Sabtu, 02 Oktober 2010

Kebahagiaan Sejati—Bagaimana Memperolehnya?

KIRA-KIRA dua ribu tahun yang lalu, Yesus Kristus mengajarkan jalan hidup yang sangat berbeda, yang menyegarkan dan mengurangi stres. Ajarannya berpusat pada kebenaran yang sederhana namun bermakna dalam. ”Berbahagialah,” katanya, ”mereka yang sadar akan kebutuhan rohani mereka.” (Matius 5:3) Ya, Yesus menganjurkan para pendengarnya untuk berfokus pada kebutuhan terbesar manusia—kebenaran rohani tentang Pencipta kita dan maksud-tujuan-Nya bagi kita.


Resep untuk Kebahagiaan Sejati

RESEP yang bagus dan koki yang mahir menghasilkan makanan yang lezat! Bisa dikatakan, halnya serupa dengan kebahagiaan. Kebahagiaan dihasilkan bukan dari satu faktor saja, melainkan kombinasi dari banyak hal dalam kehidupan, antara lain pekerjaan, rekreasi, waktu bersama keluarga serta sahabat, dan kegiatan rohani. Tetapi, ada juga faktor yang lebih tidak kentara, misalnya sikap, keinginan, dan tujuan hidup. [Keterangan Gambar]: Resep yang bagus jika diikuti menghasilkan makanan yang lezat, bimbingan Allah pun jika diikuti menghasilkan kebahagiaan

Syukurlah, kita tidak perlu mencari-cari sendiri resep untuk kebahagiaan sejati. Mengapa? Karena sang Pencipta telah memberi kita sebuah buku petunjuk yang sangat bagus, yakni Alkitab, yang kini tersedia, lengkap atau sebagian, dalam 2.377 bahasa dan dialek—jauh lebih banyak daripada bacaan mana pun di dunia!

Peredarannya yang mengagumkan ini menunjukkan bahwa Allah ingin agar semua orang memperoleh kebahagiaan dan kesejahteraan rohani. (Kisah 10:34, 35; 17:26, 27) Allah berfirman, ”Aku . . . adalah . . . Pribadi yang mengajarkan hal-hal yang bermanfaat bagimu.” Jika kita mematuhi perintah-perintah-Nya, Ia menjanjikan kita ketenteraman dan kedamaian, ”seperti sungai”.—Yesaya 48:17, 18.

Janji itu mengingatkan kita akan kata-kata Yesus yang dikutip di artikel sebelumnya, ”Berbahagialah mereka yang sadar akan kebutuhan rohani mereka.” (Matius 5:3) Kerohanian yang disebutkan dalam ayat ini bukanlah kesalehan yang hanya tampak di luar. Sebaliknya, kerohanian ini mempengaruhi seluruh hidup kita, mencerminkan kesediaan kita untuk mendengarkan dan diajar oleh Allah, karena kita sadar bahwa Ia mengenal diri kita lebih baik daripada kita sendiri. ”Yang paling meyakinkan saya bahwa Alkitab berasal dari Allah,” kata Errol, yang telah mempelajari Alkitab selama lebih dari 50 tahun, ”adalah bahwa jika ajaran-ajarannya diterapkan, pasti berhasil!” Sebagai contoh, pertimbangkan nasihat bagus dari Alkitab tentang upaya mengejar kekayaan dan kesenangan.


Bimbingan yang Bijaksana tentang Uang

Bahkan jika seseorang berkelimpahan,” kata Yesus, ”kehidupannya bukanlah hasil dari perkara-perkara yang ia miliki.” (Lukas 12:15) Ya, nilai Anda yang sesungguhnya sebagai pribadi, khususnya di mata Allah, tidak ada kaitannya dengan banyaknya uang Anda di bank. Malahan, upaya mengejar kekayaan sering menambah kekhawatiran, yang menggerogoti sukacita dan mencuri waktu Anda dari kegiatan yang lebih penting.—Markus 10:25; 1 Timotius 6:10.

Menurut Richard Ryan, seorang profesor bidang psikologi di Amerika Serikat, semakin orang mencari kepuasan dari hal-hal materi, semakin ia tidak menemukannya. Penulis Alkitab, Salomo, menyatakannya demikian, ”Siapa mencintai uang tidak akan puas dengan uang, dan siapa mencintai kekayaan tidak akan puas dengan penghasilannya.” (Pengkhotbah 5:9, Terjemahan Baru) Hal ini bisa diibaratkan dengan kulit yang gatal akibat gigitan nyamuk—semakin digaruk malah semakin gatal, sampai akhirnya terluka.

Alkitab menganjurkan kita untuk bekerja keras dan menikmati hasil jerih lelah kita. (Pengkhotbah 3:12, 13) Hal ini selanjutnya meningkatkan harga diri kita—unsur penting lain untuk kebahagiaan. Kita pun bisa menikmati beberapa jenis kesenangan yang sehat dalam hidup ini. Akan tetapi, ada bedanya antara menikmati hal-hal baik yang dapat tersedia dengan uang dan menjadikan upaya mengejar kekayaan sebagai fokus hidup kita.


Pandangan yang Sepatutnya mengenai Kesenangan

Penghargaan akan hal-hal rohani membantu kita memperoleh manfaat terbesar dari rekreasi, hiburan, dan bentuk kesenangan lainnya. Yesus menikmati suasana menyenangkan saat terhidang juga makanan dan minuman. (Lukas 5:29; Yohanes 2:1-10) Tetapi, hal-hal itu sama sekali bukan sumber utama sukacita dalam kehidupannya. Sebaliknya, ia mendapatkan kesenangan terbesar dengan mengejar hal-hal rohani, misalnya membantu orang lain belajar tentang Allah dan maksud-tujuan-Nya bagi umat manusia.—Yohanes 4:34.

Raja Salomo mencoba berbagai jenis kesenangan untuk melihat apakah itu memang menghasilkan kebahagiaan. ”Aku akan mencemplungkan diri ke dalam kesenangan dan bersukaria,” katanya. Raja yang kaya ini tidak ragu-ragu atau takut-takut mencoba berbagai kesenangan, tetapi ia seolah-olah menceburkan diri ke dalamnya! Namun, bagaimana perasaannya setelah itu? ”Ini pun hampa,” tulisnya.—Pengkhotbah 2:1, New English Bible.

Hampa dan tidak puas—begitulah biasanya perasaan para pencari kesenangan. Bahkan, sewaktu para peneliti membandingkan upaya mengejar kesenangan dengan hal-hal seperti pekerjaan yang memuaskan, kegiatan rohani, dan pergaulan bersama keluarga, ternyata pengejaran kesenangan tergolong sebagai faktor yang paling tidak mempengaruhi kebahagiaan seutuhnya dari para subjek penelitian mereka.


Hendaklah Murah Hati dan Suka Berterima Kasih

Orang yang bahagia itu tidak egois, tetapi cenderung murah hati dan memedulikan orang lain. ”Lebih bahagia memberi daripada menerima,” kata Yesus. (Kisah 20:35) Selain memberikan hal-hal materi, kita dapat memberikan waktu dan energi kita, yang justru lebih dihargai, khususnya dalam keluarga. Suami dan istri perlu menggunakan waktu bersama-sama untuk menjaga perkawinan mereka tetap kuat serta bahagia, dan orang tua perlu meluangkan banyak waktu untuk anak-anak mereka, berbicara dengan mereka, memperlihatkan kasih sayang kepada mereka, dan mengajar mereka. Apabila para anggota keluarga memberi dengan cara demikian, mereka akan bertumbuh sejahtera dan rumah mereka akan menjadi sumber kebahagiaan.

Sebaliknya, sewaktu Anda menerima sesuatu dari orang lain—entah waktu, energi, atau hal lain—apakah Anda ’menyatakan rasa syukur’? (Kolose 3:15) Dengan menerapkan ayat itu, hubungan kita dengan orang lain akan menjadi jauh lebih baik dan kita pun akan jauh lebih bersukacita. Sewaktu seseorang mengungkapkan rasa terima kasihnya yang tulus kepada Anda, tidakkah hati Anda senang?

Dengan menyatakan rasa syukur, kita juga akan semakin menyadari hal-hal baik yang terjadi pada diri kita. Dalam sebuah percobaan yang saksama, seorang peneliti di University of California di Riverside, AS, meminta subjeknya membuat ”jurnal terima kasih”—buku harian untuk mencatat hal-hal yang mereka syukuri. Tidaklah mengherankan bahwa dalam jangka waktu enam minggu, para subjek tampak jauh lebih berbahagia.

Hikmahnya? Tidak soal situasi Anda, belajarlah untuk mensyukuri berkat-berkat yang Anda terima. Sebenarnya, itulah yang Alkitab anjurkan, ”Bersukacitalah selalu. . . . Dalam segala hal, ucapkanlah syukur.” (1 Tesalonika 5:16, 18) Tentu saja, itu berarti kita perlu membuat upaya khusus untuk mengingat-ingat hal-hal baik yang kita alami. Cobalah jadikan itu tujuan pribadi Anda.


Kasih dan Harapan—Unsur Penting Kebahagiaan

Benarlah jika dikatakan bahwa dari buaian hingga liang kubur, manusia membutuhkan kasih. Tanpa kasih, manusia akan merana. Tetapi, apa sebenarnya kasih itu? Alkitab menggambarkannya dengan indah, ”Kasih itu panjang sabar dan baik hati,” katanya. ”Kasih tidak cemburu, tidak membual, tidak menjadi besar kepala, tidak berlaku tidak sopan, tidak memperhatikan kepentingan diri sendiri, tidak terpancing menjadi marah. Kasih tidak mencatat kerugian. Kasih tidak bersukacita karena ketidakadilbenaran, tetapi bersukacita karena kebenaran. Kasih menanggung segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mempunyai harapan akan segala sesuatu, bertekun menanggung segala sesuatu.”—1 Korintus 13:4-7.

Kasih sejati benar-benar tidak mementingkan diri! Karena ”tidak memperhatikan kepentingan diri sendiri”, kasih sejati mendahulukan kebahagiaan orang lain di atas kepentingan pribadi. Sayangnya, kasih demikian sudah semakin langka. Bahkan, dalam nubuat besarnya tentang akhir sistem sekarang ini, Yesus mengatakan bahwa ”kasih kebanyakan orang akan mendingin”.—Matius 24:3, 12; 2 Timotius 3:1-5.

Namun, situasi ini tidak akan berlangsung selamanya, karena hal itu merupakan penghinaan terhadap sang Pencipta, yang justru adalah personifikasi kasih! (1 Yohanes 4:8) Tidak lama lagi, Allah akan menyingkirkan semua orang yang dipenuhi kebencian atau yang dikuasai ketamakan. Ia hanya akan menyelamatkan orang-orang yang berupaya memperkembangkan kasih yang digambarkan di atas. Sebagai hasilnya, kedamaian dan kebahagiaan akan meliputi seluruh bumi. Janji Alkitab pasti ditepati, ”Hanya sedikit waktu lagi, orang fasik tidak akan ada lagi; dan engkau pasti akan memperhatikan tempatnya, dan ia tidak akan ada. Tetapi orang-orang yang lembut hati akan memiliki bumi, dan mereka akan benar-benar mendapatkan kesenangan yang besar atas limpahnya kedamaian.”—Mazmur 37:10, 11.

Bayangkan seandainya hari demi hari diwarnai dengan ”kesenangan yang besar”! Tidaklah mengherankan jika Alkitab mengatakan, ”Bersukacitalah dalam harapan.” (Roma 12:12) Inginkah Anda tahu lebih banyak tentang harapan menakjubkan yang Allah ulurkan kepada umat manusia yang taat? Silakan baca artikel berikutnya. [Keterangan gambar]: ”Lebih bahagia memberi daripada menerima.”—Kisah 20:35

Bersukacitalah dalam Harapan

JOE sedang sakit parah akibat kanker ganas. Istrinya, Kirsten, dan beberapa sahabat tengah mengobrol dekat tempat tidurnya. Ketika memandang suaminya, Kirsten memperhatikan ada air mata mengalir di pipinya. Pada mulanya, ia mengira Joe sedang kesakitan. Mungkin saja, tetapi Joe mengatakan kepada istrinya bahwa kali itu ia menangis bukan karena rasa sakit.

Di saat-saat sulit seperti ini,” kata Kirsten, ”Joe dikelilingi oleh sahabat-sahabat karib yang datang untuk menemaninya. Selain itu, ia sekarang lebih yakin daripada yang sudah-sudah bahwa harapannya yang berharga akan terwujud, dan ia tahu tidak ada yang bisa merampas harapan itu darinya. Ia mengungkapkan bahwa air matanya itu sesungguhnya adalah air mata sukacita. Malam itu, Joe meninggal dunia.”

Harapan apa yang menguatkan Joe ketika penyakitnya semakin parah? Itu adalah janji Allah Yehuwa tentang kehidupan abadi dengan kesehatan yang sempurna dalam firdaus di bumi. (Mazmur 37:10, 11, 29) Penyingkapan (Wahyu) 21:3, 4 mengatakan, ”Kemah Allah ada di tengah-tengah umat manusia . . . Ia akan menghapus segala air mata dari mata mereka, dan kematian tidak akan ada lagi, juga tidak akan ada lagi perkabungan atau jeritan atau rasa sakit. Perkara-perkara yang terdahulu [termasuk banyak problem dewasa ini] telah berlalu.”


Harapan bahkan bagi Orang Mati

Bagi Joe, perwujudan harapannya akan berarti kebangkitan dari liang kubur. Ya, ia terhibur dengan janji Yesus bahwa ”semua orang yang di dalam makam peringatan”—orang mati yang ada dalam ingatan Allah—akan dibangunkan dari tidur dalam kematian. (Yohanes 5:28, 29) Apakah Anda sedang berduka karena kematian seorang anggota keluarga atau sahabat? Jika demikian, harapan kebangkitan bisa menjadi pelipur lara Anda juga. Memang, harapan ini tidak menghilangkan dukacita yang kita rasakan sewaktu orang yang tercinta meninggal. Yesus sendiri ”meneteskan air mata” sewaktu sahabatnya, Lazarus, meninggal dunia. Tetapi, harapan dapat meringankan kepedihan kita.—Yohanes 11:14, 34, 35; 1 Tesalonika 4:13.

Ketika Joe meninggal akibat kanker,” kata Kirsten, ”rasanya saya tidak akan pernah bisa benar-benar bahagia lagi. Sampai sekarang pun, setelah bertahun-tahun, saya sadar bahwa hidup saya dalam sistem ini tidak akan pernah sama. Kehampaan yang ditinggalkan Joe tidak akan dapat terisi lagi. Tetapi, sejujurnya dapat dikatakan bahwa saya telah memiliki lagi kedamaian pikiran dan kepuasan batin.”

Komentar Kirsten mengingatkan kita bahwa dalam sistem sekarang, kita tidak bisa berharap untuk selalu meluap-luap dengan kebahagiaan setiap saat. Hidup ini ada pasang surutnya. Dan, ada saatnya kita seharusnya bersedih, saat kita sama sekali tidak patut bergembira. (Pengkhotbah 3:1, 4; 7:2-4) Selain itu, di antara kita mungkin ada yang sedang memerangi depresi, yang bisa disebabkan oleh berbagai alasan. Meskipun demikian, janji-janji Alkitab merupakan sumber penghiburan besar, dan hikmat yang tak tertandingi yang terdapat dalam Alkitab bisa membantu kita menghindari banyak jerat yang mengakibatkan ketidakbahagiaan. ”Tetapi orang yang mendengarkan aku,” Allah berfirman, ”ia akan berdiam dengan aman dan tidak terganggu oleh kegentaran terhadap malapetaka.”—Amsal 1:33.

Ya, Yehuwa sangat peduli akan kesejahteraan kita. Ia ingin agar kita bahagia—bukan yang tampak di luar melainkan sampai jauh ke lubuk hati, dan tidak saja untuk beberapa tahun yang singkat tetapi untuk selama-lamanya! Karena itulah Putra-Nya membuat pernyataan yang tak lekang dimakan waktu ini, ”Berbahagialah mereka yang sadar akan kebutuhan rohani mereka.” (Matius 5:3) Sungguh langkah yang bijaksana jika kita menerapkan kata-katanya itu!


The Bible-based hope of life in a new world is a source of great comfort
Harapan berdasarkan Alkitab untuk hidup dalam dunia baru adalah sumber penghiburan besar.
Older people meditating upon God's promised paradise

Sembilan Bahan Kebahagiaan

1. Memperkembangkan penghargaan akan hal-hal rohani.Matius 5:3.

2. Merasa puas dan menghindari ”cinta akan uang”.1 Timotius 6:6-10.

3. Memiliki pandangan yang sepatutnya mengenai kesenangan.2 Timotius 3:1, 4.

4. Murah hati dan mengupayakan kebahagiaan orang lain.Kisah 20:35.

5. Suka berterima kasih dan mensyukuri berkat-berkat yang Anda terima.Kolose 3:15.

6. Memiliki sifat suka mengampuni.Matius 6:14.

7. Bijaksana memilih teman.Amsal 13:20.

8. Menjaga kesehatan Anda dan membuang kebiasaan yang buruk.2 Korintus 7:1.

9. ’Bersukacita dalam harapan’ yang diuraikan Alkitab bagi Anda.Roma 12:12.


Copyright © 2010 from Watch Tower Bible and Tract Society of Pennsylvania. All rights reserved. Appeared (an official web site on line) in Awake! April 2006

Arsip Blog