Kamis, 11 Maret 2010

Mengatasi Kesepian


MENGATASI kesepian tidak gampang. Yang terlibat di sini adalah perasaan-perasaan yang kuat. Bagaimana kita dapat mengatasi rasa kesepian? Apa yang telah dilakukan beberapa orang untuk menanggulangi perasaan yang kuat ini?

Menghadapi Kesepian
Helen* senang sendirian sewaktu hendak membuat keputusan, tetapi ia merasa bahwa kesepian bisa berbahaya. Sewaktu kecil, ia kurang berkomunikasi dengan orang tuanya. Karena tidak tahu cara mendapatkan perhatian mereka, ia mengurung diri di kamar. Ia bercerita, ”Saya mulai mengalami kelainan perilaku makan. Saya terkungkung perasaan depresi. Saya selalu berkata dalam hati, ’Buat apa saya memusingkan problem orang tua saya, toh mereka tidak pernah memusingkan problem saya?’ Kemudian saya mengira bahwa rasa kesepian ini bisa diatasi dengan perkawinan. Saya berupaya untuk kawin sebagai pelarian. Tetapi, saya kemudian berpikir, ’Kenapa saya harus menghancurkan kehidupan orang lain? Saya harus membenahi cara berpikir saya terlebih dahulu!’ Saya meminta bantuan Yehuwa dalam doa, menumpahkan segala kepedihan saya.

”Dalam Alkitab, saya menemukan kata-kata yang sangat menghibur, seperti yang terdapat di Yesaya 41:10, ’Jangan takut, karena aku menyertai engkau. Jangan melihat ke sana kemari, karena akulah Allahmu. Aku akan membentengi engkau. Aku benar-benar akan menolongmu. Aku benar-benar akan terus memegangmu erat-erat dengan tangan kanan keadilbenaranku.’ Kata-kata ini sangat membantu saya karena saya merasa seolah-olah saya tidak punya ayah. Sekarang, saya membaca Alkitab secara rutin dan sering berdoa kepada Bapak surgawi saya. Saya sekarang tahu caranya mengatasi rasa kesepian.”
Bagaimana kita
dapat mengatasi kesepian?

Ditinggal mati orang yang dikasihi menyebabkan kesedihan, yang bisa mengakibatkan kesepian. Luisa, yang berusia 16 tahun, mengungkapkan kepedihannya, ”Ayah saya dibunuh waktu saya berusia lima tahun. Saya mencoba mendapatkan penghiburan dari nenek saya, tapi saya tidak pernah merasa bahwa dia menyayangi saya. Saya tidak banyak mengecap kasih sayang semasa kecil, saat saya justru paling membutuhkannya. Antara usia delapan dan sembilan tahun, tiga kali saya mencoba bunuh diri. Saya pikir itu yang terbaik bagi keluarga saya, soalnya ibu saya harus banting tulang mencari makan untuk saya dan ketiga kakak perempuan saya. Kemudian, kami mulai bergaul dengan Saksi-Saksi Yehuwa. Sepasang suami istri muda memperlihatkan perhatian yang tulus kepada saya. Mereka selalu bilang, ’Kamu itu penting sekali bagi kami, kami membutuhkanmu.’ Kata-kata ’Kami membutuhkanmu’ sangat menguatkan saya. Kadang-kadang, saya tidak bisa mengungkapkan perasaan saya kepada orang lain, tapi sewaktu saya membaca artikel Menara Pengawal dan Sedarlah! saya mengucap syukur kepada Yehuwa, karena melalui bacaan-bacaan inilah saya merasakan kasih-Nya. Saya telah banyak berubah. Sekarang, saya bisa tersenyum dan bisa mengungkapkan rasa sedih dan senang kepada ibu saya. Sesekali saya teringat akan masa lalu, tapi tidak seperti dulu sewaktu saya mencoba bunuh diri atau tidak mau berbicara dengan orang-orang yang saya kasihi. Saya selalu mengingat kata-kata pemazmur Daud, ’Demi saudara-saudaraku dan teman-temanku, aku hendak berkata, ”Kiranya perdamaian ada padamu.”’”—Mazmur 122:8.

Martha telah bercerai selama 22 tahun, dan selama itu pula ia membesarkan anaknya. ”Rasa tidak berharga dan kesepian cenderung muncul setiap kali saya pikir saya telah gagal melakukan sesuatu,” katanya. Bagaimana ia mengatasi perasaan ini? Ia menjelaskan, ”Saya telah mendapati bahwa cara terbaik untuk menghadapinya adalah dengan langsung menceritakannya kepada Allah Yehuwa. Sewaktu saya berdoa, saya tahu saya tidak sendirian. Yehuwa memahami saya lebih baik daripada saya sendiri. Saya juga berupaya mencari cara-cara untuk memperlihatkan minat terhadap orang lain. Pelayanan sepenuh waktu saya merupakan senjata yang sangat ampuh untuk melawan perasaan-perasaan negatif. Sewaktu kita memberi tahu orang lain tentang berkat-berkat Kerajaan Allah dan menyadari para pendengar kita sama sekali tidak punya harapan dan merasa bahwa problem mereka tidak akan pernah tuntas, kita sadar bahwa kita punya alasan yang kuat untuk ingin hidup dan terus berjuang.”

Elba berusia 93 tahun dan putri tunggalnya melayani sebagai utusan injil di negeri lain. Ia memberi tahu kita cara ia melawan kesepian, ”Sewaktu putri saya dan suaminya diundang untuk mengikuti Sekolah Alkitab Gilead Menara Pengawal, saya melihat wajah mereka bersinar-sinar penuh sukacita, dan saya ikut bahagia. Belakangan, sewaktu mereka ditugasi untuk melayani di luar negeri, saya mulai merasa sedikit mementingkan diri. Saya tahu mereka tidak akan berada di dekat saya lagi, dan saya merasa sedih. Bagi saya, situasinya mirip dengan situasi Yefta dan putri tunggalnya, yang diceritakan di buku Hakim-Hakim pasal 11. Saya berdoa kepada Yehuwa sambil berlinang air mata, memohon pengampunan-Nya. Anak-anak saya tetap berkomunikasi dengan saya. Saya tahu mereka sangat sibuk, tetapi di mana pun mereka melayani, mereka selalu menyempatkan waktu untuk menyurati saya, membagikan pengalaman mereka dalam dinas lapangan. Saya membaca surat-surat mereka berulang-ulang. Seolah-olah, mereka mengobrol dengan saya setiap minggu, dan saya sangat bersyukur karenanya. Selain itu, para penatua Kristen di sidang saya cukup memperhatikan kami yang lansia dan lemah fisik, selalu memastikan bahwa ada yang mengantar kami ke perhimpunan Kristen dan menyediakan berbagai kebutuhan lain. Saya menganggap saudara-saudari rohani saya sebagai berkat dari Yehuwa.”

Anda Juga Bisa Mengatasi Kesepian
Tidak soal Anda tua atau muda, lajang atau menikah, punya orang tua atau tidak, dan tidak soal Anda ditinggal mati orang yang dikasihi atau mengalami bentuk kesepian yang lain, selalu ada cara untuk mengatasi perasaan Anda. Jocabed, seorang gadis berusia 18 tahun yang ayahnya menelantarkan ibu dan keempat saudaranya untuk pergi ke negeri lain, mengatakan, ”Jangan diam saja! Mengungkapkan perasaan kita itu penting. Jika kita tidak melakukannya, tidak seorang pun yang akan memahami kita.” Ia menyarankan, ”Jangan terlalu banyak memikirkan diri sendiri. Carilah bantuan dari orang-orang yang matang, bukan dari anak muda yang mungkin lebih buruk keadaannya daripada kita.” Luisa, yang disebutkan sebelumnya, mengatakan, ”Doa yang sepenuh hati kepada Yehuwa sangat membantu. Ia menolong kita keluar dari situasi yang sudah seperti jalan buntu.” Jorge, yang ditinggal mati istrinya, mengomentari cara ia melawan kesepian, ”Perlu kegigihan. Memperlihatkan minat terhadap orang lain sangat membantu saya. ’Memperlihatkan sikap seperasaan’ sewaktu bercakap-cakap dengan orang lain dapat membuat percakapan kita bermakna dan dapat membantu kita melihat hal-hal yang bagus dalam diri orang lain.”—1 Petrus 3:8.

Banyak hal dapat dilakukan untuk memerangi kesepian. Tetapi, apakah kesepian akan pernah berakhir? Kalau ya, bagaimana caranya? Artikel berikut akan menjawab pertanyaan ini.

________
[Catatan Kaki]
* Beberapa nama telah diganti.

Cara Anda Bisa Mengatasi Kesepian
▪ Ingatlah bahwa situasi Anda bisa diubah, bahwa itu tidak akan selamanya begitu dan orang lain mengalaminya juga. ▪ Jangan menuntut terlalu banyak dari diri sendiri. ▪ Berpuaslah dengan diri Anda secara umum. ▪ Kembangkanlah kebiasaan makan dan olahraga yang baik, dan tidurlah yang cukup. ▪ Sewaktu sendirian, lakukanlah hal-hal yang kreatif dan pelajarilah keterampilan-keterampilan baru. ▪ Berhati-hatilah untuk tidak menilai orang yang Anda temui berdasarkan pengalaman masa lalu Anda. ▪ Hargailah sahabat-sahabat Anda dan sifat mereka masing-masing. Berupayalah memiliki sahabat-sahabat yang baik. Mintalah saran dari orang-orang yang lebih tua dan berpengalaman. ▪ Lakukan sesuatu untuk orang lain—tersenyumlah pada mereka, ucapkan kata-kata yang ramah, bagikan hal-hal yang Anda dapatkan dari Alkitab. Obat yang ampuh untuk kesepian adalah merasa dibutuhkan oleh orang lain. ▪ Jangan berkhayal tentang tokoh-tokoh dalam film, televisi, Internet, atau bacaan, membayangkan seolah-olah Anda punya hubungan dengan mereka. ▪ Jika Anda sudah menikah, jangan menganggap bahwa suami atau istri Anda harus memenuhi semua kebutuhan emosi Anda. Belajarlah untuk saling memberi dan menerima, saling membantu dan mendukung. ▪ Biasakanlah untuk berbicara dengan orang lain dan menjadi pendengar yang penuh perhatian. Pusatkan perhatian pada orang lain dan apa yang mereka minati. Perlihatkan empati. ▪ Jangan menyangkal kalau Anda memang kesepian, dan bicaralah kepada sahabat yang matang, yang Anda percayai. Jangan diam-diam saja. ▪ Hindari minum minuman beralkohol secara berlebihan, atau malah tidak minum sama sekali. Alkohol tidak akan menghilangkan problem Anda—hanya membuat Anda melupakannya beberapa saat. ▪ Jangan menjaga gengsi. Maafkanlah orang yang menyakiti Anda, dan perbaikilah hubungan Anda dengannya. Jangan terlalu gampang curiga.


Saat Tak Seorang Pun Akan Merasa Kesepian Lagi
CATATAN di Kejadian 2:18 menyatakan bahwa sewaktu manusia pertama diciptakan, ”Allah Yehuwa berfirman, ’Tidak baik apabila manusia terus seorang diri. Aku akan menjadikan seorang penolong baginya, sebagai pelengkap dirinya.’” Manusia diciptakan untuk hidup bersama dengan manusia lain dan bergantung satu sama lain.

Sahabat terbaik yang dapat kita miliki adalah Allah Yehuwa. Rasul Paulus mengakui bahwa Yehuwa adalah ”Bapak belas kasihan yang lembut dan Allah segala penghiburan, yang menghibur [kita] dalam semua kesengsaraan [kita]”. (2 Korintus 1:3, 4) Yehuwa sendiri mengungkapkan kesedihan sewaktu melihat salah seorang hamba-Nya menderita. Ia adalah Allah yang berempati. ”Ia tahu benar bagaimana kita dibentuk, ia ingat bahwa kita ini debu.” (Mazmur 103:14) Tidakkah Anda merasa tertarik pada Allah Yehuwa dan bersyukur atas perhatian-Nya yang pengasih, ramah, dan penuh pengertian?

Yehuwa Menopang Orang yang Kesepian
Di masa lalu, banyak hamba Allah mengalami situasi yang membuat mereka kesepian. Bagi mereka, Yehuwa adalah sumber dukungan dan penghiburan. Misalnya, perhatikan Yeremia, yang dipanggil untuk menjadi nabi sewaktu masih muda. Di antara ke-40 penulis Alkitab, mungkin Yeremia-lah yang paling banyak mengungkapkan perasaan pribadinya. Ia merasa kecut dan tidak pantas menerima tugas pertamanya dari Allah. (Yeremia 1:6) Untuk menjalankan tugas itu, ia harus bersandar sepenuhnya pada Yehuwa. Benar saja, Yehuwa menyertainya ”seperti orang yang sangat perkasa”.—Yeremia 1:18, 19; 20:11.

Sekitar 300 tahun sebelum Yeremia, Ratu Izebel bersumpah untuk membunuh Elia ketika ia mendengar kematian nabi-nabi Baalnya. Elia kabur sejauh 450 kilometer ke Horeb di Semenanjung Sinai. Di sana, ketika sedang bermalam di sebuah gua, Allah Yehuwa bertanya kepadanya, ”Apa urusanmu di sini, Elia?” Elia menjelaskan bahwa ia merasa hanya dialah penyembah Yehuwa di seluruh Israel, satu-satunya nabi yang masih hidup yang bergairah untuk melayani Allah. Yehuwa meyakinkannya bahwa ia tidak sendirian. Yehuwa menyertainya, dan 7.000 rekan sebangsa Elia juga menyertai dia, meski ia tidak mengetahuinya. Yehuwa menghibur dan melegakan Elia dan membangun imannya. Ia menyentuh hati Elia, menyemangati sang nabi agar tidak menyerah dalam tugasnya. (1 Raja 19:4, 9-12, 15-18) Jika, seperti Elia, kita pernah merasa kesepian atau tidak berharga, kita juga dapat berdoa memohon kekuatan kepada Yehuwa. Selain itu, dengan menggunakan daya pengamatan, para penatua Kristen dapat memberikan kata-kata penghiburan kepada saudara-saudari yang setia, membantu mereka melihat peranan mereka dalam mewujudkan maksud-tujuan Allah.—1 Tesalonika 5:14.

Dari contoh di atas maupun contoh lainnya, kita dapat merasa bahwa Yehuwa bersedia memberikan dukungan dan penghiburan yang pengasih kepada orang yang kesepian. Ya, ”Yehuwa akan menjadi tempat tinggi yang aman bagi siapa pun yang remuk, tempat tinggi yang aman pada masa kesesakan.”—Mazmur 9:9; 46:1; Nahum 1:7.

Pria dengan Perasaan yang Dalam dan Bersimpati

Apa yang diajarkan oleh kisah
Alkitab tentang Yeremia dan Elia?

Yesus Kristus adalah teladan yang mengagumkan karena perasaan-perasaannya yang begitu seimbang, seperti Yehuwa. Lukas melukiskan reaksi Yesus sewaktu berpapasan dengan arak-arakan ke pemakaman di kota Nain, ”Ada orang mati diusung ke luar, putra satu-satunya yang diperanakkan ibunya. . . . Ketika dia terlihat oleh Tuan, ia tergerak oleh rasa kasihan kepadanya, dan ia mengatakan kepadanya, ’Berhentilah menangis.’ Kemudian ia menghampiri dan menyentuh keranda, dan para pengusung berhenti, dan ia mengatakan, ’Pria muda, aku mengatakan kepadamu: Bangunlah!’ Dan orang mati itu pun bangun lalu duduk dan mulai berbicara, dan ia menyerahkannya kepada ibunya.” (Lukas 7:12-15) Perasan Yesus tergugah. Ia orang yang beriba hati. Bayangkan alangkah bahagianya sang janda yang kesepian ini ketika Yesus membangkitkan putranya! Ia tidak kesepian lagi.

Kita dapat merasa yakin bahwa Yesus bisa ”bersimpati terhadap kelemahan-kelemahan kita”. Ia pasti bersimpati terhadap orang-orang lurus hati yang kesepian. Sesungguhnya, melalui Yesus, ”kita memperoleh belas kasihan dan menemukan kebaikan hati yang tidak selayaknya diperoleh untuk mendapat pertolongan pada waktu yang tepat”. (Ibrani 4:15, 16) Dengan meniru Yesus, kita dapat mengembangkan simpati terhadap orang-orang yang sedang dilanda kesedihan, kesengsaraan, dan kesepian. Dengan membantu orang lain, rasa kesepian kita akan berkurang. Tetapi, masih ada cara lain yang akan membantu kita mengatasi perasaan kesepian yang negatif.

Firman Yehuwa Dapat Membantu Kita Mengatasi Kesepian
Banyak orang mendapati bahwa ”melalui penghiburan dari Tulisan-Tulisan Kudus, kita mempunyai harapan”. Firman Allah sarat dengan nasihat praktis yang dapat membantu kita mengatasi kesepian. (Roma 15:4; Mazmur 32:8) Misalnya, Firman Allah mendesak kita ’agar tidak berpikir bahwa diri kita lebih tinggi daripada yang semestinya’. (Roma 12:3) Guna menerapkan nasihat ini, kita mungkin perlu menyesuaikan cara kita berpikir. Kerendahan hati dan kesahajaan—memiliki pandangan yang realistis tentang keterbatasan kita—pasti akan membantu kita memupuk harapan yang seimbang dan masuk akal. Firman Allah juga menasihati kita untuk mengembangkan minat yang tulus terhadap orang lain. (Filipi 2:4) Ini bagaikan jalan dua arah. Seraya Anda memberi diri, Anda akan menerima dari orang lain. Kemitraan yang bagus ini turut mengusir perasaan hampa dan membuat kehidupan kita bermakna.

Alkitab menganjurkan kita orang Kristen untuk ”tidak mengabaikan pertemuan kita”. (Ibrani 10:24, 25) Jadi, ikutilah kegiatan-kegiatan yang positif, seperti menghadiri perhimpunan Saksi-Saksi Yehuwa secara teratur. Perhimpunan Kristen pasti dapat meningkatkan kesejahteraan rohani, emosi, dan fisik kita. Berbicara kepada orang lain tentang kabar baik Kerajaan Allah merupakan cara yang menyenangkan untuk mengisi kehidupan kita dengan kegiatan yang sehat. Itu membuat pikiran kita tetap terpusat ke arah yang benar, membentengi iman kita, melindungi harapan kita.—Efesus 6:14-17.

Mendekatlah kepada Yehuwa melalui doa. Daud mendesak, ”Lemparkanlah bebanmu kepada Yehuwa, dan ia sendiri akan mendukungmu.” (Mazmur 55:22) Dengan mempelajari Firman Allah, Anda akan berbahagia. (Mazmur 1:1-3) Jika Anda diliputi rasa kesepian, renungkanlah tentang kepedulian Yehuwa yang pengasih sebagaimana disingkapkan lewat Firman-Nya. Sang pemazmur menulis, ”Jiwaku melekat pada debu. Peliharalah aku tetap hidup sesuai dengan firmanmu.”—Mazmur 119:25.

Saat Tak Seorang Pun Akan Berkata ”Saya Kesepian”
Allah Yehuwa telah menjanjikan kita suatu dunia baru yang bebas dari kekhawatiran, frustrasi, dan berbagai perasaan negatif. Alkitab menyatakan, ”Ia akan menghapus segala air mata dari mata mereka, dan kematian tidak akan ada lagi, juga tidak akan ada lagi perkabungan atau jeritan atau rasa sakit. Perkara-perkara yang terdahulu telah berlalu.” (Penyingkapan [Wahyu] 21:4) Ya, perkara terdahulu yang akan berlalu itu di antaranya adalah penderitaan fisik, mental, dan emosi yang kita alami sekarang.

Bumi akan dipenuhi oleh orang-orang yang bersahabat, yang akan memperkaya kehidupan kita. Yehuwa, melalui Kerajaan surgawi-Nya yang diperintah oleh Yesus Kristus, akan menyembuhkan rasa kesepian kita untuk selama-lamanya. Ia akan memberi kita hal-hal yang baru dan yang menakjubkan untuk kita lakukan dalam bumi firdaus. Tidak lama lagi, akan tiba harinya manakala kita tidak bakal pernah lagi mengatakan, ”Saya kesepian.”
Appeared in Awake! June 8, 2004