RECONCILING Science and Religion | |||||||
|
|
|
Menjelaskan Mengapa Dalam menjawab pertanyaan mengapa dan dalam menjelaskan tentang tujuan kehidupan, agama yang benar juga menyediakan berbagai standar norma, moral, dan etika serta bimbingan hidup. Ilmuwan Allan Sandage menyatakannya seperti ini, ”Saya tidak membuka buku biologi untuk belajar caranya hidup.” Jutaan orang di seputar bumi merasa bahwa mereka telah menemukan jalan untuk belajar caranya hidup. Mereka juga merasa bahwa mereka telah menemukan berbagai jawaban yang benar-benar memuaskan tentang pertanyaan: Mengapa kita ada di sini? Dan, ke mana kita akan pergi? Jawabannya ada. Tetapi, di mana? Dalam naskah suci yang tertua dan yang terluas didistribusikan, Alkitab. Alkitab memberi tahu kita bahwa Allah mempersiapkan bumi khusus untuk manusia. Yesaya 45:18 mengatakan tentang bumi ini, ”Allah . . . tidak menciptakannya dengan percuma [tetapi] membentuknya untuk didiami.” Dan, Ia mempersiapkan bumi dengan segala sesuatu yang akan dibutuhkan manusia, bukan hanya untuk ada melainkan juga untuk menikmati kehidupan sepenuhnya. Manusia diberi pekerjaan untuk ’menggarap dan mengurus’ bumi. (Kejadian 2:15) Alkitab juga menjelaskan bahwa pengetahuan dan hikmat adalah karunia dari Allah dan bahwa kita harus mempraktekkan kasih dan keadilan terhadap satu sama lain. (Ayub 28:20, 25, 27; Daniel 2:20-23) Dengan demikian, manusia dapat menemukan tujuan dan makna dalam kehidupan hanya jika mereka menemukan dan menyambut maksud-tujuan Allah bagi mereka. Bagaimana seorang pemikir modern dapat menjembatani jurang antara penalaran ilmiah dan kepercayaan religius? Apa saja prinsip pembimbing yang dapat membantu seseorang untuk mencapainya? Apa Kata Beberapa Ilmuwan Beberapa orang berasumsi bahwa kebanyakan ilmuwan tidak menyukai masalah kerohanian dan teologi karena mereka tidak religius atau tidak mau melibatkan diri dengan debat sains lawan agama. Beberapa ilmuwan memang demikian, tetapi tidak semuanya. Perhatikan apa kata beberapa ilmuwan berikut ini. ”Alam semesta memiliki permulaan tetapi apa yang tidak dapat dijelaskan oleh para ilmuwan adalah mengapa. Jawabannya adalah Allah.” ”Saya melihat Alkitab sebagai buku kebenaran dan diilhamkan Allah. Pastilah ada suatu kecerdasan di balik kompleksitas kehidupan ini.”—Ken Tanaka, geolog benda angkasa dari Survei Geologi AS. ”Jurang pemisah antara berbagai macam pengetahuan (ilmiah maupun religius) sepertinya dibuat sendiri oleh manusia. . . . Pengetahuan tentang Pencipta dan pengetahuan tentang penciptaan sangat erat hubungannya.”—Enrique Hernández, peneliti dan profesor di Fakultas Fisika dan Kimia Teoretis, National Autonomous University of Mexico. ”Seraya kita mengembangkan semua informasi ini [tentang genom manusia], hal itu akan menyingkapkan kompleksitas dan saling kebergantungan semua materi ini. Hal itu akan mengarah ke asal mula yang dihasilkan oleh suatu pencipta yang cerdas, suatu pribadi yang cerdas.”—Duane T. Gish, pakar biokimia. ”Tidak ada ketidakselarasan antara sains dan agama. Keduanya mencari kebenaran yang sama. Sains memperlihatkan bahwa Allah itu ada.”—D.H.R. Barton, profesor kimia, Texas. |
| ||||
Science has discovered a world full of distinctive marks of intelligent design Sains telah menemukan suatu dunia yang dipenuhi ciri khas adanya rancangan yang cerdas
Yang tidak Dapat Dijelaskan oleh Sains: Apakah Bencana Alam Hukuman dari Allah.
|
| Pencarian Tanpa Akhir
Terimalah batasan-batasannya: Tidak ada akhir dalam pencarian kita akan jawaban-jawaban tentang alam semesta, ruang, dan waktu yang tidak berbatas. Biolog Lewis Thomas berkomentar, ”Tidak akan ada akhir bagi proses ini, karena kita adalah makhluk dengan rasa ingin tahu yang tak pernah terpuaskan sehingga kita akan terus mengeksplorasi, mencari, dan berupaya memahami segala sesuatu. Kita tidak akan pernah dapat menyelesaikannya. Saya tidak dapat membayangkan ada suatu titik akhir manakala setiap orang akan menghela napas lega dan berkata, ’Sekarang kita sudah mengerti semuanya.’ Hal itu senantiasa berada di luar kesanggupan pemahaman kita.” Demikian pula, sehubungan dengan kebenaran agama, pencariannya juga tanpa akhir. Salah seorang penulis Alkitab, Paulus, menyatakan, ”Sekarang kita hanya melihat bayangan yang membingungkan di cermin . . . Pengetahuan saya sekarang hanya sebagian.”—1 Korintus 13:12, The New English Bible. Akan tetapi, sebagian pengetahuan berkenaan dengan pertanyaan-pertanyaan sains maupun agama tidak mencegah kita untuk menarik kesimpulan yang masuk akal berdasarkan fakta-fakta yang kita miliki. Kita tidak memerlukan pengetahuan yang mendetail tentang asal mula matahari untuk yakin sepenuhnya bahwa matahari akan terbit besok. Biarlah fakta-fakta yang berbicara: Dalam mencari jawaban, kita perlu dibimbing oleh prinsip yang sehat. Jika kita tidak berpaut pada standar bukti yang terluhur, kita akan dengan mudah disimpangkan dalam pencarian kita untuk kebenaran ilmiah dan agama. Secara realistis, tidak seorang pun yang akan dapat mengevaluasi semua pengetahuan dan gagasan ilmiah, yang dewasa ini memenuhi perpustakaan-perpustakaan besar. Di pihak lain, Alkitab menyediakan koleksi ajaran rohani yang dapat diriset dan dievaluasi dengan mudah. Alkitab didukung penuh oleh fakta-fakta. Akan tetapi, terhadap pengetahuan secara umum, upaya yang sungguh-sungguh dibutuhkan untuk membedakan antara fakta dan spekulasi, antara kenyataan dan tipu daya—dalam sains maupun agama. Sebagaimana dinasihatkan penulis Alkitab, Paulus, kita perlu menolak ”pertentangan-pertentangan tentang apa yang secara salah disebut ’pengetahuan’”. (1 Timotius 6:20) Untuk merukunkan sains dengan Alkitab, kita harus membiarkan fakta berbicara sendiri, sehingga kita dapat menghindari rekaan serta spekulasi, dan memeriksa bagaimana setiap fakta saling mendukung dan melengkapi. Misalnya, sewaktu kita memahami bahwa Alkitab menggunakan istilah ”hari” untuk memaksudkan berbagai periode waktu, kita melihat bahwa kisah enam hari penciptaan dalam Kejadian tidak bertentangan dengan kesimpulan ilmiah yang mengatakan bahwa bumi berumur sekitar empat setengah miliar tahun. Menurut Alkitab, sebelum hari penciptaan dimulai, bumi sudah ada selama periode yang tidak disebutkan. (Lihat ”Hari Penciptaan—Masing-Masing 24 Jam?”) Bahkan seandainya sains mengoreksi dirinya sendiri sehubungan dengan usia planet kita ini, pernyataan-pernyataan yang ada dalam Alkitab tetap benar. Bukannya bertentangan dengan Alkitab, sains dalam kasus ini maupun dalam kasus-kasus lainnya justru menyediakan banyak sekali informasi tambahan tentang dunia fisik, baik yang sekarang maupun yang di masa lalu.
Iman, bukan asal percaya: Alkitab menyediakan pengetahuan tentang Allah dan maksud-tujuan-Nya yang tidak dapat diperoleh dari sumber lain mana pun. Mengapa kita harus mempercayainya? Alkitab sendiri mengundang kita untuk menguji keakuratannya. Periksalah autentisitas sejarahnya, kepraktisannya, keterusterangan para penulisnya, dan integritasnya. Dengan menyelidiki keakuratan Alkitab, termasuk berbagai pernyataan yang berkaitan dengan prinsip ilmiah dan, yang lebih meyakinkan lagi, penggenapan yang selalu akurat dari ratusan nubuat sepanjang masa hingga zaman kita, seseorang dapat memperoleh iman yang teguh akan Alkitab sebagai Firman Allah. Iman akan Alkitab bukanlah sikap asal percaya, melainkan keyakinan yang terbukti pada keakuratan pernyataan Alkitab. Merespek sains; mengakui kepercayaan: Saksi-Saksi Yehuwa mengundang orang-orang yang berpikiran terbuka, baik yang ilmiah maupun yang religius, untuk bersama-sama mengadakan pencarian yang sungguh-sungguh akan kebenaran dalam kedua bidang tersebut. Dalam jemaat mereka, Saksi-Saksi memupuk respek yang sehat terhadap sains serta penemuan-penemuannya yang telah terbukti serta kepercayaan yang mendasar bahwa kebenaran agama hanya dapat ditemukan dalam Alkitab, yang dengan jelas dan dengan bukti yang berlimpah menyatakan diri sebagai Firman Allah. Rasul Paulus menyatakan, ”Pada waktu kamu menerima firman Allah, yang kamu dengar dari kami, kamu tidak menerima itu sebagai perkataan manusia, tetapi, sebagaimana itu sesungguhnya, yaitu sebagai perkataan Allah.”—1 Tesalonika 2:13. Tentu saja, sebagaimana halnya sains, kepalsuan dan praktek yang merusak telah menyusupi agama. Oleh karena itu, ada agama yang benar dan ada yang palsu. Itulah sebabnya mengapa banyak orang telah meninggalkan agama-agama utama yang terorganisasi dan menjadi anggota sidang Kristen Saksi-Saksi Yehuwa. Mereka telah dikecewakan oleh agama mereka yang enggan menolak tradisi dan mitos manusia agar dapat menemukan atau menyingkapkan kebenaran. Selain itu, orang-orang Kristen sejati menemukan makna dan tujuan hidup yang sejati, yang didasarkan pada pengetahuan yang dalam tentang sang Pencipta, sebagaimana yang disingkapkan Alkitab, dan tentang pernyataan maksud-tujuan-Nya bagi umat manusia dan planet tempat kita tinggal ini. Saksi-Saksi Yehuwa telah dipuaskan oleh jawaban-jawaban yang masuk akal dan berdasarkan Alkitab atas berbagai pertanyaan seperti: Mengapa kita ada di sini? Ke mana kita pergi? Mereka senang sekali membagikan pemahaman ini kepada Anda.
Ant Nebula (Menzel 3), from Hubble Space Telescope: NASA, ESA and The Hubble Heritage Team (STScI/AURA) |
| ||||
|
| |||||||
Appeared (on line) in Awake! June 8, 2002 |
Home | Beliefs | Future | Medical | Topics | Contact Us | Publications | Languages | Search | Index
Copyright © 2010 from Watch Tower Bible and Tract Society of Pennsylvania. All rights reserved.
