yang ditimbulkannya akan lebih buruk daripada apa pun yang pernah terjadi. Kesengsaraan besar akan mencapai puncaknya di Armagedon.—Matius 24:21, 29.
Karena Armagedon adalah ”perang pada hari besar Allah Yang Mahakuasa”, manusia tidak dapat berbuat apa-apa untuk menangguhkannya. Yehuwa telah menentukan ”waktu yang ditetapkan” untuk memulai perang tersebut. ”[Itu] tidak akan terlambat.”—Habakuk 2:3.
Perang yang Adil oleh Allah yang Adil-benar
Namun, mengapa Allah melancarkan perang global? Armagedon erat kaitannya dengan salah satu sifat utama Allah, yaitu keadilan. Alkitab menyatakan, ”Yehuwa adalah pencinta keadilan.” (Mazmur 37:28) Ia telah melihat semua tindakan ketidakadilan yang dilakukan sepanjang sejarah manusia. Tentu saja ini membangkitkan ketidaksenangan-Nya yang adil-benar. Oleh karena itu, Ia telah menunjuk Putra-Nya untuk melaksanakan perang yang adil guna menyingkirkan seluruh sistem fasik ini.
Hanya Yehuwa yang bisa melaksanakan perang yang benar-benar adil dan selektif, serta menyelamatkan orang-orang yang berhati jujur, di mana pun mereka berada di bumi. (Matius 24:40, 41; Penyingkapan 7:9, 10, 13, 14) Dan, hanya Dialah yang berhak untuk menegakkan kedaulatan-Nya atas seluruh bumi, karena bumi adalah ciptaan-Nya.—Penyingkapan 4:11.
Sarana apa yang akan Yehuwa gunakan untuk melawan musuh-musuh-Nya? Kita tidak tahu. Yang kita tahu adalah bahwa Ia dapat menggunakan sarana apa pun untuk memusnahkan bangsa-bangsa yang fasik. (Ayub 38:22, 23; Zefanya 1:15-18) Namun, para penyembah Allah di bumi tidak akan ikut bertempur. Penglihatan di Penyingkapan pasal 19 menunjukkan bahwa hanya bala tentara surgawi yang akan berperang bersama Yesus Kristus. Tidak seorang pun hamba-hamba Kristen Yehuwa di bumi akan berpartisipasi.—2 Tawarikh 20:15, 17.
Allah Hikmat Memberikan Cukup Peringatan
Apakah akan ada yang selamat? Sebenarnya, tidak perlu ada orang yang binasa di Armagedon. Rasul Petrus menyatakan, ”Yehuwa . . . tidak ingin seorang pun dibinasakan tetapi ingin agar semuanya bertobat.” (2 Petrus 3:9) Dan, rasul Paulus mengatakan bahwa Allah ”menghendaki agar segala macam orang diselamatkan dan memperoleh pengetahuan yang saksama tentang kebenaran”.—1 Timotius 2:4.
Untuk itu, Yehuwa dengan bijaksana menetapkan agar ”kabar baik kerajaan” diberitakan di seluruh bumi, dalam ratusan bahasa. Orang di mana-mana diberi kesempatan untuk luput dan selamat. (Matius 24:14; Mazmur 37:34; Filipi 2:12) Mereka yang menyambut kabar baik dapat selamat dari Armagedon dan hidup selama-lamanya dalam kesempurnaan di bumi firdaus. (Yehezkiel 18:23, 32; Zefanya 2:3; Roma 10:13) Bukankah ini yang kita harapkan dari Allah yang adalah kasih?—1 Yohanes 4:8.
Mungkinkah Allah Kasih Berperang?
Namun, banyak orang bertanya-tanya mengapa Allah yang adalah perwujudan kasih membunuh dan membinasakan sebagian besar umat manusia. Situasinya dapat diumpamakan dengan rumah yang penuh tikus. Bukankah seharusnya pemilik rumah yang peduli melindungi kesehatan dan kesejahteraan keluarganya dengan memusnahkan tikus-tikus itu?
Demikian pula, karena kasih sayang Yehuwa yang besar kepada manusialah pertempuran Armagedon harus dilangsungkan. Allah memiliki maksud-tujuan untuk menjadikan bumi suatu firdaus dan mengangkat manusia ke kesempurnaan dan perdamaian, tanpa ”ada orang yang membuat mereka gemetar”. (Mikha 4:3, 4; Penyingkapan 21:4) Jadi, apa yang harus dilakukan terhadap orang-orang yang mengancam perdamaian dan keamanan sesamanya? Allah harus melenyapkan ”tikus-tikus” itu—orang fasik yang tidak dapat ditobatkan—demi orang-orang yang adil-benar.—2 Tesalonika 1:8, 9; Penyingkapan 21:8.
Banyak pertikaian dan pertumpahan darah dewasa ini disebabkan oleh pemerintahan manusia yang tidak sempurna dan upaya yang mementingkan diri demi kepentingan nasionalistis. (Pengkhotbah 8:9) Karena berupaya meluaskan pengaruhnya, pemerintahan manusia mengabaikan sepenuhnya Kerajaan Allah yang sudah berdiri. Tidak ada tanda-tanda bahwa mereka akan menyerahkan kedaulatannya kepada Allah dan Kristus. (Mazmur 2:1-9) Maka, pemerintahan semacam itu harus disingkirkan untuk membuka jalan bagi pemerintahan Kerajaan Yehuwa yang adil-benar di bawah Kristus. (Daniel 2:44) Perang Armagedon harus dilaksanakan untuk menuntaskan secara permanen sengketa tentang siapa yang berhak memerintah planet ini dan umat manusia.
Campur tangan Yehuwa yang aktif di Armagedon adalah demi kebaikan manusia. Mengingat kondisi dunia yang memburuk, hanya pemerintahan Allah yang sempurna yang akan benar-benar memenuhi kebutuhan umat manusia. Hanya melalui Kerajaan-Nya perdamaian dan kemakmuran sejati akan terwujud. Apa jadinya kondisi dunia jika Allah selamanya tidak mengambil tindakan? Tidakkah kebencian, kekerasan, dan peperangan akan terus merongrong manusia seperti yang dialami di bawah pemerintahan manusia selama berabad-abad? Pertempuran Armagedon sebenarnya akan sangat bermanfaat bagi manusia!—Lukas 18:7, 8; 2 Petrus 3:13.
Perang yang Mengakhiri Segala Perang
Armagedon akan mencapai sesuatu yang tidak pernah dicapai oleh perang lain—akhir segala perang. Siapa yang tidak mendambakan saat perang tidak ada lagi? Meski begitu, semua upaya manusia tidak berhasil mengakhiri perang. Kegagalan manusia yang berulang untuk mengakhiri perang justru menandaskan benarnya kata-kata Yeremia, ”Aku tahu benar, oh, Yehuwa, bahwa manusia tidak mempunyai kuasa untuk menentukan jalannya sendiri. Manusia, yang berjalan, tidak mempunyai kuasa untuk mengarahkan langkahnya.” (Yeremia 10:23) Mengenai apa yang akan Yehuwa capai, Alkitab berjanji, ”Ia menghentikan peperangan sampai ke ujung bumi. Busur ia patahkan dan tombak ia potong; pedati-pedati ia bakar dalam api.”—Mazmur 46:8, 9.
Sewaktu bangsa-bangsa kelak saling menggunakan senjata maut mereka dan mengancam untuk menghancurkan lingkungan, Pembuat bumi akan bertindak—di Armagedon versi Alkitab! (Penyingkapan 11:18) Karena itu, perang ini akan mewujudkan apa yang selama berabad-abad hanya dapat diharap-harapkan oleh orang-orang yang takut akan Allah. Perang itu akan membenarkan pemerintahan yang sah dari Pemilik bumi, Allah Yehuwa, atas semua ciptaan-Nya.
Jadi, Armagedon tidak perlu ditakuti oleh orang-orang yang mengasihi keadilbenaran, tetapi justru memberikan dasar untuk harapan. Perang Armagedon akan membersihkan bumi dari semua kebejatan dan kefasikan serta membuka jalan bagi sistem baru yang adil-benar di bawah pemerintahan Kerajaan Mesianik Allah. (Yesaya 11:4, 5) Armagedon bukanlah akhir tragis yang menakutkan, melainkan menandai awal yang membahagiakan bagi orang-orang adil-benar, yang akan hidup selama-lamanya dalam firdaus di bumi.—Mazmur 37:29.
Megido—Lambang yang Cocok
Megido kuno letaknya sangat strategis, menghadap bagian barat Lembah Yizreel yang subur, di Israel sebelah utara. Kota itu mengendalikan rute perdagangan internasional dan militer yang bertemu di sana. Dengan demikian, Megido menjadi tempat berbagai pertempuran yang menentukan. Profesor Graham Davies menulis dalam bukunya Cities of the Biblical World—Megiddo, ”Kota Megido . . . mudah dicapai para pedagang dan pendatang dari segala arah; tetapi pada waktu yang sama ia juga dapat, jika cukup berkuasa, mengendalikan akses tersebut melalui rute-rute ini sehingga mengendalikan perkembangan perdagangan ataupun peperangan. Tidaklah mengherankan jika kota itu . . . sering kali diperebutkan melalui pertempuran dan sewaktu ditaklukkan akan dibela mati-matian.”
Sejarah panjang Megido dimulai pada milenium kedua SM sewaktu penguasa Mesir Tutmose III mengalahkan para penguasa Kanaan di sana. Kota itu tetap ada selama berabad-abad sampai tahun 1918 sewaktu Jenderal Inggris Edmund Allenby dengan telak mengalahkan bala tentara Turki. Di Megido, Allah membuat Hakim Barak sanggup memukul hancur raja Kanaan, Yabin. (Hakim 4:12-24; 5:19, 20) Di sekitar itu, Hakim Gideon mencerai-beraikan orang Midian. (Hakim 7:1-22) Di sana juga, Raja Ahazia dan Raja Yosia terbunuh.—2 Raja 9:27; 23:29, 30.
Maka, tepatlah jika Armagedon dikaitkan dengan tempat itu, karena di situlah terjadi banyak pertempuran yang menentukan. Tempat itu menjadi lambang yang cocok bagi kemenangan Allah yang mutlak atas semua pasukan penentang-Nya.
[Keterangan]
Pictorial Archive (Near Eastern History) Est.
Salinan dari MP 1/12/05
_____________
[Catatan Kaki]
* Hendaknya diperhatikan bahwa bagian-bagian Alkitab ditulis dalam bahasa lambang, atau ”tanda-tanda”. (Penyingkapan 1:1) Oleh karena itu, kita tidak dapat bersikap dogmatis tentang sampai seberapa jauh unsur-unsur yang disebutkan dalam nubuat-nubuat ini akan digunakan secara harfiah.
